RADAR SURABAYA – Riuh selebrasi para pemain Persebaya Surabaya usai memastikan diri menjadi juara Piala Presiden 2026 menjadi penutup manis turnamen pramusim paling bergengsi di Indonesia.
Namun, kemenangan Green Force bukanlah satu-satunya cerita yang tersisa dari ajang tersebut.
Di balik sorak-sorai stadion, roda perekonomian masyarakat turut berputar, menghadirkan berkah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Piala Presiden kembali menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar pertandingan selama 90 menit.
Turnamen ini menjelma menjadi ruang yang mempertemukan prestasi olahraga dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Setiap laga bukan hanya menghadirkan hiburan bagi pencinta sepak bola, tetapi juga membuka peluang usaha bagi para pedagang lokal.
Baca Juga: Persebaya Juara Piala Presiden 2026, Taklukkan Persib Lewat Drama Adu Penalti 6-5
Komitmen itu tetap dijaga hingga penghujung turnamen. Meski pertandingan semifinal dan final di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, berlangsung tanpa kehadiran penonton, panitia tetap menyediakan ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan.
Kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa denyut ekonomi kerakyatan tetap menjadi bagian penting dari penyelenggaraan Piala Presiden.
Di atas lapangan, Persebaya Surabaya menorehkan sejarah dengan menjuarai Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung melalui adu penalti 7-6, menyusul hasil imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu.
Gelar tersebut menjadi buah dari kerja keras, disiplin, dan konsistensi sepanjang turnamen.
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, menilai keberhasilan turnamen tidak hanya diukur dari kualitas pertandingan maupun lahirnya juara.
Menurutnya, Piala Presiden juga mengemban misi menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
"Turnamen ini bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi, tetapi juga menjaga nilai sportivitas, persatuan, daya juang, keberlanjutan, kepedulian terhadap lingkungan,
dan keberpihakan terhadap ekonomi kerakyatan dengan melibatkan UMKM daerah serta menggerakkan perekonomian lokal di setiap kota," ujarnya.
Baca Juga: Ilhan Fandi Gagalkan Kemenangan Indonesia, Singapura Lolos ke Semifinal Piala AFF 2026
Semangat tersebut juga tercermin dari dampak ekonomi yang dihasilkan. Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, mengungkapkan bahwa hingga babak semifinal, perputaran ekonomi dari penjualan produk UMKM telah mencapai miliaran rupiah.
Angka itu menunjukkan bahwa penyelenggaraan event olahraga mampu menjadi penggerak sektor ekonomi riil.
Bagi para pelaku UMKM, kehadiran turnamen sepak bola berskala nasional bukan hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga kesempatan memperluas pasar, memperkenalkan produk, hingga meningkatkan pendapatan.
Momentum olahraga menjadi panggung bagi usaha-usaha lokal untuk tumbuh bersama.
Inilah wajah lain Piala Presiden yang kerap luput dari sorotan. Di satu sisi, turnamen melahirkan prestasi dan kebanggaan bagi klub juara.
Di sisi lain, ia menghidupkan harapan bagi pelaku usaha kecil yang menggantungkan rezeki dari setiap penyelenggaraan pertandingan.
Ketika peluit panjang berbunyi dan trofi telah terangkat, dampak turnamen tidak berhenti di podium juara.
Jejaknya terus terasa melalui geliat ekonomi yang dinikmati masyarakat. Piala Presiden 2026 membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan, menghubungkan semangat kompetisi dengan kesejahteraan ekonomi.
Di situlah kemenangan sejati sebuah turnamen: ketika prestasi di lapangan mampu berjalan beriringan dengan tumbuhnya ekonomi kerakyatan.(sam)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan