RADAR SURABAYA – Krisis kepemimpinan di FIFA semakin memanas. Aliansi yang terdiri atas UEFA, Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF),
serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dikabarkan tengah menyiapkan langkah besar untuk menggulingkan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Menurut laporan The Times, ketiga konfederasi tersebut telah menyusun strategi untuk "melumpuhkan FIFA" apabila Infantino menolak mengundurkan diri dari jabatannya.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah menggelar turnamen internasional tandingan di luar naungan FIFA.
Tekanan terhadap Infantino meningkat setelah ia membatalkan rencana kontroversial penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada kelompok investor yang dipimpin Josh Kushner, adik Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Proposal tersebut menuai penolakan keras dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola dunia.
Baca Juga: Bursa Transfer: Jordan Henderson Gabung Chelsea, Xabi Alonso Ubah Total Strategi Transfer The Blues
Dampaknya, dukungan terhadap Infantino terus menyusut. UEFA lebih dulu menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap pria berkewarganegaraan Italia-Swiss tersebut.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Federasi Sepak Bola Wales (FAW) juga resmi mencabut dukungan untuk pencalonannya pada pemilihan Presiden FIFA periode 2027–2031 yang akan berlangsung Maret 2027.
Bahkan, Infantino dilaporkan menggelar pertemuan penting dengan pihak Gedung Putih pada Senin (3/8) waktu setempat guna mencari jalan keluar demi mempertahankan posisinya sebagai orang nomor satu di FIFA.
Laporan The Times menyebutkan, jika Infantino tetap bertahan, UEFA, AFC, dan CONCACAF siap mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni membentuk kompetisi internasional baru yang dapat menyaingi turnamen resmi FIFA.
Selain itu, ketiga konfederasi juga mempertimbangkan melakukan "boikot pemerintahan".
Langkah tersebut berupa penolakan untuk meratifikasi berbagai keputusan FIFA, sekaligus tidak menghadiri rapat dewan maupun komite organisasi tersebut.
Seorang sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan seluruh pihak telah sepakat bahwa Infantino harus meninggalkan jabatannya.
Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3, Posisi Garuda Melorot ke Peringkat Ketiga Grup A AFF 2026
"Semua pihak sangat yakin bahwa dia harus pergi. Jika tidak, kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menyingkirkannya dari kekuasaan," ujar sumber tersebut kepada The Times.
Sumber itu juga menegaskan bahwa negara-negara besar lebih memilih bertanding menghadapi kekuatan sepak bola elite dibanding mengikuti kompetisi yang tidak melibatkan negara-negara utama dunia.
Dukungan Gianni Infantino Terus Menyusut
Laporan tersebut menyebutkan Infantino kini diperkirakan hanya mengantongi dukungan sekitar 15 negara anggota FIFA.
Padahal, beberapa bulan lalu ia diyakini hampir mendapat dukungan penuh dari 211 anggota FIFA.
Untuk kembali terpilih sebagai Presiden FIFA, Infantino membutuhkan sedikitnya 106 suara. Hingga kini belum ada kandidat resmi yang menyatakan maju sebagai penantang. Masa pendaftaran calon akan ditutup pada 18 November 2026.
Jika semakin banyak negara menarik dukungan, peluang digelarnya rapat darurat Dewan FIFA untuk membahas masa depan kepemimpinan organisasi tersebut dinilai semakin terbuka.
UEFA Ancam Tempuh Jalur Hukum
Di tengah memanasnya situasi, UEFA juga telah mengirim surat hukum kepada FIFA. Organisasi sepak bola Eropa itu menyatakan tengah mempertimbangkan gugatan hukum, arbitrase,
maupun pengaduan kepada regulator terkait proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) yang sempat mengusulkan penjualan hak komersial Piala Dunia.
UEFA meminta FIFA menjaga seluruh dokumen yang berkaitan dengan proyek tersebut agar tidak dihapus, dimusnahkan, atau diubah karena berpotensi menjadi barang bukti dalam proses hukum.
Surat itu juga meminta FIFA memastikan Presiden Gianni Infantino, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global Arsène Wenger, Sekretaris Jenderal Mattias Grafström, dan Chief Operating Officer Kevin Lamour menyimpan seluruh dokumen yang berkaitan dengan proyek FFE.
Sementara itu, selain Inggris dan Wales, Serbia, Swedia, dan Finlandia juga telah mencabut dukungan terhadap Infantino.
Sebaliknya, Maroko, Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Sri Lanka masih menyatakan dukungan kepada Presiden FIFA tersebut.
Konstelasi politik di tubuh FIFA pun diperkirakan akan terus memanas menjelang pemilihan presiden pada Maret 2027.
Ancaman turnamen tandingan hingga potensi boikot dari konfederasi besar menjadi ujian paling serius bagi kepemimpinan Gianni Infantino sejak menjabat sebagai Presiden FIFA.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : Dailymail.co.uk