Sekjen FIFA Mattias Grafstrom Didorong Tantang Gianni Infantino, 15 Federasi Afrika Siap Mendukung

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 19:04 WIB
Gianni Infantino (kiri) dan Mattias Grafstrom. (The Guardian)
Gianni Infantino (kiri) dan Mattias Grafstrom. (The Guardian)

RADAR SURABAYA – Peta persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 mulai memanas.

Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom dilaporkan telah didekati sejumlah tokoh sepak bola Afrika untuk menjajaki kemungkinan mencalonkan diri melawan Gianni Infantino.

Laporan tersebut diungkap The Guardian dalam laporan eksklusif yang terbit Sabtu (22/8).

Sejumlah pejabat senior sepak bola Afrika disebut telah berbicara langsung dengan Grafström untuk mengetahui sikapnya terkait kemungkinan maju dalam pemilihan Presiden FIFA.

Bahkan, sebanyak 15 federasi sepak bola Afrika dikabarkan siap menarik dukungan dari Infantino ketika pria asal Swiss tersebut mencalonkan diri kembali tahun depan.

Mattias Grafstrom Jadi Kandidat Potensial Penantang Infantino

Grafstrom disebut menjadi salah satu sosok yang mulai dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang tidak puas dengan kepemimpinan Infantino.

Baca Juga: Everton vs Crystal Palace: The Toffees Ingin Pertahankan Rekor Positif 11 Laga

Dua presiden federasi sepak bola Afrika dilaporkan telah berbicara secara terpisah dengan Grafstrom melalui telepon pada pekan lalu.

Namun, Grafstrom disebut belum memberikan komitmen untuk maju sebagai penantang Infantino.

Seorang anggota komite eksekutif CAF mengatakan, Grafstrom dinilai memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai konfederasi sepak bola di dunia.

“Mereka berpikir Mattias dapat menyatukan semua benua dan kemudian maju,” ujar sumber tersebut kepada The Guardian.

Menurut sumber itu, Grafstrom merupakan sosok yang terbuka dan bersedia mendengarkan berbagai pandangan dari federasi anggota.

Grafstrom Sempat Berseberangan dengan Rencana Infantino

Spekulasi mengenai Grafstrom muncul setelah dirinya sempat mengambil sikap berbeda terhadap FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah rencana yang dikaitkan dengan Infantino.

Rencana tersebut mencakup penjualan sekitar 20 persen hak komersial Piala Dunia. Namun, proposal itu akhirnya dibatalkan.

Dalam sebuah memo kepada staf FIFA, Grafstrom sebelumnya menyampaikan pesan yang dinilai menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap situasi tersebut.

Baca Juga: Bidik Kalangan Muda, CitraLand Driyorejo Rilis Rumah Usaha Rp1,3 Miliar

Namun, hanya sehari kemudian, Grafstrom menandatangani surat yang berisi dukungan penuh kepada Infantino.

Tidak lama setelah itu, ia mengumumkan pemecatan Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengkritik keras proposal FFE.

Dukungan Afrika terhadap Infantino Mulai Dipertanyakan

Selama ini, CAF dikenal sebagai salah satu basis dukungan penting bagi Infantino.

Namun, situasi tersebut disebut mulai berubah. Salah satu pemicunya adalah keputusan untuk menggelar Piala Afrika atau Africa Cup of Nations (AFCON) setiap empat tahun, bukan setiap dua tahun.

Keputusan tersebut menimbulkan ketidakpuasan di sejumlah negara Afrika. Sebagian pihak meyakini perubahan jadwal itu merupakan keputusan yang didorong FIFA.

Dalam rapat komite eksekutif CAF pada 7 Agustus 2026, hanya empat dari 21 anggota yang disebut secara terbuka menyatakan dukungan kepada Infantino.

Di antara mereka terdapat Presiden CAF Patrice Motsepe dan Wakil Presiden CAF asal Maroko, Fouzi Lekjaa.

“Yang lainnya tetap diam. Orang-orang tidak ingin menyampaikan pandangan mereka di depan umum karena mereka masih menunggu apa yang akan terjadi,” kata salah satu peserta rapat tersebut.

Afrika Bisa Jadi Penentu Pemilihan Presiden FIFA

Afrika memiliki 54 anggota FIFA. Jumlah tersebut membuat benua Afrika berpotensi menjadi penentu dalam pemilihan Presiden FIFA.

Untuk mengalahkan Infantino, kandidat penantang membutuhkan sedikitnya 106 suara dari 211 anggota FIFA.

Selain Grafström, nama Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa juga disebut berpotensi menjadi penantang.

Sheikh Salman sebelumnya pernah menghadapi Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2015, tetapi kalah.

Sumber The Guardian bahkan menilai Sheikh Salman masih memiliki dukungan di sejumlah negara Afrika.

“Jika Salman benar-benar maju, dia pasti akan terpilih,” kata sumber tersebut.

Menurutnya, dukungan dari Eropa, Asia, dan Concacaf ditambah sebagian suara dari Afrika dapat membuat Sheikh Salman memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilihan.

Kandidat Penantang Infantino Harus Tawarkan Program Konkret

Meski demikian, para kandidat yang ingin menantang Infantino dinilai tidak cukup hanya mengandalkan sentimen politik.

Mereka juga harus menawarkan program konkret bagi perkembangan sepak bola, khususnya di negara-negara berkembang.

Salah satu program yang menjadi pembanding adalah FIFA Forward Enterprise. Program tersebut sebelumnya diharapkan dapat memberikan sekitar 20 juta dolar AS per tahun kepada setiap asosiasi sepak bola.

“Jika UEFA atau pihak lain memiliki sesuatu yang lebih baik, mereka harus mengusulkannya. Jika ada yang menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada Infantino, orang-orang akan memilih mereka,” ujar anggota komite eksekutif CAF tersebut.

Dengan semakin banyaknya federasi Afrika yang disebut mulai mempertanyakan dukungan terhadap Infantino, persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 berpotensi berlangsung sengit.

Mattias Grafstrom kini menjadi salah satu nama yang patut diperhatikan. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Grafstrom bahwa dirinya akan maju sebagai kandidat Presiden FIFA untuk menantang Gianni Infantino.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : The Guardian
mattias Grafstrom FIFA presiden Gianni Infantino