Usaha garam rakyat di Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, ibarat roller coaster. Kadang melejit tinggi, tapi kadang buntung. Saat ini H. Abdul Aziz dan puluhan petani garam yang lain bisa sedikit tersenyum.
---------------
FITRI PUJI ASTUTIK
Wartawan Radar Sidoarjo
TAHUN 2016 lalu, usaha garam di kawasan timur Kecamatan Sedati itu hancur berantakan. Menurut Abdul Aziz, sepanjang 2016 cuaca yang buruk untuk produksi garam karena musim hujan yang panjang. Hampir selama satu tahun musim hujan terus mengguyur ladang garam.
''Bagaimana kami bisa bikin garam? Garamnya yang sudah hampir jadi pun tidak bisa dipanen karena hujan deras,'' ujar Aziz kepada Radar Sidoarjo, Selasa (1/8) siang. Gara-gara faktor kemarau basah tersebut, hasil garam di Kecamatan Sedati anjlok hingga titik terendah. Bahkan, sebagian petani tidak bisa panen.
Bagaimana dengan tahun ini? Abdul Aziz berkali-kali menyebut alhamdulillah. Apalagi, di tengah krisis pasokan garam konsumsi di pasar-pasar saat ini. Hingga pertengahan 2017 ini, harga garam meningkat hingga lebih dari dua kali lipat.
“Awalnya, harga garam hanya Rp 90 ribu per karungnya. Tetapi saat ini harganya bisa mencapai Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu per karung," ujarnya.
Sebuah keuntungan yang besar bagi petani garam. Ini karena harga garam sebelumnya sangat tidak stabil jika sedang kemarau. "Alhamdulillah, tahun ini bisa produksi dan harganya bagus," kata Pak Haji ini seraya tersenyum.
Namun, di sisi lain, petani garam tidak bisa memanen sesuai dengan jadwal. Alias panen dini. Sebelum adanya kelangkaan garam di pasar, petani bisa memanen garam 10 hari sekali. Tetapi saat ini petani memanen garam dengan jangka waktu 4-5 hari sekali. “Karena cuaca yang tidak menentu, sekaligus bisa menutup kerugian pada tahun lalu. Kami harus cepat-cepat panen agar tidak keduluan hujan,” katanya.
Otomatis kualitas garam menurun. Karena dipanen dini, kristalnya lebih kecil. Kualitas terbaik biasanya panen sekitar 12 hari. Toh, faktor kualitas jadi nomor dua, karena permintaan sedang tinggi. “Jujur, sekarang kami tidak terlalu mementingkan kualitasnya. Jika memilih kualitas, nanti kami tidak bisa mengganti kerugian tahun kemarin,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah buruh yang yang berasal dari Madura mengaku saat ini tidak menerima order dalam jumlah besar. Sebab, para petambak garam di Sedati sulit memproduksi dalam jumlah besar. ''Biasanya kami melayani 500 sampai 700 karung untuk pabrik-pabrik besar. Tetapi saat ini kami hanya bisa melayani pesanan 50 sampai 100 karung,'' ungkap Safiudin, salah satu petani garam.
Safiudin berharap harga garam bisa tetap stabil seperti saat ini. Agar petani garam bisa menabung. “Harapan saya, ya harga garam tetap (tinggi)
seperti sekarang," katanya. (rek)
Editor : Lambertus Hurek