RADAR SURABAYA - Kesabaran warga Jalan Zainal Abidin, Desa Tambaksumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, akhirnya habis. Jalan berlubang parah yang dibiarkan rusak selama berminggu-minggu memicu aksi protes unik dengan menanam pohon pisang di tengah jalan.
Aksi tersebut dilakukan warga pada Minggu (11/1) dan langsung viral di media sosial. Sedikitnya 12 pohon pisang ditanam untuk menutup total akses jalan dari arah utara dan selatan. Akibatnya, arus lalu lintas sempat lumpuh dan menimbulkan kemacetan sementara.
Di balik aksi tersebut, tersimpan keresahan warga terhadap kondisi jalan yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.
Salah seorang warga, Suparman, 51, mengatakan kerusakan jalan di depan rumahnya sudah terjadi sejak sekitar tiga minggu terakhir. Lubang-lubang besar dengan diameter hampir satu meter tersebar di sepanjang ruas jalan dari arah utara hingga selatan.
“Sudah tiga minggu rusak, tapi tidak ada perbaikan. Lubangnya besar-besar dan sangat berbahaya. Akhirnya warga sepakat menanam pohon pisang,” ujar Suparman kepada Radar Sidoarjo.
Ia menjelaskan, empat pohon pisang ditanam di sisi utara dan delapan pohon di sisi selatan. Jalan sengaja ditutup total agar tidak dilalui kendaraan, lantaran laporan warga sebelumnya belum mendapat respons.
“Setelah videonya viral, alhamdulillah langsung diperbaiki. Kalau tidak viral, mungkin belum tentu diperbaiki,” katanya.
Pantauan Radar Sidoarjo, Minggu (11/1), pemerintah mulai melakukan perbaikan jalan. Sejumlah dump truk dikerahkan untuk melakukan pengurukan sebelum proses pengaspalan.
Ruas jalan sepanjang sekitar 175 meter tersebut diaspal dengan ketebalan kurang lebih 30 sentimeter. Para pekerja terlihat mulai beraktivitas sejak pagi hari.
Suparman menambahkan, kerusakan jalan diperparah oleh genangan banjir yang kerap terjadi saat hujan deras. Air yang menutup permukaan jalan membuat lubang sulit terlihat oleh pengendara.
“Kalau hujan deras pasti banjir. Airnya menutup lubang, jadi sangat berbahaya bagi pengendara,” ujarnya.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat setempat, Maskur. Ia menyebut genangan banjir di kawasan tersebut bisa bertahan hingga tiga hari dan berdampak besar terhadap daya tahan badan jalan.
“Genangan air yang lama mempercepat kerusakan jalan dan sangat membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua,” jelasnya.
Ia mengapresiasi respons cepat pemerintah pascaviralnya aksi warga. Maskur berharap perbaikan dilakukan dengan kualitas yang baik agar jalan tidak kembali rusak dalam waktu dekat.
“Alhamdulillah ada respons cepat. Harapan kami, jalan ini bisa mulus dan aman dilalui warga,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista