RADAR SURABAYA— Asosiasi-asosiasi sepak bola Eropa menyampaikan kekhawatiran serius terhadap dampak jeda internasional yang diperpanjang menjadi tiga pekan.
Mereka akan meminta UEFA mendorong FIFA untuk kembali menerapkan jadwal jeda internasional seperti format sebelumnya.
Jeda internasional yang baru berlangsung selama tiga pekan itu membuat negara-negara Eropa harus menjalani empat pertandingan UEFA Nations League, yang biasanya dimainkan dalam rentang sekitar 11 hari.
Perubahan ini memicu kekhawatiran terkait beban kerja pemain, cedera, dan kelayakan finansial penyelenggaraan pertandingan.
Seorang presiden asosiasi sepak bola bahkan menyebut format tersebut sebagai “bencana” saat berbicara kepada The Guardian. Sejumlah pejabat lainnya juga menilai jadwal itu tidak dapat dijalankan secara efektif.
Baca Juga: Arsenal vs Leeds United: Badai Cedera Ancam Misi Bangkit The Gunners
Brian Brobbey, Kylian Mbappé, Alexander Isak, Cody Gakpo dan Kai Havertz termasuk pemain yang mengalami cedera saat menjalani pertandingan Nations League baru-baru ini.
Mayoritas Asosiasi Ingin Kembali ke Format Lama
Penolakan terhadap jeda internasional tiga pekan hampir bulat dalam pertemuan asosiasi sepak bola Eropa di Berlin pada Kamis.
Sejumlah pejabat menyampaikan keberatan secara tegas terhadap perubahan kalender pertandingan yang disetujui Dewan FIFA pada 2023.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, dan CEO FA, Mark Bullingham, termasuk di antara pejabat yang menyampaikan kritik.
Banyak asosiasi lebih memilih format sebelumnya, yakni lima periode jeda internasional yang masing-masing berlangsung selama dua pekan.
Format tiga pekan sekarang ini menggabungkan periode pertandingan internasional September dan Oktober yang sebelumnya terpisah.
Perubahan itu awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan pemain dan mengurangi perjalanan tim nasional.
Namun, dalam praktiknya, rangkaian pertandingan Nations League yang berlangsung dengan intensitas tinggi justru menimbulkan persoalan.
Pertandingan kompetitif seperti Nations League umumnya memiliki intensitas lebih tinggi dibandingkan laga persahabatan, sementara jumlah pergantian pemain yang tersedia lebih terbatas.
Baca Juga: Babak Grand Champions Bahlil Mini Soccer di Surabaya Gunakan Sistem Round Robin
Selain Brobbey, sejumlah pemain seperti Kylian Mbappé, Alex Scott, Cody Gakpo, dan Alexander Isak juga mengalami masalah cedera.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama anggota UEFA. Negara-negara kecil menghadapi tantangan lebih besar karena memiliki jumlah pemain yang terbatas sehingga sulit melakukan rotasi dan memberikan waktu istirahat kepada pemain.
Negara dengan sumber daya lebih besar juga dinilai memiliki keuntungan kompetitif ketika harus menjalani banyak pertandingan Nations League dalam waktu berdekatan.
Hal ini berpotensi memengaruhi persaingan karena penentuan unggulan untuk Euro 2028 akan mempertimbangkan performa dalam kompetisi tersebut.
Persoalan Komersial dan Tiket
Sejumlah federasi turut menyoroti dampak komersial dari perubahan jadwal.
Mereka mengaku kesulitan memasarkan pertandingan dan menjual tiket untuk dua laga kandang yang berlangsung dalam jarak waktu berdekatan.
Padahal, pertandingan tim nasional merupakan salah satu sumber pendapatan penting bagi asosiasi sepak bola.
Seorang presiden federasi mengusulkan agar jadwal jeda internasional disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing benua.
Namun, penerapan usulan tersebut dinilai berpotensi menghadapi kendala logistik.
Di sisi lain, seorang pimpinan federasi menyatakan pihaknya akan menganalisis manfaat format baru tersebut.
Ia menilai jeda yang lebih panjang memberikan keuntungan karena pelatih tim nasional memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja bersama para pemain.
Peluang Perubahan Dinilai Kecil
Meski banyak asosiasi mendesak UEFA melobi FIFA untuk menghapus format tiga pekan tersebut, peluang perubahan dinilai terbatas.
Hubungan UEFA dan FIFA disebut memburuk hingga mencapai titik terendah, terutama setelah mencuatnya skandal FIFA Forward Enterprise. Selain itu, kalender pertandingan internasional telah ditetapkan hingga 2030.
Keberhasilan upaya tersebut kemungkinan bergantung pada perubahan kepemimpinan di FIFA.
Presiden FIFA Gianni Infantino, yang menghadapi tekanan, berupaya memperoleh masa jabatan keempat pada Maret mendatang.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : The Guardian