RADAR SURABAYA - Munculnya 18 kasus infeksi virus influenza A (H3N2) Subclade K atau yang dikenal sebagai super flu di Jawa Timur sempat menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mengimbau warga untuk tidak panik berlebihan dan lebih memprioritaskan langkah pencegahan sejak dini.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menegaskan bahwa super flu pada dasarnya merupakan penyakit akibat infeksi virus, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan secara mandiri dengan menerapkan pola hidup sehat dan perilaku hidup bersih.
Baca Juga: Belum Ditemukan Kasus Super Flu di Sidoarjo, Ini Pesan Dinkes
“Sama seperti penyakit akibat virus lainnya, pencegahan bisa dimulai dari diri sendiri. Kuncinya adalah menjaga stamina dan daya tahan tubuh,” ujar dr. Lakhsmie, Minggu (18/1).
Ia menjelaskan, meningkatkan imunitas tubuh dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan dan minuman bergizi, istirahat yang cukup, serta rutin berolahraga. Selain itu, kebiasaan menjaga kebersihan diri menjadi faktor penting untuk menekan risiko penularan.
Baca Juga: Kelompok Rentan Harus Hati-Hati, Dinkes Deteksi 18 Pasien Super Flu di Jatim
“Biasakan mencuci tangan dengan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer. Gunakan masker, terutama saat berada di tempat ramai atau berinteraksi dengan orang yang sedang flu,” jelasnya.
Dr. Lakhsmie juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta mempertimbangkan vaksinasi influenza sebagai langkah perlindungan tambahan. Ia turut menekankan penerapan etika batuk dan bersin bagi masyarakat yang sedang mengalami gejala flu.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Imbau Warga Waspada Super Flu, Puskesmas dan RS Disiagakan
“Jika sedang flu, jangan batuk atau bersin sembarangan. Tutup mulut dan hidung agar tidak menularkan kepada orang lain,” tegasnya.
Upaya pencegahan serupa juga diterapkan oleh warga Kecamatan Krian, Oktaviola (32). Ia mengaku sempat merasa cemas saat pertama kali mendengar kabar super flu, namun memilih untuk mengelola kekhawatiran dengan tetap berpikir positif dan menjaga kesehatan.
“Awalnya panik, tapi saya mencoba menenangkan diri dan tetap berpikir positif,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Oktaviola rutin menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi vitamin, memperbanyak makan buah, berolahraga, serta berjemur di pagi hari.
“Intinya menerapkan pola hidup sehat,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya penggunaan masker, baik bagi orang yang sedang sakit maupun yang dalam kondisi sehat.
“Kalau flu wajib pakai masker. Bahkan meski tidak flu, sebaiknya tetap pakai masker untuk pencegahan,” imbuhnya.
Sebagai informasi, super flu merupakan sebutan nonmedis untuk influenza A (H3N2) Subclade K yang tergolong varian baru. Gejalanya menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, dan tubuh terasa lemas, namun cenderung berlangsung lebih lama dan terasa lebih berat.
Berdasarkan laporan resmi, sebagian besar kasus super flu di Jawa Timur ditemukan di Kota Malang, sementara satu kasus lainnya dilaporkan berasal dari Kabupaten Pasuruan. (dik/vga)