Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kesibukan Kelenteng di Krian Sidoarjo saat Jelang Imlek

Diky Putra Sansiri • Jumat, 13 Februari 2026 | 17:06 WIB
TELATEN: Ritual pembersihan rupang di Kelenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Jumat (13/2). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)
TELATEN: Ritual pembersihan rupang di Kelenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Jumat (13/2). (DIKY SANSIRI/RADAR SIDOARJO)

RADAR SURABAYA – Kelenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Krian, Jumat (13/2) sedang sibuk. Air teh hangat disiapkan untuk memandikan puluhan rupang atau patung dewa-dewi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari mendatang.

Ritual pembersihan rupang ini bukan sekadar kegiatan membersihkan patung. Prosesi tersebut merupakan tradisi sakral yang dilakukan setiap tahun saat para dewa diyakini tengah “naik” ke Nirwana, sehingga rupang dapat dibersihkan sebagai simbol penyucian diri dan tempat ibadah sebelum memasuki tahun yang baru.

Tahun ini, ada yang berbeda. Jika sebelumnya pembersihan dilakukan menggunakan air mawar atau bunga tiga rupa seperti dalam tradisi kejawen, kini panitia memilih menggunakan air teh.

Ketua Kelenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Liliana Anggraeni, menjelaskan bahwa pemilihan air teh merupakan hasil kesepakatan bersama dengan tetap mengedepankan makna kebersihan dan kesakralan.

“Kalau teh itu identik dengan tradisi Tionghoa. Beberapa tahun lalu kami pakai bunga tiga macam. Bagi saya, yang penting bersih dan niatnya baik. Yang jelas tidak memakai sabun,” ujarnya.

Rupang Bersejarah dari Tiongkok

Di antara deretan rupang yang dibersihkan, terdapat patung-patung kecil yang memiliki nilai sejarah tinggi. Konon, rupang tersebut dibawa langsung oleh para leluhur saat berlayar dari Tiongkok menuju Nusantara ratusan tahun silam sebagai jimat perlindungan.

Salah satu yang tertua adalah rupang Kong Tek Cun Ong. Ukurannya kecil dan kondisinya mulai terkelupas dimakan usia. Meski demikian, patung tersebut tetap dipuja dan ditempatkan berdampingan dengan rupang yang lebih baru.

“Rupang yang paling tua itu Kong Tek Cun Ong. Bentuknya kecil, aslinya dibawa dari China. Kondisinya sudah agak terkelupas karena usia, tapi tetap kami puja,” kenang Liliana.

Kelenteng yang berdiri di Jalan Imam Bonjol, Krian, ini telah berusia lebih dari satu abad. Sejak lama, tempat ibadah tersebut menjadi pusat spiritual warga Tionghoa di wilayah Krian dan sekitarnya.

Sejumlah rupang yang terdapat di kelenteng ini antara lain Kong Tek Cun Ong, Husen, Kwan Sing Tee Koen, Thian Siang, Liem Tak Ren, Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), Houw Ciang Kun, Tri Suci Nabi, Kwan Im Po Sat, hingga Beng Lang Kun.

Di antara semuanya, sosok Kwan Sing Tee Koen atau yang dikenal juga sebagai Kwan Kong menjadi salah satu yang paling dihormati. Ia melambangkan ketegasan dan integritas seorang panglima perang, sehingga kerap dipuja para pebisnis agar diberi kebijaksanaan dan ketepatan dalam mengambil keputusan.

Doa Tolak Bala di Cap Go Meh

Menyambut Tahun Kuda Api, pihak kelenteng juga mengingatkan umat yang memiliki shio yang bertentangan agar lebih waspada. Sebagai bentuk ikhtiar spiritual, kelenteng akan menggelar doa tolak bala pada hari ke-15 penanggalan Imlek, bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh atau sekitar awal Maret.

“Nanti tanggal 15 penanggalan China, kami mengadakan doa tolak bala. Banyak umat yang datang untuk memohon perlindungan selama satu tahun ke depan,” pungkas Liliana. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#kelenteng #krian #imlek #patung #rupang