Sesuai cerita dari saksi sejarah, bekas benteng pertahanan Jepang yang lokasinya di Gedung Juang 45 itu sangat luas, sekitar 1.000 meter persegi. Sebelum menjadi benteng, bangunan itu digunakan untuk sekolah taman siswa, tepatnya pada 1935.
ANNISA FIRDAUSI
Wartawan Radar Sidoarjo
BARU pada tahun 1942, tentara Jepang datang. Sekolah taman siswa kemudian dibubarkan dan tempat itu dijadikan benteng pertahanan.
Dulu ada 4 ruangan dalam bangunan tua tersebut. Namun semuanya sudah beralih fungsi. Seperti menjadi ruang pertemuan dan ruang LVRI. “Namun Bupati Soewandi saat itu meminta satu ruangan ini dipertahankan sebagai peninggalan sejarah,” demikian ungkap penjaga benteng Yanuar Supartono.
Ia pun menuturkan benteng tersebut dibangun dengan cucuran darah pribumi. Sebab, upaya membangun benteng tersebut dilakukan dengan cara kerja paksa. Ketika itu banyak warga pribumi yang ditembak mati di tempat tersebut. Gara-garanya, mereka yang dipekerjakan membangun benteng tersebut sakit dan sudah tidak kuat lagi.
“Daripada harus mengobati mereka, tentara Jepang memilih menembak mati,” jelas Yanuar.
Dari cerita tersebut, Yanuar pun mengungkapkan di bangunan ini
sering ada kejadian seram. Bukan hanya di tampilan bangunan yang memang sudah kuno, tetapi kadang memang ada hal-hal aneh.
Misalnya, kadang terdengar ada suara pintu ditutup. Ada pula tiba-tiba senapan menyalak seperti suara saat perang. Hal ini biasanya terjadi menjelang Maghrib. “Ketika sedang menyalakan lampu, kadang ada suara tembak-tembakan dari dalam,” pungkasnya. (*/jee-habis)
Editor : Lambertus Hurek