Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jembatan Gantung Pertama di Sidoarjo Penghubung Sekaligus Tempat Wisa

Lambertus Hurek • Sabtu, 30 Desember 2017 | 13:40 WIB
Jembatan Gantung Pertama di Sidoarjo  Penghubung Sekaligus Tempat Wisa
Jembatan Gantung Pertama di Sidoarjo Penghubung Sekaligus Tempat Wisa


Dusun Patuk dan Dusun Patuk Pulo, Desa Sidomulyo Kecamatan Krian terpisah sungai. Sebelumnya, untuk menyeberang warga menggunakan perahu tambang. Tapi kini dua dusun itu telah tersambung dengan jembatan.


Ini seiiring dengan selesainya pembangunan jembatan gantung. Jumat (29/12), jembatan sepanjang 64 meter itu diresmikan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Hadir pula dalam peresmian tersebut Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Himawan Bayu Aji serta Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Inf Fadli Mulyono.


Bupati Saiful Ilah mengungkapkan jembatan ini dapat meningkatkan perekonomian di dua dusun tersebut. “Karena masyarakat yang ingin berdagang ini bisa lewat jembatan ini lebih singkat dari biasanya,” jelasnya.


Bupati menginginkan perlu adanya perhatian khusus pada jembatan tersebut. Menurutnya, jembatan gantung yang pertama di Sidoarjo ini bisa menjadi penghubung sekaligus wisata. Dikatakan demikian, sebab konsep jembatan ini dibuat menarik yakni dicat berwarna-warni.


“Perlu perawatan khusus yang baru pertama kalinya ada di Sidoarjo ini. Ini jadi penghubung sekaligus wisata,” tambahnya.


Wisata yang dimaksudkan yakni jembatan gantung bisa digunakan sebagai destinasi wisata spot selfi. Ke depan ia juga berkeinginan untuk membangun tempat wisata kuliner di sekitar jembatan gantung tersebut. Keinginan itu dengan harapan dapat meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.


Jembatan ini sendiri memiliki lebar 2 meter. Anggaran pembangunan jembatan gantung ini menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 328 juta, serta dari APBDes sebesar Rp 8,8 juta, serta swadaya masyarakat sebesar Rp 6,6 juta.


Sementara itu Kepala Dinas Perkerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sigit Setyawan mengatakan jembatan ini dibangun oleh Kementerian Perkerjaan Umum sehingga jembatan ini merupakan salah satu aset milik negara. “Kami akan meminta persetujuan ke pusat, apa aset ini akan diberikan ke desa atau kabupaten,” ungkap Sigit.


Ia membenarkan jembatan gantung ini harus ada perawatan khusus untuk mengantisipasi kerusakan. “Karena itu kami akan ajukan surat itu. Jika memang dihibahkan ke desa atau kabupaten akan kami anggarkan untuk perawatannya,” katanya kemudian.


Sementara pula, Indri, salah satu warga, mengaku selama ini jika dirinya hendak berangkat kerja harus menyebrang sungai untuk perahu tambang. Dikatakan, jika air meninggi karena hujan membuat arus semakin kencang. “Kalau pakai jembatan ini bisa lebih mempersingkat waktu dan tidak perlu takut lagi,” ujarnya.


Indri mengatakan dengan adanya jembatan ini membuat dirinya dapat menghemat biaya pengeluaran. “Kalau orang yang naik kapal akan dikenakan biaya Rp 1000, dan untuk sepeda motor akan dikenakan biaya Rp 2 ribu per motor. Kalau lewat jembatan ini kan tidak pakai biaya,” terangnya. (sar/jee)



 

Editor : Lambertus Hurek