RADAR SURABAYA –Badan sepakbola Eropa, UEFA, mengambil langkah tegas terhadap rencana FIFA yang membuka peluang kepemilikan swasta atas sebagian kompetisi Piala Dunia.
Sebanyak 55 anggota UEFA sepakat memboikot seluruh kompetisi FIFA jika rencana tersebut tetap dilanjutkan.
Keputusan itu diambil dalam rapat darurat UEFA yang berlangsung hampir dua jam pada Kamis (30/7).
Laporan The Guardian, seluruh anggota menyatakan penolakan secara bulat terhadap proposal Presiden FIFA Gianni Infantino.
UEFA menegaskan, tim nasional dari negara-negara Eropa tidak akan mengikuti kompetisi yang diselenggarakan FIFA selama rencana tersebut belum dibatalkan sepenuhnya.
Baca Juga: UEFA Ancam Boikot Piala Dunia, Tolak Rencana FIFA Jual Saham Rp360 Triliun
“Tidak ada tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama proposal ini masih ada,” demikian inti pernyataan UEFA.
Sikap tersebut menjadi tantangan serius bagi Infantino yang sebelumnya diperkirakan tidak akan menghadapi lawan kuat dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027.
UEFA Tolak Kepemilikan Swasta atas Piala Dunia
UEFA menilai rencana FIFA untuk menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta berbasis Amerika Serikat berpotensi mengubah tata kelola sepak bola dunia.
Investor ini dipimpin Joshua Kushner, adik dari Jared Khusner, menantu Presiden AS Donald Trump. Jared adalah suami putri Donald Trump, Ivanka Trump.
UEFA meminta FIFA membatalkan proposal tersebut secara keseluruhan serta memberikan jaminan yang mengikat bahwa kompetisi dan tata kelola FIFA tidak akan kembali dibuka untuk kepemilikan swasta.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin memimpin rapat darurat tersebut. Sejumlah anggota Komite Eksekutif UEFA dan perwakilan Eropa di Dewan FIFA turut menyampaikan pandangan.
Sekitar 20 pimpinan federasi sepak bola nasional Eropa kemudian menyampaikan sikap mereka. Suasana rapat disebut berlangsung dalam semangat persatuan.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan UEFA.
Baca Juga: FIFA Mulai Investigasi Argentina usai Ricuh Final Piala Dunia 2026, Sejumlah Pemain Terancam Sanksi
FA menegaskan bahwa Piala Dunia merupakan bagian dari sepak bola yang tidak semestinya diperlakukan sebagai aset untuk diperjualbelikan kepada investor.
Boikot Bisa Dimulai dari Piala Dunia Putri
Ancaman boikot UEFA tidak hanya menyasar Piala Dunia putra. Jika FIFA tidak membatalkan rencananya, aksi tersebut berpotensi dimulai dari kompetisi putri.
Pada level senior, boikot diperkirakan dimulai pada Piala Dunia Putri tahun depan. Sementara itu, turnamen kelompok usia yang kemungkinan menjadi kompetisi FIFA pertama yang terdampak adalah Piala Dunia Putri U-20 di Polandia.
Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 5 September 2026 dan diikuti 24 negara. Enam peserta berasal dari negara anggota UEFA, termasuk Inggris.
Tim putri Inggris juga dijadwalkan menghadapi Yunani dalam playoff kualifikasi Piala Dunia pada Oktober.
Pertandingan tersebut berpotensi menjadi ujian bagi sikap FA Inggris apabila FIFA tidak memenuhi tuntutan UEFA.
UEFA Ajak Konfederasi Lain Ikut Boikot
UEFA juga menyerukan kepada konfederasi lain untuk mengikuti sikap mereka. Sejumlah negara Asia disebut berpotensi memiliki pandangan serupa terhadap rencana FIFA.
Selama ini, dukungan terhadap Infantino banyak berasal dari negara-negara di luar Eropa.
Jika aksi penolakan meluas ke konfederasi lain, posisi Infantino dalam mempertahankan rencananya dapat semakin sulit.
UEFA bahkan menyebut federasi sepak bola dunia kini menghadapi pilihan besar antara menerima perubahan mendasar dalam kepemilikan kompetisi FIFA atau menolak skema tersebut.
Menurut UEFA, rencana FIFA bukan sekadar persoalan bisnis, tetapi menyangkut tata kelola sepak bola global.
Concacaf Siapkan Rapat Darurat
Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) turut menyatakan penolakan terhadap rencana FIFA.
Namun, konfederasi tersebut belum secara resmi memutuskan dukungan terhadap aksi boikot.
Sebanyak 41 anggota Concacaf dijadwalkan menggelar rapat darurat untuk menentukan sikap terhadap konflik tersebut.
Jika Concacaf akhirnya bergabung dengan UEFA, tekanan terhadap FIFA diperkirakan semakin besar.
Sejumlah federasi sepak bola Eropa juga telah berkomunikasi dengan pemerintah masing-masing.
Beberapa pemerintah disebut memberikan dukungan secara pribadi terhadap rencana boikot.
Pemerintah Inggris Dukung Sikap UEFA
Dukungan terhadap UEFA juga datang dari pemerintah Inggris. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya mengkritik rencana FIFA melalui media sosial X.
Baca Juga: Mengapa Gianni Infantino Seperti Tak Tersentuh, 111 Negara Jadi Kuncinya
Burnham menilai Piala Dunia bukan sesuatu yang semestinya dapat dijual kepada pihak tertentu.
Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy kemudian menegaskan dukungan pemerintah terhadap keputusan UEFA.
Menurut Nandy, sepak bola merupakan milik para penggemar, bukan investor miliarder.
Karena itu, diperlukan sikap tegas untuk menjaga tata kelola sepak bola dan kompetisi internasional dari kepentingan komersial yang berlebihan.
Keputusan bulat 55 anggota UEFA tersebut kini menempatkan FIFA dan Infantino dalam tekanan besar.
Jika rencana kepemilikan swasta atas Piala Dunia tidak dihentikan, konflik antara FIFA dan UEFA berpotensi berkembang menjadi krisis terbesar dalam tata kelola sepak bola dunia dalam beberapa tahun terakhir.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : The Guardian