Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kegagalan Konstruksi Jadi Pemicu Utama Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

M Saiful Rohman • Kamis, 2 Oktober 2025 | 20:13 WIB
PANCAKE COLLAPSE: Struktur bangunan penopang beban vertikal tidak mampu menahan tekanan yang mengakibatkan ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo.
PANCAKE COLLAPSE: Struktur bangunan penopang beban vertikal tidak mampu menahan tekanan yang mengakibatkan ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo.

RADAR SURABAYA - Tragedi ambruknya bangunan musala tiga lantai di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, terjadi saat para santri sedang melaksanakan salat ashar berjamaah pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB.

Bangunan yang difungsikan sebagai musala di area asrama putra itu tiba-tiba roboh dan menimpa puluhan santri yang berada di dalamnya.

Proses evakuasi masih berlangsung hingga saat ini, dengan tim SAR terus berupaya menjangkau korban di bawah puing-puing bangunan.

Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, menyampaikan bahwa musibah tersebut disebabkan oleh kegagalan konstruksi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa bangunan runtuh secara vertikal dan bertumpuk, membentuk pola reruntuhan yang dikenal sebagai “pancake collapse.”

“Akibat runtuhnya adalah kegagalan konstruksi, lalu berubah menjadi tumpukan atau pancake model,” ujar Emi dalam konferensi pers di lokasi kejadian.

Basarnas bekerja sama dengan tim ahli konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk menganalisis penyebab teknis ambruknya bangunan.

Struktur bangunan yang seharusnya menopang beban vertikal ternyata tidak mampu menahan tekanan, sehingga lantai-lantai bangunan runtuh secara berurutan.

“Struktur pancake mengacu pada jenis reruntuhan progresif, di mana lantai bangunan runtuh secara vertikal dan bertumpuk akibat kegagalan elemen penahan beban,” jelas Emi.

Tim SAR menemukan bahwa pusat gravitasi reruntuhan berada di sisi kiri bangunan, yang memperlihatkan ketidakseimbangan struktur.

Selain itu, terdapat perbedaan ketinggian antara level dasar bangunan dan trap bawah, yang menyebabkan akses penyelamatan menjadi sangat terbatas.

Hambatan Evakuasi dan Kondisi Struktur

Kondisi reruntuhan yang rata dengan lantai dasar membuat tim penyelamat hanya bisa mengandalkan interaksi suara dan alat pencari fleksibel seperti search cam untuk mendeteksi korban.

Kolom tengah bangunan yang seharusnya patah justru melengkung menyerupai huruf U, menunjukkan elastisitas tinggi namun tidak sesuai standar konstruksi bangunan bertingkat.

“Kalau konstruksi standar mengalami kegagalan, biasanya dia patah, bukan melengkung. Artinya, elastisitas bangunan ini sangat tinggi, tapi tidak mampu menahan beban sesuai standarnya,” pungkas Emi.

Tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny menjadi peringatan serius terhadap pentingnya standar konstruksi bangunan publik, terutama yang digunakan oleh komunitas pendidikan dan keagamaan.

Kegagalan struktur yang menyebabkan pancake collapse menunjukkan lemahnya elemen penahan beban dan perencanaan teknis.

Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan segera melakukan audit konstruksi terhadap bangunan serupa untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. (sai/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#its #Ponpes Al Khoziny #tim sar #buduran #ponpes #konstruksi #sidoarjo #basarnas #pancake collapse