UEFA Ancam Boikot Piala Dunia, Tolak Rencana FIFA Jual Saham Rp360 Triliun

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 06:42 WIB
Gianni Infantino dan Donald Trump saat menyerahkan trofi Piala Dunia 2026 kepada kapten timnas Spanyol, Rodri. (ESPN/Carl Recine/Getty Images)
Gianni Infantino dan Donald Trump saat menyerahkan trofi Piala Dunia 2026 kepada kapten timnas Spanyol, Rodri. (ESPN/Carl Recine/Getty Images)

RADAR SURABAYA – Badan sepakbola Eropa, UEFA, mempercepat langkah menggelar rapat darurat bersama 55 asosiasi anggotanya pada pekan ini untuk membahas berbagai opsi, termasuk kemungkinan memboikot Piala Dunia. 

Langkah tersebut merupakan respons terhadap rencana FIFA menghimpun dana sebesar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp360 triliun melalui penjualan sebagian kepemilikan kepada investor eksternal.

Berdasarkan informasi yang diperoleh ESPN, FIFA di bawah kepemimpinan Presiden Gianni Infantino ingin membuka potensi komersial organisasi melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).

Badan baru itu akan mengelola aktivitas komersial sekaligus penyelenggaraan berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri.

Dalam proses tersebut, FIFA menggandeng J.P. Morgan sebagai penasihat keuangan. Salah satu calon investor yang disebut tertarik adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner, adik Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Baca Juga: 'He’s back’: Zinedine Zidane Tangani Les Bleus Prancis Hingga Empat Tahun ke Depan

Rencana tersebut langsung memicu penolakan keras dari UEFA.

Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa "sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual."

Penolakan juga datang dari Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang melalui akun X menyatakan bahwa sepak bola tidak boleh menjadi komoditas para investor.

Menurut sumber ESPN, mayoritas pemangku kepentingan sepak bola Eropa menilai proposal FIFA telah melampaui batas tata kelola olahraga yang selama ini dijunjung tinggi.

"UEFA memandang persoalan ini dengan sangat serius. Demikian pula seluruh asosiasi nasional, liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan semua pihak yang peduli terhadap masa depan sepak bola," demikian bunyi pernyataan UEFA.

UEFA juga menegaskan bahwa jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang dapat diperjualbelikan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh manfaat finansial.

Sebagai bentuk konsolidasi, UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan virtual seluruh 55 asosiasi anggotanya sebelum akhir pekan guna menentukan sikap bersama terhadap proposal FIFA.

Baca Juga: Sepak Bola Inggris Uji Coba Aturan Baru, Kiper Tak Bisa Lagi Manfaatkan Cedera untuk Time-out Taktis

Ancaman boikot bukan hal baru. Pada 2021, UEFA pernah mengancam memboikot rencana penyelenggaraan Piala Dunia dua tahunan yang akhirnya membuat FIFA membatalkan gagasan tersebut.

Strategi serupa diperkirakan kembali digunakan untuk menghambat proposal terbaru ini.

Di sisi lain, FIFA menegaskan pembentukan FFE bertujuan memperbesar investasi bagi pengembangan sepak bola dunia.

FFE menargetkan penghimpunan dana sebesar 4,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp75, 6 triliun hingga akhir tahun ini.

Dana tersebut diperoleh melalui penjualan saham minoritas tanpa hak pengendalian berdasarkan valuasi awal perusahaan sebesar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp360 triliun.

Gianni Infantino menyatakan skema tersebut akan membantu mendemokratisasi perkembangan sepak bola global dengan meningkatkan distribusi dana kepada seluruh federasi anggota FIFA.

Melalui Program FIFA Fast-Forward, setiap dari 211 federasi anggota berpotensi menerima pendanaan yang jauh lebih besar hingga 2038.

Jika sebelumnya setiap federasi memperoleh 8 juta dolar AS atau sekitar Rp144 miliar untuk siklus komersial Piala Dunia 2027–2030, maka nilainya akan meningkat menjadi sekitar 20 juta dolar AS (Rp360 miliar),

kemudian 22 juta dolar AS (Rp396 miliar), dan 24 juta dolar AS (Rp432 miliar) pada siklus berikutnya.

Baca Juga: Polda Jatim Gelar Upacara Sertijab 18 Kapolres Jajaran, Salah Satunya Polres Tanjung Perak

FIFA juga mengungkapkan bahwa Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghasilkan pendapatan rekor sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp216 triliun.

 Namun, sejumlah pihak meragukan apakah angka tersebut dapat kembali dicapai pada Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko.

Meski membuka peluang investasi, FIFA menegaskan tetap memegang kendali penuh atas FFE.

Organisasi tersebut memastikan kewenangan terkait tata kelola sepak bola, penyelenggaraan kompetisi, kalender pertandingan, serta regulasi olahraga tidak akan dialihkan kepada investor.

Selain itu, FIFA menegaskan seluruh federasi anggota bebas menentukan apakah akan berpartisipasi dalam skema pendanaan baru tersebut.

Hingga kini, FIFA belum menetapkan jadwal pembahasan maupun pengambilan keputusan atas proposal tersebut.

Kongres FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung secara daring pada 23 November, dengan agenda utama menetapkan tuan rumah Piala Dunia Putri 2031 dan 2035.(rak) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : ESPN
FFE boikot FIFA Uefa Gianni Infantino