Sepak Bola Dinamis Iraola Diyakini Bisa Menghidupkan Liverpool Meski Ada Kekhawatiran soal Beban Pemain
RADAR SURABAYA- Ada satu titik dalam banyak diskusi sepak bola ketika semua detail dan kerumitan mengerucut menjadi satu pertanyaan sederhana.
Bagi Liverpool, pertanyaan itu adalah: apakah peluang mereka untuk bersaing memperebutkan gelar liga musim depan lebih besar bersama Arne Slot atau Andoni Iraola?
Ketika pertanyaan itu diajukan secara langsung, jawabannya dianggap jelas oleh manajemen klub. Karena itulah Slot akhirnya digantikan oleh Iraola.
Keputusan tersebut mungkin terlihat bertentangan dengan logika. Slot baru saja membawa Liverpool menjuarai Premier League musim lalu,
sementara Iraola bahkan belum pernah menangani klub di kompetisi Eropa. Sebagian pihak melihat pergantian ini sebagai bukti betapa tidak sabarnya dunia sepak bola modern.
Baca Juga: Resmi Pecahkan Rekor! Mathew Baker Jadi Debutan Termuda dalam Sejarah Timnas Indonesia
Mungkin saja Slot sebenarnya masih mampu membangkitkan kembali kepercayaan ruang ganti dan menghidupkan performa tim apabila diberi waktu lebih lama. Namun dalam dunia kepelatihan, kesempatan kedua seperti itu jarang berhasil.
Pelatih legendaris Bela Guttmann pernah mengibaratkan manajer sepak bola seperti pawang singa.
Sedikit saja menunjukkan rasa takut, maka otoritasnya akan hilang. Seorang pemilik klub bahkan pernah menggambarkan momen ketika "cahaya" dalam diri seorang pelatih
mulai padam, ditandai dengan penurunan kualitas keputusan, munculnya paranoia, hingga kebiasaan menyalahkan pihak lain.
Slot mungkin belum sampai ke tahap tersebut. Namun pada akhir musim lalu, hubungan antara dirinya dengan suporter maupun sejumlah pemain tampak telah mencapai titik yang sulit diperbaiki.
Reaksi para pemain terhadap unggahan media sosial Mohamed Salah yang mengkritik Slot menjadi salah satu indikator bahwa situasi di ruang ganti tidak lagi ideal.
Baca Juga: Janice Tjen/Talia Gibson Juara Birmingham Classic 2026, Tambah Koleksi Gelar Ganda WTA Jadi Lima
Tantangan Besar Menanti Iraola
Meski Slot dianggap bukan lagi sosok yang tepat, bukan berarti Iraola otomatis menjadi jawaban sempurna.
Setiap kali klub elite merekrut pelatih dari luar lingkaran elite Eropa, selalu ada risiko besar. Tuntutan melatih Liverpool sangat berbeda dibandingkan menangani Bournemouth.
Contoh terbaru adalah Thomas Frank. Saat direkrut Tottenham Hotspur dari Brentford, banyak yang meyakini ia merupakan pilihan ideal. Namun masa jabatannya berakhir lebih cepat dari perkiraan setelah Spurs mengalami penurunan performa yang drastis.
Karena itu, muncul pertanyaan serupa terhadap Iraola. Di Bournemouth, hasil imbang sebanyak 18 kali dalam satu musim mungkin tidak menjadi masalah besar.
Namun di Liverpool, catatan seperti itu akan memicu sorotan media dan tekanan publik yang luar biasa.
Statistik juga menunjukkan Bournemouth kerap kehilangan poin dari posisi unggul. Hanya Newcastle United yang lebih banyak kehilangan poin setelah memimpin pertandingan dibanding Bournemouth musim lalu.
Tim asuhan Iraola sempat unggul dalam 23 pertandingan liga, tetapi akhirnya delapan kali bermain imbang dan dua kali kalah.
Situasi tersebut bisa saja disebabkan keterbatasan kualitas skuad Bournemouth dan akan teratasi di Liverpool yang memiliki kedalaman pemain lebih baik.
Namun itu tetap menjadi salah satu aspek yang akan mendapat perhatian besar apabila Liverpool kehilangan keunggulan pada awal musim mendatang.
Prestasi Luar Biasa di Bournemouth
Di sisi lain, ada banyak alasan untuk optimistis terhadap kedatangan Iraola.
Pelatih asal Spanyol itu dinilai berhasil melakukan pekerjaan luar biasa di Bournemouth.
Baca Juga: Siantar Top Optimistis Raih Pertumbuhan Double Digit pada 2026, Perkuat Ekspor dan Pasar Domestik
Klub tersebut memiliki salah satu anggaran gaji terendah di Premier League, tetapi mampu bersaing di papan atas.
Musim lalu, Iraola kehilangan penjaga gawang utama, tiga pemain reguler di lini belakang, serta seorang penyerang yang sebelumnya mencetak tujuh gol.
Pada Januari, ia juga kehilangan pemain serang terbaiknya. Meski demikian, Bournemouth tetap mampu finis di posisi keenam klasemen.
Pencapaian tersebut dianggap sebagai salah satu prestasi manajerial terbaik di Premier League musim lalu.
Gaya Bermain Mirip Era Jurgen Klopp
Salah satu alasan utama Liverpool tertarik kepada Iraola adalah gaya bermainnya yang dianggap cocok dengan identitas klub.
Bournemouth dikenal sebagai tim yang agresif, progresif, dan enak ditonton. Karakter tersebut sangat berbeda dengan kesan pasif yang kadang muncul pada Liverpool di bawah Slot.
Formasi 4-2-3-1 yang sering digunakan Iraola juga dinilai sesuai dengan arah pembangunan skuad Liverpool saat ini.
Kehadiran gelandang kreatif seperti Florian Wirtz diperkirakan akan berkembang pesat dalam sistem tersebut.
Selain itu, peran bek sayap yang sangat ofensif menjadi elemen penting dalam filosofi Iraola.
Hal ini berpotensi menguntungkan Milos Kerkez yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan sang pelatih di Bournemouth.
Statistik menunjukkan bahwa selama tiga musim terakhir, Bournemouth menjadi salah satu tim dengan tekanan tinggi (pressing) paling agresif di Premier League.
Tidak ada tim yang menciptakan lebih banyak tembakan setelah merebut bola di area sepertiga akhir lapangan lawan.
Bagi Liverpool, pendekatan tersebut mengingatkan pada era sukses Jurgen Klopp dengan gaya gegenpressing yang intens dan energik.
Cocok untuk Liverpool, tetapi Tanpa Jaminan
Secara keseluruhan, Iraola dinilai memiliki karakter dan filosofi permainan yang cocok dengan Liverpool. Ia juga menunjukkan kemampuan manajerial yang impresif selama menangani Bournemouth.
Namun, tantangan di Anfield berbeda dari apa pun yang pernah dihadapinya sebelumnya. Tekanan, ekspektasi, dan sorotan media akan meningkat berkali-kali lipat.
Karena itu, meskipun banyak alasan untuk optimistis, tidak ada jaminan bahwa Iraola akan langsung sukses.
Yang pasti, Liverpool kini memilih jalan baru dengan harapan bisa mengembalikan energi, intensitas, dan identitas permainan yang pernah membuat mereka begitu ditakuti di era Jurgen Klopp.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan