RADAR SURABAYA - Drama perceraian pasangan selebritas Andre Taulany dan Erin terus bergulir dan menjadi sorotan publik. Setelah hampir dua dekade membina rumah tangga, Andre diketahui telah mengajukan gugatan cerai terhadap Erin sebanyak empat kali.
Namun hingga Oktober 2025, tiga gugatan telah ditolak oleh Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Di tengah proses hukum yang berlarut-larut, muncul pula tuduhan mengenai gaya hidup boros dan perilaku kasar yang diarahkan kepada Erin, yang kemudian dibantah keras oleh sang istri.
Dalam dokumen gugatan yang beredar luas di media sosial, Andre menuding Erin memiliki gaya hidup hedonis dan boros, termasuk pengeluaran pribadi yang mencapai puluhan juta rupiah per bulan di luar kebutuhan rumah tangga.
Ia juga menyebut adanya sikap kasar Erin terhadap asisten rumah tangga yang turut memicu ketegangan dalam rumah tangga mereka.
Namun, Erin membantah keras semua tuduhan tersebut. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @erintaulany, ia menyebut bahwa dirinya telah difitnah dan merasa disudutkan secara sepihak.
“Saya seorang ibu dari tiga anak-anaknya. Kemana hati nuraninya ketika ibunya difitnah seperti ini, seolah-olah saya adalah istri yang antagonis, hedon, boros,” tulis Erin.
Sidang mediasi yang dijadwalkan pada Jumat (17/10) kembali gagal karena Erin tidak hadir.
Andre datang bersama kuasa hukumnya, Galih Rakasiwi, dan mediator yang bersedia meluangkan waktu meski tidak memiliki jadwal resmi.
“Ternyata hari ini (Erin) tidak datang lagi ya. Tadi ditunggu juga sampai jam 10.00 WIB,” ujar Galih kepada media.
Perceraian Andre dan Erin Taulany kini memasuki fase yang semakin kompleks. Penolakan gugatan cerai oleh pengadilan, tudingan gaya hidup boros, hingga ketidakhadiran Erin dalam sidang mediasi membuat publik terus mengikuti perkembangan kasus ini.
Di tengah sorotan media dan netizen, keduanya diharapkan dapat menyelesaikan persoalan rumah tangga mereka secara dewasa dan damai, terutama demi kepentingan ketiga anak mereka.
Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga privasi dan etika dalam menyelesaikan konflik rumah tangga, terlebih ketika melibatkan figur publik yang menjadi panutan banyak orang. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari