Nasib sistem parkir berlangganan akan diputuskan oleh pemkab dan dewan di akhir tahun ini. Sistem tersebut akan dilanjutkan atau diganti dengan program lain. Pemkab harus menyiapkan penggantinya jika parkir berlangganan dihapus.
Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo sendiri saat ini sudah menyiapkan dua sistem lain. Sebagai antisipasi jika parkir berlangganan tidak dilanjutkan. Sistem pertama dengan menggunakan karcis, seperti dulu. Sedangkan sistem kedua dengan aplikasi. Pemabayaran parkir dilakukan melalui smartphone.
Kepala UPT Parkir Dishub Feri Prasetiyo mengatakan, sistem karcis sebenarnya sudah pernah digunakan dulu sebelum ada sistem parkir berlangganan. Jukir yang bertugas diberi karcis, pengendara membayar tarif parkir dan diberi karcis sebagai bukti pembayaran retribusi.
Agar pendapatan parkir tidak bocor, setiap titik parkir sudah ditentukan setorannya. Setiap titik besaranya berbeda-beda. Tergantung jumlah kendaraan yang parkir di titik tersebut setiap harinya. “Setiap tahun sudah ada targetnya,” katanya, Jumat (13/7).
Sedangkan untuk pilihan yang kedua menggunakan aplikasi. Dishub sudah menyiapkan parkir go pay. Caranya, pengendara hanya klik di handphone untuk membayar parkir.
Namun, sebelum memilih diantara dua sistem tersebut, dishub akan menghitung potensi penerimaan retribusi parkir di semua titik. Ada 279 titik parkir di Sidoarjo. Tujuannya untuk melihat berapa sebenarnya pendapatan parkir yang disetorkan.
Feri menjelaskan, perhitungan potensi parkir itu sebelumnya tidak ada. Pemkab hanya mendapatkan pemasukan total dari parkir berlangganan. Dengan potensi itu, dishub bisa mengontrol dan menargetkan pemasukan dari setiap titik parkir. (nis/rek)