Nyanyian Antiimigran di Stadion Inggris Meningkat, Kick It Out Catat Rekor 1.744 Kasus Diskriminasi

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:29 WIB
Peningkatan retorika antiimigran sejalan dengan tren kenaikan laporan diskriminasi yang lebih luas, baik yang terjadi di pertandingan maupun di media sosial. (The Guardian/Kick It Out)
Peningkatan retorika antiimigran sejalan dengan tren kenaikan laporan diskriminasi yang lebih luas, baik yang terjadi di pertandingan maupun di media sosial. (The Guardian/Kick It Out)

RADAR SURABAYA-  Nyanyian bernada antiimigran semakin marak terdengar di stadion sepak bola Inggris. Organisasi antidisriminasi Kick It Out mencatat tren tersebut sebagai bagian dari lonjakan kasus diskriminasi yang mencapai rekor tertinggi sepanjang musim 2025–2026.

Seperti ditulis The Guardian, dalam laporan tahunannya, Kick It Out menerima 1.744 laporan perilaku diskriminatif, meningkat 25 persen dibandingkan musim sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak organisasi itu berdiri.

Salah satu temuan yang paling menonjol adalah meningkatnya nyanyian antiimigran di berbagai level kompetisi sepak bola Inggris. Sepanjang musim lalu, terdapat 39 laporan terkait nyanyian bernada antiimigran, lebih banyak dibandingkan total laporan pada dua musim sebelumnya.

Frasa seperti "stop the boats" dan "send them back" dilaporkan kerap terdengar di stadion sebagai bagian dari tren meningkatnya nyanyian diskriminatif yang dilakukan secara massal oleh suporter.

Selain antiimigran, laporan diskriminasi juga meningkat di seluruh kategori. Kasus rasisme masih menjadi yang terbanyak dengan 792 laporan, atau sekitar 45 persen dari total laporan, naik 19 persen dibandingkan musim sebelumnya.

Sementara itu, laporan seksisme meningkat 12 persen menjadi 216 kasus, homofobia naik 46 persen menjadi 203 kasus, antisemitisme bertambah 43 persen menjadi 93 kasus, ableisme meningkat 20 persen menjadi 89 kasus, sedangkan islamofobia melonjak 88 persen menjadi 60 kasus. Kick It Out menyebut seluruh kategori tersebut mencatat angka tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Kasus diskriminasi juga terus meningkat di level sepak bola akar rumput (grassroots football). Sepanjang musim 2025–2026, organisasi tersebut menerima 248 laporan, naik 33 persen dan menjadi rekor baru. Sementara itu, laporan pelecehan terhadap perangkat pertandingan mencapai 98 kasus, setara dengan total laporan dalam tiga musim sebelumnya.

Baca Juga: Sepak Bola Inggris Uji Coba Aturan Baru, Kiper Tak Bisa Lagi Manfaatkan Cedera untuk Time-out Taktis

Kepala Eksekutif Kick It Out, Samuel Okafor, mengatakan peningkatan diskriminasi di stadion maupun media sosial mencerminkan meningkatnya ujaran kebencian dan retorika politik yang memecah belah di Inggris.

"Data ini menunjukkan bahwa diskriminasi masih mengakar dalam sepak bola, seiring meningkatnya kejahatan kebencian dan retorika politik yang memecah belah di Inggris. Namun, semakin banyak orang yang berani melawan tindakan diskriminatif ketika menyaksikannya. Kami juga melihat semakin banyak pemain profesional yang memberikan teladan dengan bersuara melawan pelecehan," ujar Okafor.

Sepanjang musim lalu, sejumlah pemain menjadi korban pelecehan rasial. Pada Maret 2026, seorang pria berusia 60 tahun dijatuhi hukuman percobaan karena mengirimkan pesan bernada menghina kepada bek tim nasional putri Inggris, Jess Carter.

Di kompetisi putra, penyerang Bournemouth Antoine Semenyo juga mengungkapkan dirinya menjadi sasaran pelecehan rasial sepanjang musim. Salah satu tersangka telah didakwa atas tuduhan melakukan tindakan bermotif rasial dan dijadwalkan menjalani persidangan pada September mendatang.

Kick It Out berharap meningkatnya jumlah laporan bukan hanya mencerminkan bertambahnya kasus diskriminasi, tetapi juga menunjukkan semakin banyak korban maupun saksi yang berani melaporkan tindakan intoleransi di dunia sepak bola Inggris.(rak)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : The Guardian
Kick it Out samuel okafor diskriminasi sepak bola Inggris