RADAR SURABAYA - Bagi klub sepak bola Eropa, berlaga di Liga Champions UEFA bukan sekadar soal gengsi atau mengejar trofi "Si Kuping Besar".
Lebih dari itu, kompetisi antarklub tertinggi di Benua Biru ini telah menjadi urat nadi finansial dan eksistensi sebuah tim.
Tak heran, setiap musimnya, perburuan tiket menuju Liga Champions selalu berlangsung sengit hingga pekan-pekan terakhir liga domestik.
Kompetisi elite Eropa, Liga Champions UEFA, kembali menegaskan statusnya sebagai turnamen paling menggiurkan di dunia.
Pada musim 2025/2026, klub peserta berpeluang meraup pendapatan lebih dari £115 juta atau setara sekitar Rp2,3 triliun.
Baca Juga: Leo/Bagas Perkasa! Dua Ganda Putra Indonesia Lolos ke 16 Besar Orleans Masters 2026
Besarnya pemasukan ini menjadi faktor utama bagaimana klub bisa berlaga di kompetisi ini.
Skema Hadiah Liga Champions yang Fantastis
UEFA menetapkan total dana hadiah sekitar £2,88 miliar atau setara Rp57,6 triliun per musim hingga 2026/2027.
Rinciannya:
74,38% (±Rp42 triliun) untuk Liga Champions dan Piala Super UEFA
17,02% (±Rp9,8 triliun) untuk Liga Europa
8,6% (±Rp4,9 triliun) untuk Liga Konferensi Europa
Khusus Liga Champions, pembagian dana terdiri dari tiga komponen utama:
1. Dana Partisipasi
Setiap klub yang lolos fase liga langsung menerima £16,2 juta ( Rp324 miliar).
2. Bonus Performa
Menang: £1,8 juta (±Rp36 miliar)
Imbang: £608 ribu (±Rp12,1 miliar)
Posisi klasemen: hingga £8,57 juta (±Rp171 miliar)
Tambahan bonus juga diberikan bagi klub yang finis di 8 besar maupun peringkat 9–16.
3. Value Pillar (Hak Siar & Koefisien)
Komponen ini bernilai sekitar £740,6 juta (±Rp14,8 triliun) dan didistribusikan berdasarkan popularitas serta performa historis klub.
Klub besar seperti Real Madrid, Bayern Munich, dan Manchester City menjadi penerima terbesar dalam kategori ini.
Baca Juga: Usai Lebaran 2026, Pendatang Tanpa Pekerjaan Siap-Siap Ditolak Masuk Surabaya!
Daftar Pendapatan Klub (Estimasi)
Beberapa klub elite sudah mengantongi pendapatan besar:
1. Bayern Munich – £85,76 juta (±Rp1,7 triliun)
2. Manchester City – £83,41 juta (±Rp1,66 triliun)
3. Liverpool – £83,28 juta (±Rp1,66 triliun)
4. Arsenal – £82,59 juta (±Rp1,65 triliun)
5. Paris Saint-Germain – £80,38 juta (±Rp1,6 triliun)
6. Real Madrid – £79,1 juta (±Rp1,58 triliun)
Sementara itu, klub kejutan seperti Bodo/Glimt mampu meraih £45,77 juta (±Rp915 miliar) meski tidak melaju jauh.
Bonus Fase Gugur yang Menggiurkan
Pendapatan klub terus bertambah seiring melaju ke babak berikutnya:
16 besar: £9,55 juta (±Rp191 miliar)
Perempat final: £10,85 juta (±Rp217 miliar)
Semifinal: £13,02 juta (±Rp260 miliar)
Runner-up: £16,06 juta (±Rp321 miliar)
Juara: £21,7 juta (±Rp434 miliar)
Jika sebuah tim menjadi juara dengan performa sempurna, total pendapatan minimal bisa mencapai Rp2,3 triliun.
Dampak Finansial bagi Klub Eropa
Besarnya hadiah dari Liga Champions membuat klub-klub besar semakin dominan secara ekonomi.
Tim-tim seperti Chelsea dan Liverpool memanfaatkan pemasukan ini untuk memperkuat skuad mereka.
Namun, kondisi ini juga memperlebar kesenjangan antara klub elite dan tim kecil di Eropa.
Liga Champions bukan sekadar ajang prestisius, tetapi juga ladang uang bagi klub peserta.
Dengan potensi pendapatan hingga triliunan rupiah, kompetisi ini menjadi fondasi utama kekuatan finansial klub-klub top Eropa.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan