SURABAYA – Bagi umat Hindu, perayaan Diwali menjadi salah satu yang dinanti tiap tahunnya. Jatuh pada sekitaran bulan Oktober atau November, hari raya ini identik dengan hiasan penuh warna. Di Surabaya sendiri, meski tidak banyak yang beragama Hindu namun perayaan yang dikenal sebagai Pesta atau Festival Cahaya ini juga turut dirayakan.
Seperti yang terlihat di area lobi Java Paragon Hotel & Residences. Sambil mengelilingi lingkaran berukuran cukup besar, tangan Aashi Singhal dan Rakhi Singh cekatan membuat Rangoli. Suatu kesenian tradisional India untuk menyambut datangnya Diwali. Disusun dari beras dan tepung beras yang sudah diberi pewarna, Rangoli kreasi kedua wanita India yang sudah bertahun-tahun tinggal di Surabaya itu berwarna-warni. Total ada lima warna yang digunakan, yakni hijau, merah, biru, ungu, dan merah muda. Semuanya ditata cantik menyerupai bunga yang di sekelilingnya diberi lilin. “Ini buatnya pakai beras dan tepung, agar serangga seperti semut dapat memakannya,” ujar Rakhi.
Tingkat kerumitan Rangolipun bermacam-macam. Makin rumit, makin lama pula proses pembuatannya. “Yang sederhana seperti ini, bisa sampai tiga jam buatnya. Karena semua sisi lantai yang kosong harus terisi dengan beras atau tepung,” tambah Aashi yang memakai baju sari India berwarna merah tersebut.
Aashi yang merupakan salah satu anggota Indian Association in Surabaya (IAS) itu menjelaskan, bila Rangoli menjadi simbol pembawa keberuntungan di perayaan Dilwali. “Awalnya Dilwali ini untuk merayakan kemenangan Rama yang berhasil merebut kembali Dewi Sita dari Rahwana. Jadi adanya Rangoli yang berwarna-warni ini ingin mengundang para dewa agar datang,” jelasnya.
Editor : Administrator