RADAR SURABAYA - Olahraga Socca mulai diperkenalkan kepada masyarakat Surabaya.
Cabang olahraga sepak bola mini yang berasal dari Inggris ini diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi di area Kota Lama Surabaya, tepatnya di lapangan olahraga Taman Sejarah, yang selama ini ramai dikunjungi warga.
Ketua Federasi Socca Surabaya, Suryan Mustafa, mengatakan sosialisasi dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan agar mudah diterima masyarakat.
Salah satunya dengan mengajak warga, khususnya anak-anak, mencoba permainan penalti satu lawan satu yang menjadi ciri khas olahraga Socca.
“Kita melakukan sosialisasi olahraga Socca ke masyarakat di Kota Lama Surabaya, tepatnya di Taman Sejarah. Kita ajak anak-anak dan warga untuk mencoba penalti satu lawan satu, karena lokasi ini cukup ramai dan mudah dijangkau,” ujar Suryan, Selasa (30/12) malam.
Dalam kegiatan tersebut, Federasi Socca Surabaya memanfaatkan lapangan futsal yang telah dikondisikan. Ukuran lapangan Socca sendiri menyerupai mini soccer, yakni sekitar 35 meter x 60 meter. Olahraga ini dapat dimainkan dengan format lima lawan lima hingga delapan lawan delapan pemain.
Suryan menjelaskan, Socca berada di bawah naungan Federasi Socca Internasional dan memiliki aturan permainan yang menggabungkan unsur sepak bola dan futsal. Salah satu yang paling menonjol adalah sistem penaltinya.
“Dalam Socca, penalti dilakukan dengan cara menggiring bola terlebih dahulu selama 10 detik sebelum ditendang ke arah gawang. Ini yang membedakan dengan sepak bola, futsal, maupun mini soccer,” jelasnya.
Selain itu, Socca juga mengedepankan aspek keselamatan dan fair play. Olahraga ini dirancang sebagai olahraga rekreasi yang ramah untuk anak-anak hingga pemain usia di atas 30 tahun, termasuk mereka yang sudah memasuki masa purna profesional.
“Kita ingin Socca menjadi olahraga yang aman, menyenangkan, dan bisa dimainkan siapa saja. Salah satu komunitas yang ingin kita akomodir adalah fun football,” tambah Suryan.
Keunikan lainnya adalah penerapan kartu hijau. Kartu ini diberikan wasit kepada pemain yang menunjukkan sikap fair play di lapangan sebagai bentuk apresiasi. Sementara itu, pemain yang menerima kartu kuning harus keluar lapangan selama dua menit.
Socca sendiri baru membentuk kepengurusan nasional di Indonesia pada 2024. Saat ini, Socca telah memiliki sejumlah DPD tingkat provinsi, termasuk Jawa Timur. Untuk DPD Jawa Timur, kepengurusan DPC telah terbentuk di Surabaya, Blitar, Batu, dan Malang, serta akan menyusul Mojokerto.
“Surabaya menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan Socca di Indonesia. Ke depan, kami juga berencana bergabung dengan KORMI, karena memang orientasi Socca adalah olahraga rekreasi, bukan prestasi profesional. Untuk induk olahraga, kami tidak bergabung dengan PSSI,” tegasnya.
Antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini dinilai cukup tinggi. Peserta yang mencoba bermain berasal dari berbagai kalangan usia, mulai anak-anak hingga warga berusia di atas 30 tahun.
Sebagai langkah lanjutan, DPC Socca Surabaya telah menyiapkan agenda turnamen antar SMA se-Surabaya. Selain untuk memperluas sosialisasi, ajang tersebut juga menjadi sarana pencarian bibit pemain.
“Kita punya mimpi membentuk tim nasional Socca Indonesia yang suatu saat bisa tampil di Piala Dunia Socca di Brasil,” pungkas Suryan. (sam/vga)