SIDOARJO - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah selesai melakukan ekskavasi situs bersejarah di RT 17/RW 03, Desa Watesari, Kecamatan Balongbendo. Proses tersebut dilakukan mulai Sabtu (13/7) hingga Minggu (21/7). Prediksi awal bangunan cagar budaya tersebut menyerupai pendapa peninggalan kerajaan Majapahit.
Dugaan tersebut didukung dari luas bangunan utama yang memiliki ukuran 7x18 meter. Dengan luas keseluruhan lahan mencapai 300 m2, ada satu sumur, diperkirakan untuk memasak.
Ditemukan juga tembikar porselen dari Vietnam abad 14 dan 15 serta keramik dari Dinasti Ming Tiongkok abad ke 14 -17 Masehi. "Saat ini sudah kita daftarkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo," kata Arkeolog BPCB Wicaksono Dwi Nugroho.
Struktur pondasi bangunan berbentuk persegi dengan ukuran denah panjang 18 m, lebar 7 m membentang utara-selatan. Arah hadap bangunan diduga menghadap ke timur, dengan adanya indikasi struktur tangga lebar 1,6 m.
Sesuai ditemukan benda-benda di lokasi, struktur ini menggambarkan bangunan pendapa dengan dinding terbuka maupun tertutup menggunakan bahan organik. “Karena struktur pondasi relatif sama. Juga tidak ditemukan genteng, sehingga diduga atap terbuat dari sirap atau ijuk,” tuturnya.
Tim telah mengelompokkan bangunan menjadi sembilan kotak yang akan digali lebih lanjut. Namun, dari sembilan kotak tersebut baru dibuka tujuh kotak. Situs bersejarah itu kebetulan berada di area makam Mbah R Baido Sukirman dan Mbah Pahit Wicaksono. “Yang dua kotak ada makam. Jadi tidak mungkin kita gali,” jelasnya.
Pasca ekskavasi ini, langkah selanjutnya mendaftarkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo sebagai situs cagar budaya. Kepala BPCB Jawa Timur, Andi Muhammad Said mengatakan, setelah didaftarkan dan mendapat pengakuan secara resmi, warga boleh mengelola. "Pemanfaatan berwawasan pelestarian. Menampilkan nilai sejarahnya," ungkapnya.
Situs cagar budaya ini pertama kali ditemukan dari aktivitas warga RT 13 dan RT 17 yang mengambil tanah di sekitar makam tetua Watesari. Awal tujuan untuk menguruk jalan di bulan Agustus 2018. Ketua RT 17 Suliyono menceritakan, setelah menemukan situs tersebut, banyak warga dari luar Watesari yang datang berkunjung. "Banyak yang penasaran," jelas Suliyono. (rpp/vga)
Editor : Administrator