RADAR SURABAYA – Mimpi besar Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2030 kini berhadapan dengan sebuah kenyataan pahit.
Untuk menjadi tim sepak bola yang bisa bermain di piala dunia, Skuad Garuda setidaknya harus mampu menunjukkan dominasi di kawasan Asia Tenggara.
Namun, Piala AFF 2026 justru menghadirkan cerita sebaliknya.
Indonesia gagal melaju ke semifinal setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada laga terakhir Grup A, Jumat (7/8) malam WIB.
Hasil tersebut membuat Indonesia harus mengakhiri perjalanan lebih cepat.
Ironisnya, turnamen ini sempat dimulai dengan sangat menjanjikan.
Indonesia membuka Piala AFF 2026 dengan kemenangan telak 5-1 atas Kamboja. Tren positif berlanjut ketika Skuad Garuda membungkam Timor Leste dengan skor 3-0.
Mitchell Baker menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian. Empat gol dalam dua pertandingan membuat penyerang tersebut menjadi simbol ketajaman Indonesia pada awal turnamen.
Baca Juga: Ilhan Fandi Gagalkan Kemenangan Indonesia, Singapura Lolos ke Semifinal Piala AFF 2026
Enam poin pun dikantongi. Harapan untuk mempertahankan supremasi di Asia Tenggara kembali membesar.
Namun, sepak bola bukan hanya tentang bagaimana sebuah tim memulai turnamen, melainkan bagaimana mereka mampu bertahan ketika menghadapi tekanan. Vietnam menjadi ujian sesungguhnya.
Menghadapi salah satu kekuatan utama ASEAN tersebut di Stadion Pakansari, Cibinong, 3 Agustus 2026, Indonesia justru tampil di bawah ekspektasi.
Kekalahan telak 0-3 membuat posisi Indonesia di Grup A kembali terancam.
Pertandingan melawan Singapura akhirnya berubah menjadi laga hidup-mati.
Indonesia sempat berada dalam posisi menguntungkan, tetapi gagal mempertahankan keunggulan.
Singapura mencetak gol penyama melalui Ilhan Fandi pada menit ke-66. Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir.
Peluit panjang pun menjadi penanda berakhirnya perjalanan Indonesia di Piala AFF 2026.
Puasa Gelar Kembali Berlanjut
Kegagalan tersebut bukan sekadar persoalan tersingkir dari turnamen regional. Lebih jauh, hasil ini kembali membuka luka lama sepak bola Indonesia.
Baca Juga: Bursa Transfer: Liverpool Selangkah Lagi Dapatkan Bradley Barcola, Nilainya Rp2,72 Triliun
Indonesia belum lagi mengangkat trofi Piala AFF sejak 1996. Artinya, penantian gelar juara ASEAN kini memasuki usia 30 tahun.
Padahal, ekspektasi publik terhadap Timnas Indonesia terus meningkat. Kehadiran pemain diaspora dan naturalisasi membuat kualitas skuad di atas kertas terlihat semakin menjanjikan.
Namun, nama besar dan kualitas individu tidak otomatis menghasilkan prestasi.
Kapten Timnas Indonesia, Rizky Ridho, bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada suporter setelah kegagalan tersebut.
Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan besar yang dirasakan skuad sekaligus pendukung.
Pertanyaan Besar Menuju Piala Dunia 2030
Di sinilah pertanyaan yang lebih besar muncul: jika menjadi juara ASEAN saja belum mampu, bagaimana Indonesia bisa berbicara banyak di Piala Dunia 2030?
Pertanyaan tersebut memang terdengar keras, tetapi justru penting untuk menjadi bahan evaluasi.
Piala Dunia memiliki level persaingan yang jauh berbeda. Jika menghadapi Vietnam dan Singapura saja Indonesia belum mampu tampil konsisten, perjalanan menuju putaran final Piala Dunia 2030 tentu membutuhkan pembenahan yang jauh lebih serius.
Baca Juga: Bursa Transfer: Liverpool Pinjam Ronald Araujo, Kapten Barcelona Merapat ke Anfield
Pelatih John Herdman kini menghadapi pekerjaan besar. Keseimbangan antara pemain naturalisasi, diaspora, dan pemain lokal yang selama ini menjadi bagian dari proyek Timnas Indonesia harus dievaluasi secara objektif.
Masalahnya bukan sekadar siapa yang bermain, melainkan bagaimana seluruh pemain tersebut ditempa menjadi sebuah tim yang memiliki identitas, konsistensi, mentalitas, dan sistem permainan yang jelas.
Jangan Jadikan Piala Dunia Sekadar Mimpi
Kegagalan di Piala AFF 2026 seharusnya tidak menjadi alasan untuk menyerah terhadap target Piala Dunia 2030. Sebaliknya, kegagalan ini harus menjadi alarm keras.
PSSI perlu mengevaluasi pembinaan pemain usia muda, kompetisi domestik, kualitas pelatih, program pemain diaspora dan naturalisasi, hingga kesinambungan strategi Timnas Indonesia.
Sebab, jalan menuju Piala Dunia tidak dibangun dalam satu turnamen.
Indonesia membutuhkan fondasi yang kuat, bukan sekadar skuad bertabur nama besar.
Piala AFF 2026 telah menunjukkan satu hal: menjadi kekuatan sepak bola ASEAN saja masih menjadi pekerjaan rumah.
Jika persoalan tersebut tidak segera diselesaikan, target Piala Dunia 2030 berisiko berhenti sebagai slogan.
Namun, jika kegagalan ini dijadikan titik balik, tersingkir dari Piala AFF justru bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.
Kini bola berada di tangan PSSI, tim pelatih, pemain, dan seluruh ekosistem sepak bola nasional.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia bermimpi tampil di Piala Dunia 2030, melainkan apakah Indonesia benar-benar siap membangun tim yang layak berada di sana.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan