RADAR SURABAYA – Aktivitas jual beli saham klub sepak bola Inggris kembali menarik perhatian dunia.
Liverpool dilaporkan memiliki valuasi mencapai £5,5 miliar atau sekitar Rp132,57 triliun, sementara Chelsea disebut bernilai £5 miliar atau sekitar Rp120,52 triliun.
Di sisi lain, Leicester City yang kini bermain di League One juga dikabarkan dijual dengan nilai lebih dari £200 juta atau sekitar Rp4,82 triliun.
Perbedaan nilai yang sangat besar tersebut memunculkan satu pertanyaan penting: bagaimana sebenarnya harga sebuah klub sepak bola ditentukan?
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar investasi sepak bola Inggris memang bergerak cukup aktif.
Liverpool mengumumkan penjualan saham minoritas kepada konsorsium yang melibatkan orang terkaya di dunia, Jeff Bezos.
Baca Juga: Raphinha dan Fermin Lopez Cetak Brace, Barcelona Hajar Elche 5-0 di LaLiga 2026/2027
Nilai transaksi tersebut kemudian dikaitkan dengan valuasi klub mencapai £5,5 miliar.
Sementara itu, pemilik Chelsea, Mark Walter dan Todd Boehly, disebut tengah mempertimbangkan opsi terkait kepemilikan saham mereka dengan valuasi mencapai £5 miliar.
King Power Group juga dikabarkan mencari pembeli untuk Leicester City dengan target nilai lebih dari £200 juta.
Tiga klub, tiga kondisi berbeda, dan tiga metode penilaian yang tidak selalu sama.
Klub Sepak Bola Tidak Bisa Dinilai dari Keuntungan
Dalam dunia bisnis konvensional, nilai sebuah perusahaan umumnya dihitung berdasarkan keuntungan yang diperoleh saat ini serta proyeksi keuntungan pada masa mendatang.
Namun, metode tersebut tidak selalu cocok diterapkan dalam industri sepak bola.
Banyak klub sepak bola justru mencatatkan kerugian dalam laporan keuangan mereka. Besarnya biaya transfer pemain, gaji, operasional stadion, dan fasilitas latihan membuat keuntungan bukan menjadi satu-satunya indikator nilai.
Karena itu, industri sepak bola lebih sering menggunakan metode pengali pendapatan atau revenue multiple.
Metode ini menghitung total pendapatan klub sebelum dikurangi pengeluaran, kemudian mengalikannya dengan angka tertentu berdasarkan kekuatan merek, basis penggemar, prestasi, potensi bisnis, serta posisi klub di kompetisi.
Baca Juga: Torino vs Milan 1-2: Rabiot Gemilang, Cisse Cetak Gol Debut di Serie A
Semakin besar sebuah klub, biasanya semakin tinggi pula angka pengalinya.
Big Six Premier League Bisa Bernilai Enam Kali Pendapatan
Klub-klub besar Premier League, khususnya kelompok Big Six, dalam beberapa tahun terakhir umumnya memiliki valuasi sekitar enam kali pendapatan tahunan.
Contohnya terjadi ketika INEOS milik Sir Jim Ratcliffe membeli saham minoritas Manchester United pada 2024.
Manchester United ketika itu dilaporkan memiliki valuasi sekitar £4,5 miliar (Rp108,47 triliun) dengan pendapatan sebesar £648 juta (Rp15,62 triliun) . Artinya, nilai klub tersebut mencapai sekitar 6,9 kali pendapatannya.
Berbeda dengan klub di luar kelompok elite, yang umumnya hanya memiliki pengali sekitar dua kali pendapatan.
Namun, valuasi Liverpool dan Chelsea menunjukkan tren baru di sepak bola Inggris.
Liverpool dilaporkan memiliki pendapatan sekitar £700 juta (Rp16,87 triliun) dalam laporan keuangan terakhirnya.
Jika valuasi £5,5 miliar digunakan sebagai dasar transaksi investasi konsorsium yang melibatkan Jeff Bezos, maka nilai Liverpool mencapai hampir delapan kali pendapatan.
Sementara itu, valuasi Chelsea sebesar £5 miliar setara dengan sekitar tujuh kali proyeksi pendapatan klub pada musim 2025/2026.
Meski angka £5 miliar untuk Chelsea masih diperdebatkan, nilai klub-klub elite sepak bola Eropa memang terus mengalami peningkatan.
Leicester City Jadi Kasus Berbeda
Situasi berbeda terjadi pada Leicester City. Sebagian besar klub League One biasanya memiliki valuasi sekitar satu hingga dua kali pendapatan.
Dengan pendapatan yang jarang menembus £20 juta (Rp482,08 miliar), nilai transaksi klub League One umumnya tidak lebih dari £40 juta (Rp964,16 miliar).
Namun, King Power Group dilaporkan menginginkan lebih dari £200 juta (Rp4,82 triliun) untuk melepas kendali atas Leicester City.
Jika pendapatan Leicester turun di bawah £50 juta setelah bermain di League One, maka valuasi tersebut setara dengan lebih dari empat kali pendapatan.
Angka itu berpotensi menjadi rekor penjualan klub League One.
King Power disebut menggunakan pendekatan berbeda, yakni dengan memperhitungkan nilai aset fisik yang dimiliki Leicester.
Pusat latihan Seagrave yang dibuka pada 2022 serta King Power Stadium berkapasitas 32.000 penonton disebut memiliki nilai gabungan lebih dari £200 juta.
Artinya, nilai yang ditawarkan Leicester City tidak hanya berdasarkan performa bisnis klub, tetapi juga aset tetap yang dimiliki.
Stadion dan Fasilitas Belum Tentu Jadi Keuntungan
Namun, metode nilai aset bersih (net asset value) seperti ini jarang digunakan untuk menilai klub sepak bola, dan ada alasan kuat di baliknya.
Sebuah stadion bukanlah gudang. Stadion berkapasitas 32.000 penonton memiliki sangat sedikit fungsi alternatif dan hampir tidak memiliki calon pembeli selain klub sepak bola lain.
Dalam kondisi seperti itu, nilai buku aset lebih mendekati angka teoretis.
Posisi operasional klub juga memperumit persoalan. Fasilitas kelas dunia jarang menghasilkan pendapatan besar secara langsung.
Bahkan, fasilitas tersebut sering membutuhkan biaya operasional yang besar untuk pemeliharaan.
Baca Juga: Lando Norris Menang GP Belanda, Max Verstappen Hancur di Lap Pertama
Bagi Leicester, yang basis pendapatannya akan terus menyusut seiring berkurangnya pembayaran kompensasi degradasi (parachute payments) dan hilangnya pendapatan hak siar Premier League,
Seagrave dan King Power Stadium bisa dianggap lebih dekat sebagai beban dalam neraca keuangan daripada aset yang menghasilkan keuntungan.
Kelangkaan Premier League Jadi Faktor Utama
Pada akhirnya, valuasi klub sepak bola tidak hanya ditentukan oleh rumus matematika.
Premier League hanya memiliki 20 peserta. Klub-klub besar juga mempunyai basis penggemar global, nilai merek yang kuat, serta potensi pendapatan dari hak siar, sponsor, merchandise, dan bisnis digital.
Kondisi tersebut membuat kelangkaan dan minat investor menjadi faktor penting dalam menentukan harga.
Baca Juga: Butuh Uang untuk Bayar Utang, Pria Asal Lumajang Curi Truk Tebu Gunakan Kunci Motor
Kehadiran investor kaya, dana investasi institusional, hingga kelompok bisnis internasional membuat persaingan untuk memiliki klub elite semakin ketat.
Dalam banyak kasus, harga sebuah klub bahkan lebih dahulu disepakati berdasarkan minat pasar.
Metode valuasi kemudian digunakan untuk menjelaskan atau membenarkan angka tersebut.
Karena itu, valuasi Liverpool mencapai £5,5 miliar, Chelsea £5 miliar, hingga target penjualan Leicester City sebesar £200 juta menunjukkan satu hal penting: nilai klub sepak bola modern tidak lagi sekadar ditentukan oleh keuntungan klub.
Merek global, basis suporter, posisi di kompetisi, pendapatan masa depan, aset, serta kelangkaan menjadi kombinasi utama yang membuat harga klub sepak bola terus melonjak.(rak)
Editor : Rahmat Adhy KurniawanSumber : Football365