Mungkin masyarakat hanya mengenal buah maja sebagai buah biasa. Namun di tangan Puji Purwanto, warga Desa Kebonagung, Sukodono, buah ini bisa diubahnya menjadi kerajinan tangan. Bahkan ia bisa membuat alat musik dengan bahan buah tersebut.
GUNTUR IRIANTO
Wartawan Radar Sidoarjo
BUAH maja banyak berserakan di ruang tamu. Nampak seorang pria sedang mengamplas buah tersebut. Inilah sosok Puji Purwanto. Ia sedang membuat kerajinan tangan dari buah maja itu. Salah satunya ia membuat asbak.
Buah tersebut didapatnya cuma-cuma, karena ia mendapatkannya dari kebun di rumahnya. “Saya ambil langsung dari kebun, karena buah ini sudah banyak tumbuh di pekarangan rumah,” katanya.
Ia menuturkan ide membuat kerajinan tangan dari buah maja ini sekitar tujuh tahun lalu. Awalnya pemuda yang pernah bergabung dengan orkes melayu ini sering melihat buah maja yang berserakan. Bahkan, dulu ia dan teman-teman sepermainannya menggunakan buah ini sebagai pengganti bola untuk bermain sepak bola. Kulit luarnya yang keras membuat buah ini tidak mudah pecah saat ditendang.
“Dari situlah saya yakin buah ini bisa diolah menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual,” terangnya.
Ia pun lantas berlatih memanfaatkan buah itu ke salah satu temannya yang sudah mahir membuat kerajinan tangan. Akhirnya, dari satu kerajinan, ia berkembang membuat kerajinan yang lain. Salah satunya dengan menjadikannya alat musik.
Ia mulai menyusun satu persatu buah dengan kulit berwarna cokelat ini menjadi sebuah alat musik mulai gitar hingga biola. Kulit buah yang keras dipotongnya menjadi dua, kemudian disusun menjadi gitar. Selain gitar, ia juga membuat alat musik mandolin. Namun berbeda dengan mandolin yang ada, mandolin yang dibuatnya ini juga dilengkapi tempat duduk. “Sehingga pemain alat musik ini bisa santai memainkan alat musiknya,” paparnya.
Keahliannya dalam mengolah buah maja ini sudah mulai membuahkan hasil. Hasil karyanya banyak yang menyukai sehingga sekarang ini diperjualbelikan. Kerajinannya ini memiliki ciri khas sendiri, yakni diberinya ukiran khusus.
“Ukiran itu saya tambahkan untuk mempermanis tampilan karya saya. Idenya spontan, sehingga ukirannya juga khas dan tidak akan sama satu dengan yang lain,” lanjut dia.
Tidak hanya itu, karena karyanya ini sekarang banyak mahasiswa atau masyarakat yang datang untuk belajar cara pengolahan buah tersebut. Bahkan karyanya juga pernah dijadikan bahan skripsi oleh mahasiswa. Tak jarang ia didatangi anak SMP yang ingin tahu cara mengelola buah tersebut.
Editor : Lambertus Hurek