RADAR SURABAYA – Timnas Indonesia melewati malam penuh drama saat mengalahkan Bangladesh 9-2 pada laga terakhir fase grup FIFA ASEAN Cup 2026, Kamis malam.
Kemenangan besar itu belum langsung membuat skuad Garuda tenang karena mereka harus terus mencetak gol untuk mengamankan tiket ke final.
Kevin Diks mengaku belum pernah merasakan pertandingan dengan situasi seperti itu.
Setiap kali Indonesia mencetak gol, para pemain justru diminta kembali mencari gol berikutnya karena hasil pertandingan Malaysia juga sangat menentukan posisi di klasemen.
Indonesia dan Malaysia memasuki matchday terakhir dengan jumlah poin yang sama. Malaysia berada di atas Indonesia berkat keunggulan selisih gol dan produktivitas gol.
Karena itu, perjuangan Indonesia tidak hanya terjadi di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
Pada waktu yang sama, Malaysia menghadapi Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Kevin Diks: Satu Gol Lagi, Satu Gol Lagi
Indonesia sudah unggul 6-1 atas Bangladesh pada babak pertama. Namun, di Bandung, Malaysia terus memperbesar keunggulan atas Singapura.
Situasi tersebut membuat para pemain Indonesia tidak bisa sekadar mempertahankan keunggulan. Mereka harus terus menyerang dan menambah gol.
Diks menggambarkan situasi tersebut sebagai pengalaman yang belum pernah dialaminya sepanjang karier.
“Bagi para penonton di rumah maupun yang menyaksikan langsung di stadion, ini adalah pertandingan yang gila, dan hal yang sama dirasakan oleh kami di lapangan.
Saya belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya—ketika kami mencetak begitu banyak gol, tetapi ternyata masih belum cukup,” kata Diks kepada FIFA.
Bek Borussia Monchengladbach itu mengungkapkan para pemain terus mendapatkan instruksi untuk mencetak gol tambahan.
“Setiap kali kami mencetak gol, selalu ada instruksi ‘satu gol lagi, satu gol lagi’. Kami sempat berpikir, ‘Masa skor 7-2 masih belum cukup?’ Namun, terus-menerus dikatakan ‘satu lagi, satu lagi, satu lagi’,” ujarnya.
Diks dan Audero Ikut Ambil Risiko
Tekanan untuk mencetak gol tambahan membuat permainan Indonesia semakin agresif. Garis pertahanan skuad Garuda naik lebih tinggi pada menit-menit akhir.
Diks bahkan ikut bergerak jauh ke depan. Sementara itu, kiper Emil Audero juga meninggalkan gawang untuk membantu serangan.
Audero menyebut langkah tersebut merupakan konsekuensi dari kebutuhan Indonesia untuk mencetak gol sebanyak mungkin.
“Tentu saja tim saya butuh mencetak gol sehingga keseimbangan tim condong penuh ke depan.
Akibatnya, dalam beberapa momen kami tidak bertahan dengan sangat baik karena fokus utama kami adalah menyerang,” ujar Audero.
Menurut kiper Rayo Vallecano tersebut, Indonesia menyadari adanya ruang yang ditinggalkan di lini belakang.
“Jadi, wajar jika Anda menekan ke depan dan meninggalkan ruang di belakang. Namun, tidak masalah.
Kami menerima risiko itu dan yang terpenting kami cukup tangguh untuk mencetak gol lebih banyak daripada Malaysia,” katanya.
Risiko tersebut sempat terlihat ketika Bangladesh mencetak gol keduanya pada pengujung pertandingan. Namun, Indonesia tidak mengendurkan tekanan.
Indonesia Lolos ke Final, Tantang Thailand
Indonesia akhirnya menang 9-2 atas Bangladesh. Sementara itu, Malaysia mengalahkan Singapura 6-0.
Hasil tersebut membuat Indonesia finis di puncak klasemen dengan tujuh poin dan unggul atas Malaysia dalam produktivitas gol.
Perjuangan skuad Garuda sekaligus menunjukkan mental bertanding yang sedang dibangun di bawah asuhan John Herdman.
Diks menilai pertandingan tersebut menjadi bagian dari proses perkembangan Timnas Indonesia.
“Saya kira begitu, ya. Ini adalah proses yang sedang kami jalani. Kami telah bekerja bersama Pelatih John [Herdman] mengenai hal ini, bahwa kami harus selalu siap bangkit dan membalikkan situasi kapan saja,” kata Diks.
Ia juga mengaku bangga dengan perjuangan rekan-rekannya setelah Indonesia sebelumnya harus bermain dengan 10 pemain selama sebagian besar pertandingan melawan Malaysia.
“Ketika Anda harus bermain dengan 10 pemain selama 60 menit dan sekarang harus bertarung mengejar selisih gol, saya sangat bangga dengan perjuangan anak-anak,” ujarnya.
Diks bahkan mengakui kondisi fisiknya terkuras pada pertandingan melawan Bangladesh.
“30 menit terakhir benar-benar perjuangan berat bagi saya. Namun, saya mencoba bertahan dan berjuang demi semua orang di tim, bukan hanya untuk diri saya sendiri,” katanya.
Indonesia kini bersiap menghadapi Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026. Audero meminta rekan-rekannya tetap fokus tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri.
“Kami sangat antusias. Namun, ini tidak ada bedanya dengan apa yang sudah kami lakukan sejauh ini.
Kami harus bersiap dengan tingkat fokus dan perhatian yang tinggi, tetapi pada saat yang sama kami tidak perlu memberi tekanan berlebih pada diri sendiri,” ujar Audero.
Indonesia tinggal membutuhkan satu pertandingan lagi untuk mengakhiri perjalanan di FIFA ASEAN Cup 2026 dengan trofi.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : FIFA