Usianya sudah mencapai 82 tahun, generasi yang memegangnya kini telah beralih ke cicitnya. Namun cita rasa mie basah Kim Ling masih diminati oleh pelanggan.
Baehaqi Almutoif
Wartawan Radar Surabaya
Berdiri satu dekade sebelum Indonesia merdeka, tepatnya 1935, Kwan Ping, seorang perantau asal Tiongkok mencoba peruntungan dengan membuat usaha mie basah dan kue khas negeri Tirai Bambu. Awal berdiri bukanlah di Jalan Waspada seperti sekarang. "Dahulu di Jalan Sambungan gang 3," ujar Pemilik Mie Basah dan Kue Kim Ling, Stefano Wibowo kepada Radar Surabaya, Selasa (10/10).
Tidak banyak informasi yang didapat Stefano, bagaimana dahulu kakek buyutnya tersebut mendirikan usaha mie. Dari cerita yang didapatnya, sang kakek buyut langsung mencoba usaha membuat mie setibanya di Surabaya. Keahlian tersebut memang telah dimilikinya sejak masih di Tiongkok.
Hal itu terbukti dari lamanya usaha usaha mie basah tersebut bertahan. Terlebih usaha itu telah melewati banyak zaman. Salah satunya masa perang kemerdekaan. Surabaya yang saat itu dibombardir oleh pasukan sekutu tetap bisa mempertahankan Mie dan Kue Kim Ling.
Lepas dari perang kemerdekaan, usaha mie dan kue tersebut masih harus dihadapkan pada cobaan belum stabilnya ekonomi negara Indonesia. Yang kala itu masih berusia sangat muda. Namun, dengan kerja kerasnya tetap bisa bertahan melewati semua ini.
"Kami terus bertahan di Sambungan gang 3 selama bertahun-tahun. Hingga pada akhirnya periode 2000-an baru pindah kesini (depan Pasar Atom)," bebernya.
Kepemimpinan Kwan Ping ini, menurut Stefano berlangsung selama 50 tahun. Sebelum akhirnya berpindah tangan ke generasi kedua, yaitu Teguh Susilo. "Tahun 1985 kemudian usaha ini berpindah ketangan kakek saya," ungkapnya.
Ditangan Teguh, usaha tersebut tetap dipertahankan. Resep dari Tiongkok pun dipertahankan.
Krisis moneter juga sempat dilalui oleh Teguh. Meski tidak terlalu parah, masa 1990-an akhir menjadi yang terberat, dimana negara dilanda krisis moneter. Stefano yang ketika itu masih sangat muda mengakui bahwa tahun tersebut keadaan ekonomi sangat parah. Pelanggan yang datang juga menurun.
"Meski begitu, kakek saya tak mau menurunkan kualitas dari mie. Semua masih menggunakan bahan unggulan yang sudah turun temurun," tandasnya.