RADAR SURABAYA - Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, mencatat sejarah di Prancis Terbuka 2025 dengan menghentikan rekor 26 kemenangan beruntun Iga Swiatek di Roland Garros.
Dalam pertandingan semifinal yang sengit pada Kamis (5/6), Sabalenka menang dengan skor 7–6(1), 4–6, 6–0 dan memastikan tempat di final Grand Slam tanah liat pertamanya.
Kemenangan tersebut menjadi sorotan utama dunia tenis karena Sabalenka berhasil menggagalkan peluang Swiatek untuk menjadi
wanita pertama sejak era Open dimulai pada 1968 yang meraih empat gelar French Open secara beruntun.
Peluang Gelar Grand Slam Keempat untuk Aryna Sabalenka
Hasil ini membuka peluang Sabalenka meraih gelar Grand Slam keempat dalam kariernya—dan yang pertama di luar lapangan keras.
Sebelumnya, petenis asal Belarus ini telah dua kali menjuarai Australia Terbuka dan sekali US Open.
“Rasanya luar biasa, tetapi saya sadar pekerjaan ini belum selesai,” ujar Sabalenka yang merebut peringkat teratas WTA dari Swiatek pada Oktober 2024.
“Ia adalah lawan terberat, terutama di Roland-Garros. Saya bangga bisa meraih kemenangan ini. Pertandingan tadi sangat sulit... tetapi saya berhasil.”
Siap Hadapi Gauff atau Lois Boisson di Final Prancis Terbuka
Di final Prancis Terbuka 2025 yang digelar Sabtu mendatang, Sabalenka akan menghadapi pemenang antara petenis peringkat 2 dunia, Coco Gauff, atau wakil tuan rumah Lois Boisson, petenis peringkat 361 dunia yang mendapat wild card.
Saat diwawancarai seusai pertandingan, Sabalenka sempat bercanda kepada penonton mengenai kemungkinan berhadapan dengan Boisson.
“Saya cukup yakin kalian akan bersorak untuk satu orang seperti orang gila, dan saya tidak yakin apakah saya benar-benar ingin dia menang,” ujarnya.
Sabalenka Tampil Dominan di Set Penentuan
Performa Sabalenka di set ketiga menjadi sorotan. Ia tampil sangat dominan tanpa membuat satu pun kesalahan sendiri, sementara Swiatek justru melakukan 12 unforced error. Sabalenka menang telak 6–0 di set penentu.
“Maksud saya, 6–0. Apa yang bisa saya katakan? Tidak ada yang lebih sempurna dari itu,” katanya.
Atap lapangan Court Philippe-Chatrier ditutup karena hujan ringan, menciptakan kondisi permainan yang stabil.
Sabalenka memanfaatkan situasi ini untuk memaksa Swiatek terus melakukan kesalahan.
Masa Sulit Iga Swiatek di Grand Slam 2025
Swiatek, petenis asal Polandia yang kini berusia 24 tahun, tengah mengalami penurunan performa. Sejak menjuarai Roland-Garros pada 2024, ia belum pernah mencapai final turnamen mana pun.
Swiatek juga sempat tereliminasi di semifinal Olimpiade Musim Panas 2024, yang juga berlangsung di Roland-Garros, dan hanya meraih medali perunggu.
Ia juga terkena sanksi larangan bertanding selama sebulan pada akhir musim lalu akibat hasil positif doping. Namun, hasil tersebut dinyatakan sebagai akibat dari obat yang terkontaminasi dan tidak disengaja.
Sabalenka Calon Juara Grand Slam Tanah Liat 2025
Aryna Sabalenka kini dianggap sebagai pemain paling konsisten di tur WTA. Ia telah mencapai enam final sepanjang musim ini—terbanyak dibanding petenis wanita lainnya—dan menjadi
wanita pertama sejak Serena Williams pada 2016 yang berhasil tampil di tiga final Grand Slam berturut-turut (Australia, Prancis, Wimbledon).
Meski dikenal dengan pukulan keras di lapangan cepat, Sabalenka kini membuktikan bahwa kekuatannya tetap efektif di lapangan tanah liat yang lebih lambat.
Saat memukul bola, dentuman dari raketnya bahkan terdengar bergema di atap tertutup stadion utama Roland-Garros.
Sabalenka langsung mematahkan servis Swiatek di gim pertama dan unggul 4–1. Meskipun Swiatek sempat bangkit dan memimpin 5–4, Sabalenka tampil dominan di tiebreak set pertama.
Swiatek kemudian mengambil waktu istirahat sebelum set kedua dan sempat menyamakan skor, namun Sabalenka tak terbendung di set ketiga.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan