Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Aturan Baru Liga Inggris: Sentuhan Kecil di Kotak Penalti Bisa Berujung Petaka

Rahmat Adhy Kurniawan • Jumat, 15 Agustus 2025 | 12:40 WIB
Ofisial perrandingan diperintahkan untuk mengawasi dengan ketat insiden-insiden di set-play di mana pemain menghalangi lawan mereka.
Ofisial perrandingan diperintahkan untuk mengawasi dengan ketat insiden-insiden di set-play di mana pemain menghalangi lawan mereka.

RADAR SURABAYA – Liga Primer Inggris musim ini akan menghadirkan perubahan besar dalam penegakan aturan, khususnya terkait pelanggaran menahan bola secara sengaja.

Para wasit diperintahkan untuk lebih tegas dalam mengawasi situasi bola mati, sebuah langkah yang diperkirakan dapat memicu lebih banyak penalti dari skema tendangan sudut.

Instruksi ini menekankan pengawasan terhadap momen ketika pemain menghalangi lawan dengan menahan tubuh atau memegang menggunakan kedua tangan, fokus pada lawan alih-alih merebut bola, serta pelanggaran yang memengaruhi pergerakan penyerang.

Langkah ini diambil setelah sejumlah momen krusial musim lalu dan masukan dari klub-klub papan atas yang menilai wasit terlalu lunak dalam menangani pelanggaran jenis ini.

Tindakan menahan bola kerap dianggap bagian dari dark arts atau “seni gelap” dalam sepak bola.

VAR Tetap Punya Peran Penting

Meski aturan diperketat, keputusan penalti masih akan melalui pemeriksaan VAR. Teknologi ini dapat merekomendasikan perubahan jika ditemukan kesalahan jelas dari wasit lapangan.

Musim lalu, Arsenal di bawah pelatih spesialis bola mati Nicolas Jover menjadi sorotan karena efektivitas taktik mereka dalam memanfaatkan peluang dari situasi bola mati.

Arsenal, yang sering mencetak gol dari bola mati, bisa terkena dampak aturan baru ini.
Arsenal, yang sering mencetak gol dari bola mati, bisa terkena dampak aturan baru ini.

Pendekatan ‘Khusus Kapten’ dan Aturan 8 Detik Kiper

Selain fokus pada pelanggaran menahan bola, Liga Primer juga menyoroti aksi simulasi (diving). Wasit kini dapat menerapkan pendekatan “khusus kapten”, yakni hanya berbicara langsung dengan kapten untuk menjelaskan keputusan penting.

Kapten bertugas menenangkan rekan setim agar tidak mengerumuni wasit. Jika kapten adalah penjaga gawang, pemain outfield akan ditunjuk sebagai wakil.

Untuk keputusan-keputusan penting, wasit dapat menggunakan pendekatan ‘hanya kapten’, di mana mereka mengundang kapten untuk menjelaskan pemikiran mereka.
Untuk keputusan-keputusan penting, wasit dapat menggunakan pendekatan ‘hanya kapten’, di mana mereka mengundang kapten untuk menjelaskan pemikiran mereka.

Untuk mengurangi pemborosan waktu, penjaga gawang diberikan waktu maksimal delapan detik untuk melepaskan bola.

Hitungan dimulai ketika tidak ada lawan di dekatnya dan kiper siap melakukan lemparan atau tendangan.

Liga Primer juga akan menguji coba ref-cam—kamera yang dikenakan wasit—selama enam hingga delapan pekan awal musim.

Kembali Berlutut untuk Kampanye Antirasisme

Dipastikan pula bahwa para pemain akan kembali melakukan aksi berlutut pada Oktober sebagai bagian dari kampanye “No Room for Racism”.

Keputusan ini diambil setelah pertemuan para kapten klub yang sepakat melakukannya sebelum kick-off di dua pekan pertandingan bulan tersebut.

Tim-tim Liga Primer akan berlutut pada bulan Oktober sebagai bagian dari kampanye No Room for Racism.
Tim-tim Liga Primer akan berlutut pada bulan Oktober sebagai bagian dari kampanye No Room for Racism.

Awal musim panas ini, timnas putri Inggris (Lionesses) memutuskan berhenti berlutut di Kejuaraan Eropa usai pelecehan rasis terhadap Jess Carter.

Lembaga amal Kick It Out mendukung langkah itu, sementara pelatih Sarina Wiegman menyebutnya “tidak cukup baik”.

Meski begitu, kapten klub Liga Primer menilai gestur berlutut masih menjadi simbol kuat melawan rasisme.

Aksi ini pertama kali dilakukan pada 2020, dipicu gerakan Black Lives Matter setelah pembunuhan George Floyd di Amerika Serikat.

Sejak saat itu, klub-klub EFL serta tim nasional Inggris putra dan putri juga mengadopsinya, meski kini jarang dilakukan.

Musim lalu, aksi berlutut hanya terjadi di laga pembuka, laga penutup, serta pertandingan bertema “No Room for Racism” pada Oktober dan April.(rak)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Waait liga inggris #Arsenal #dark arts #Liga Primer Inggris #Nicolas Jover #Aturan baru liga inggris #George Floyd #No Room for Racism #Black Lives Matter #menahan bola secara sengaja #penegakan aturan