RADAR SURABAYA – Timnas Indonesia memasuki babak baru dalam pembangunan skuad jelang FIFA Series Maret 2026.
Turnamen yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, menjadi panggung penting untuk menguji kekuatan Garuda.
Sebagai tuan rumah, Indonesia dijadwalkan menghadapi Bulgaria, Saint Kitts and Nevis, serta Kepulauan Solomon.
Namun, sorotan utama bukan hanya pada lawan, melainkan pada komposisi skuad yang semakin kompetitif—khususnya di lini belakang.
Pelatih John Herdman memanggil 24 pemain, dengan sembilan di antaranya berposisi sebagai bek.
Komposisi ini mencerminkan fokus serius dalam membangun pertahanan yang solid.
Bek Eropa Jadi Tulang Punggung Pertahanan
Nama Jay Idzes menjadi figur sentral di lini belakang. Bersama US Sassuolo di Serie A, Idzes dikenal sebagai bek yang konsisten mendapatkan menit bermain tinggi.
Secara statistik, Idzes kerap mencatat:
Rata-rata 2+ tekel sukses per laga
Intersep stabil di lini pertahanan
Akurasi umpan di atas 80 persen
Di sisi lain, Kevin Diks menunjukkan fleksibilitas tinggi bersama Borussia Munchengladbach di Bundesliga.
Tak hanya solid dalam bertahan, Diks juga berkontribusi dalam fase menyerang:
Dipercaya sebagai eksekutor penalti
Memiliki kemampuan build-up dari belakang
Bisa bermain di beberapa posisi (bek kanan, bek tengah)
Kehadiran Elkan Baggott yang membela Ipswich Town menambah dimensi fisik. Dengan tinggi badan dan duel udara yang kuat, Baggott menjadi ancaman sekaligus benteng di area kotak penalti.
Baca Juga: Stasiun Surabaya Gubeng dan Pasar Turi Diprediksi Jadi Puncak Penumpang Arus Balik Lebaran Hari Ini
Kedalaman Skuad: Kombinasi Eropa dan Lokal
Selain nama utama, kedalaman skuad juga menjadi keunggulan Timnas Indonesia. Pemain seperti:Justin Hubner, Dean James, Nathan Tjoe-A-On, memberikan variasi taktik, terutama karena pengalaman mereka di kompetisi Eropa, khususnya Belanda.
Di sisi lain, kekuatan lokal tetap menjadi fondasi penting.
Rizky Ridho dikenal sebagai bek dengan leadership kuat, sementara Dony Tri Pamungkas dan Sandy Walsh menghadirkan keseimbangan antara agresivitas dan pengalaman.
Fleksibilitas Taktik ala John Herdman
Dengan banyaknya opsi di lini belakang, John Herdman memiliki keleluasaan dalam menerapkan berbagai skema, seperti:
Formasi 3 bek (3-5-2) untuk memperkuat pertahanan tengah
Formasi 4 bek (4-3-3) untuk keseimbangan menyerang dan bertahan
Transisi cepat dari bertahan ke menyerang melalui build-up modern
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Timnas Indonesia tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai mengadopsi gaya permainan progresif seperti tim-tim Eropa.
Baca Juga: Erick Thohir Tantang Indonesia Buktikan Diri di FIFA Series 2026, Siap Jadi Tuan Rumah Terbaik!
Modal Penting Hadapi Lawan Berbeda Karakter
Menghadapi Bulgaria yang memiliki fisik kuat, Saint Kitts and Nevis dengan kecepatan, serta Kepulauan Solomon yang bermain agresif, lini belakang Indonesia akan diuji dari berbagai aspek.
Namun, pengalaman para pemain di kompetisi Eropa menjadi nilai tambah: terbiasa menghadapi tekanan tinggi, mengerti tempo permainan cepat, disiplin dalam menjaga posisi.
Lini Belakang Timnas Indonesia Kian Menjanjikan
Transformasi lini belakang Timnas Indonesia kini terlihat nyata. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Garuda memiliki kombinasi: Pengalaman Eropa, kedalaman skuad, dan fleksibilitas taktik.
Ke depan, lini belakang Timnas Indonesia menjanjikan dengan kehadiran pemain-pemain yang rutin bermain reguler di Eropa.
Hal ini menjadikan skuad Garuda semakin kompetitif dan siap bersaing di level internasional.
Jika bisa menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin Timnas Indonesia akan memiliki salah satu lini pertahanan terbaik di kawasan Asia dalam waktu dekat.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan