RADAR SURABAYA – Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA masih belum benar-benar aman.
Meski menghadapi gelombang kritik dan desakan mundur dari UEFA serta CONCACAF setelah kontroversi rencana penjualan
sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, dukungan dari sejumlah konfederasi membuat peluangnya untuk bertahan masih terbuka lebar.
Laporan Daily mail, Peta politik di tubuh FIFA kini memperlihatkan pertarungan dua kubu yang saling berhadapan.
Di satu sisi, negara-negara Eropa dan Amerika Utara menginginkan perubahan kepemimpinan.
Di sisi lain, sebagian besar negara Asia dan Afrika masih memberikan kepercayaan kepada Infantino.
UEFA dan CONCACAF Memimpin Oposisi
Gelombang penolakan terhadap Infantino dipimpin oleh UEFA dan diikuti CONCACAF. Kedua konfederasi tersebut menilai rencana
penjualan saham senilai sekitar £3,1 miliar (Rp74,8 triliun) dalam kompetisi Piala Dunia dilakukan tanpa transparansi dan mengabaikan prinsip tata kelola organisasi.
Baca Juga: Gianni Infantino Terancam Digulingkan, Dewan FIFA Siapkan Mosi Tidak Percaya
UEFA bahkan menyatakan kepemimpinan Infantino telah kehilangan kepercayaan banyak anggota keluarga besar sepak bola dunia.
Sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Wales, Belanda, dan Norwegia ikut mendukung sikap tersebut.
CONCACAF juga mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan FIFA setelah proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) dibatalkan.
Asia Masih Berdiri di Belakang Infantino
Di tengah tekanan tersebut, Infantino memperoleh angin segar dari Asia. Kuwait, Qatar, Sri Lanka, dan Lebanon secara terbuka menyatakan dukungan kepada Presiden FIFA itu.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memang menyambut baik pembatalan proposal investasi swasta, tetapi tidak ikut menyerukan pengunduran diri Infantino.
Sikap itu dipandang sebagai sinyal bahwa mayoritas anggota AFC masih memberikan kepercayaan kepada kepemimpinannya.
Presiden AFC Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa juga menegaskan bahwa masa depan sepak bola dunia harus dibangun melalui dialog, konsultasi, dan penghormatan terhadap tata kelola organisasi.
Afrika Diperkirakan Tetap Solid Dukung Infantino
Selain Asia, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) diperkirakan tetap menjadi basis dukungan utama Infantino.
Dukungan dari negara-negara Afrika membuat peluang oposisi untuk menjatuhkan Presiden FIFA semakin sulit.
Sementara itu, negara-negara Amerika Selatan juga diperkirakan mengambil posisi yang tidak berseberangan dengan Infantino, meski belum seluruhnya menyampaikan sikap resmi.
Oseania Belum Bulat
Di kawasan Oseania, Selandia Baru berpotensi mendukung langkah UEFA. Namun, belum ada indikasi bahwa mayoritas anggota OFC akan mengikuti sikap tersebut.
Kondisi ini membuat keseimbangan suara di FIFA masih berpihak kepada Infantino.
Peluang Lengser Masih Sulit
UEFA dan CONCACAF menguasai sekitar 90 dari 211 asosiasi anggota FIFA. Jumlah tersebut cukup untuk mengajukan mosi tidak percaya karena telah melampaui ambang batas 20 persen.
Namun, angka itu masih jauh dari mayoritas yang dibutuhkan untuk mencopot Presiden FIFA.
Perhitungan sementara menunjukkan kubu oposisi baru menguasai sekitar 43 persen suara anggota FIFA.
Artinya, mereka masih membutuhkan dukungan tambahan sedikitnya 16 negara agar peluang menggulingkan Infantino menjadi lebih realistis.
Peta Dukungan Gianni Infantino
Mendukung Infantino
Mayoritas anggota AFC (Asia).
Kuwait.
Qatar.
Sri Lanka.
Lebanon.
Mayoritas negara Afrika (diperkirakan).
Sejumlah negara Amerika Selatan (diperkirakan).
Menentang Infantino
UEFA beserta mayoritas anggotanya.
CONCACAF dan 41 asosiasi anggotanya.
Inggris, Wales, Belanda, Norwegia, serta sejumlah federasi Eropa lainnya.
Selandia Baru berpotensi bergabung dengan kubu oposisi.
Dengan komposisi dukungan saat ini, Gianni Infantino masih memiliki peluang besar mempertahankan kursi Presiden FIFA.
Namun, pertarungan politik di organisasi sepak bola dunia diperkirakan belum berakhir.
Jika semakin banyak asosiasi yang mengalihkan dukungan kepada kubu oposisi dalam beberapa pekan ke depan, tekanan terhadap kepemimpinan Infantino akan semakin besar.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : Dailymail.co.uk