RADAR SURABAYA – Premier League Inggris memasuki musim 2026/2027 dengan perubahan penekanan dalam penerapan aturan, khususnya saat situasi bola mati di dalam kotak penalti.
Wasit akan lebih tegas terhadap aksi menarik, memegang, mendorong, menyikut, berdesak-desakan, hingga bergulat yang dilakukan pemain ketika menghadapi tendangan sudut maupun situasi bola mati lainnya.
Kebijakan tersebut menjadi perhatian setelah berbagai insiden pada musim lalu menunjukkan banyaknya pelanggaran yang luput dari hukuman.
Wasit Premier League Diminta Lebih Proaktif
Kepala wasit Premier League, Howard Webb, meminta perangkat pertandingan lebih berani mengambil keputusan ketika melihat pelanggaran yang jelas.
Menurut Webb, wasit harus memberikan lebih sedikit peringatan dan lebih banyak hukuman terhadap pelanggaran yang memang memenuhi kriteria.
Baca Juga: Liverpool Siapkan Tawaran Baru untuk Yankuba Minteh, Setelah Tawaran Rp1,1 Triliun Ditolak
“Jika terjadi pengurangan pelanggaran, hal itu seharusnya merupakan hasil dari perubahan perilaku pemain, bukan karena kami tidak lagi menerapkan aturan tersebut,” ujar Webb.
Fokus utama diarahkan pada tindakan menahan lawan yang memberikan dampak nyata terhadap jalannya pertandingan.
Pemain akan lebih mudah dihukum apabila hanya berfokus kepada lawan, tidak berusaha memainkan bola, memegang lawan menggunakan kedua tangan, atau melakukan aksi menahan lawan secara terus-menerus dan berdampak signifikan.
Pelanggaran di Kotak Penalti Jadi Sorotan
Masalah tersebut sempat menjadi perhatian besar musim lalu. Aksi saling menarik dan menahan pemain di kotak penalti bahkan disebut telah menjadi persoalan yang meluas di Premier League.
Pelatih Everton, David Moyes, pernah mengkritik kinerja wasit setelah pertandingan melawan Manchester United pada Februari.
Moyes menilai wasit terlalu enggan mengambil tindakan terhadap aksi fisik yang terjadi di kotak penalti.
Pada Mei, situasi kembali menjadi sorotan ketika gol West Ham saat menghadapi Arsenal dianulir setelah pemeriksaan VAR.
Dalam satu situasi tersebut, terdapat sejumlah potensi pelanggaran yang terjadi secara bersamaan.
Baca Juga: Inter Milan Diunggulkan Juara Serie A 2026/2027, Siapa Penantangnya?
Persoalan itu kemudian dibahas dalam konsultasi yang melibatkan kapten tim, pelatih, wasit, dan sejumlah pemangku kepentingan sepak bola Inggris.
Kiper Tetap Mendapat Perlindungan
Meski wasit akan lebih tegas, Premier League tidak akan menerapkan standar yang terlalu ketat terhadap setiap kontak fisik.
Kontak dengan penjaga gawang tetap dianggap sebagai bagian dari permainan selama tidak menghalangi kemampuan kiper untuk memainkan bola.
“Kami tetap mempertahankan ambang batas yang tinggi,” kata Webb.
Namun, situasinya berbeda apabila pergerakan kiper sengaja dibatasi.
Kasus David Raya ketika Arsenal menghadapi West Ham menjadi salah satu contoh.
Jika lengan atau pergerakan seorang penjaga gawang dibatasi sehingga mengganggu upayanya memainkan bola, wasit tetap dapat memberikan hukuman.
Arsenal dan Liverpool Bisa Terdampak
Penerapan aturan yang lebih tegas ini menarik karena sejumlah tim memiliki catatan berbeda dalam situasi bola mati.
Arsenal menjadi salah satu tim yang efektif memanfaatkan skema tendangan sudut dan bola mati. Namun, permainan fisik dalam situasi tersebut juga beberapa kali menjadi sorotan.
Manchester United menjadi salah satu tim paling produktif melalui bola mati dengan 21 gol pada musim lalu. Tottenham Hotspur juga mencetak 19 gol dari situasi tersebut.
Sebaliknya, Liverpool memiliki pekerjaan rumah besar dalam bertahan.
The Reds kebobolan 19 gol melalui situasi bola mati pada musim lalu, jumlah tertinggi di Premier League.
Chelsea dan Newcastle United berada berikutnya dengan masing-masing 17 gol.
Dengan penerapan yang lebih ketat, tim-tim tersebut harus lebih berhati-hati ketika bertahan di dalam kotak penalti.
Baca Juga: Hari Juang Polri, Satlantas Polrestabes Surabaya Berlakukan Pengalihan Arus, Simak Titiknya
Konsistensi Jadi Kunci
Kebijakan baru ini berpotensi mengubah cara tim menjalankan strategi bola mati. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada konsistensi wasit sepanjang musim.
Penerapan aturan yang terlalu ketat pada awal musim tetapi kemudian kembali longgar berisiko membuat kebijakan tersebut kehilangan efektivitas.
Karena itu, tantangan Premier League bukan sekadar menghukum pelanggaran, melainkan memastikan standar yang sama diterapkan secara konsisten.
Jika berhasil, aksi menarik, memegang, mendorong, dan bergulat di kotak penalti dapat berkurang secara signifikan tanpa menghilangkan kontak fisik yang menjadi bagian dari sepak bola.
Liga Inggris 2026/2027 pun akan menjadi ujian bagi wasit dalam menciptakan keseimbangan antara permainan fisik dan penerapan aturan secara tegas.(rak)
Editor : Rahmat Adhy KurniawanSumber : BBC