Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Resmi Sandang Gelar Doktor, Ashanty Sukses Jalani Sidang Disertasi di Unair Surabaya Usai 4 Kali Judul Ditolak 

Rahmat Sudrajat • Kamis, 14 Mei 2026 | 05:10 WIB
Anang Hermansyah hadir langsung dalam sidang doktor Ashanty di Pascasarjana Unair. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
Anang Hermansyah hadir langsung dalam sidang doktor Ashanty di Pascasarjana Unair. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA - Penyanyi sekaligus istri dari Anang Hermansyah, Ashanty Hastuti, menyita perhatian publik setelah lama jarang muncul di panggung hiburan. Ternyata ia sedang sibuk menyelesaikan program doktor di Universitas Airlangga (Unair).  

Rabu (13/5), Ashanty resmi menyandang gelar Doktor setelah berhasil melewati ujian terbuka Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair). 

Dalam sidang tersebut, ia mempertahankan disertasinya yang berjudul Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia.

Baca Juga: Tragedi Keracunan MBG Ratusan Siswa di Surabaya, Dinkes dan BGN Ungkap Pelanggaran SOP Dapur SPPG Tembok Dukuh 

Ashanty mengakui bahwa perjalanan meraih gelar doktor bukanlah hal yang mudah dan berjalan mulus. 

Di tengah kesibukannya sebagai penyanyi, istri, ibu, hingga nenek, ia harus menghadapi proses akademik yang panjang, penuh revisi, dan sempat membuatnya hampir menyerah berkali-kali. 

Ia mengaku sangat berhutang budi kepada promotornya yang selalu memberi semangat hingga tugas akhirnya rampung. 

Baca Juga: Tangis Ashanty Tak Dianggap Artis dan Dinyatakan Lolos Kualifikasi Kuliah S3 di Unair Surabaya

“Alhamdulillah setelah melewati perjuangan panjang berkat promotor saya yang luar biasa ini. Kalau bukan karena Pak Suko mungkin aku enggak selesai dari sini. Beliau selalu memotivasi, selalu memberikan energi positif bahwa tidak boleh menyerah, harus berjuang sampai titik akhir,” ujar Ashanty. 

Salah satu cobaan terberat yang dihadapi Ashanty adalah saat menentukan judul penelitiannya. Ia mengungkapkan, judul disertasinya sempat ditolak sebanyak empat kali berturut-turut. 

Padahal, ia bahkan sudah melakukan publikasi untuk salah satu judul tersebut. Namun berkat ketekunannya, barulah judul keempat yang diajukannya diterima dan bisa dibawa ke tahap penulisan.

Baca Juga: Lagi-Lagi Benang Layangan Makan Korban, Kali Ini Anggota Tagana Situbondo Nyaris Tewas Akibat Leher Terjerat

“Ditolak judul empat kali. Judul pertama ditolak, kedua, ketiga, bahkan saya sudah publikasi juga, tapi ditolak lagi. Jadi judul keempat baru diterima,” ungkapnya.

Menurutnya, tantangan terbesarnya adalah membagi waktu dan fokus antara tanggung jawab akademik dengan kesibukan di dunia hiburan serta urusan rumah tangga. 

Ia mengaku sangat mengapresiasi siapa pun yang berusaha menuntut ilmu di usia yang sudah tidak muda lagi, mengingat banyaknya gangguan dan tanggung jawab lain yang harus dipikul.

“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi. Aku juga kesibukan sebagai istri, ibu, nenek, kerjaan banyak, ikut lomba dan banyak hal, tapi tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” katanya.

Baca Juga: Cak Ji Digeruduk Puluhan Biduan Surabaya, Bukan Buat Nyanyi, Tapi Diwaduli Arisan Bodong dengan Kerugian Rp 2,2 Miliar

Melalui penelitian yang telah disusunnya setebal 300 halaman ini, Ashanty berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan industri musik di Tanah Air. 

Secara khusus, penelitian ini menyoroti bagaimana para musisi dari generasi terdahulu mampu beradaptasi atau menghadapi perubahan besar akibat kemajuan teknologi dan transformasi digital yang terjadi saat ini.

“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara Baby Boomers dan Generasi X dalam beradaptasi di dunia digital, tapi yang dibahas dan dibedah di dalamnya sangat banyak sekali,” harapnya.

Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual di UNU Blitar: 15 Mahasiswi Jadi Korban, Kampus Nonaktifkan Dosen Senior

Sementara itu, promotor sekaligus dosen pembimbing, Dr. Suko Widodo, menegaskan bahwa selama proses akademik berlangsung tidak ada perlakuan khusus yang diberikan kepada Ashanty hanya karena ia seorang figur publik atau artis terkenal. 

Standar penilaian yang diterapkan sama persis dengan mahasiswa lainnya, dan Ashanty dinilai mampu memenuhi syarat kedisiplinan serta konsistensi yang dituntut dunia akademik.

“Saya kira tidak ada kompromi. Mau artis, mau anak presiden, apa pun dalam pengetahuan saya, hak dan kewajibannya sama. Ashanty telah memenuhi kedisiplinan sebagai seorang akademisi dan konsisten dalam menjalani prosesnya,” tegas Suko.

Baca Juga: Chia Seed Jadi Superfood Favorit Ini Deretan Manfaatnya untuk Kesehatan

Ia menilai penelitian Ashanty sangat menarik karena mengangkat isu yang jarang dibahas dalam kajian akademik di Indonesia, yaitu perjuangan para penyanyi senior dalam menghadapi perubahan zaman menuju digitalisasi. 

Ia memberi contoh bagaimana tokoh legendaris seperti Rafika Duri atau Rhoma Irama harus berhadapan dengan gaya dan pola kerja para musisi muda masa kini.

“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya, isinya sampai 300 halaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suko menyebutkan bahwa kekuatan utama dari penelitian Ashanty terletak pada pendekatan penceritaan atau storytelling serta pendokumentasian pengalaman para musisi senior. 

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Warga Surabaya Diajak Raih Cuan dengan Memilah Sampah

Hal ini dinilai sangat berharga karena selama ini riwayat dan pengalaman berharga mereka jarang tercatat secara rapi dalam bentuk kajian ilmiah.

“Hal paling penting bagi Ashanty adalah autentifikasi dari orang-orang yang memang layak diapresiasi. Di Indonesia, histori akademis pribadi seperti itu relatif belum ada, dan dia berhasil melakukannya,” ujarnya.

Suami Ashanty, Anang Hermansyah, mengaku bangga dan tak menyangka istrinya mampu melangkah sejauh ini dalam dunia pendidikan. 

Baca Juga: Gajah Sumatera di Bengkulu Kini Dipantau Drone Thermal

Ia mengenang saat awal menjalin hubungan asmara, Ashanty baru saja menyelesaikan pendidikan S1 dan sempat menyatakan tidak akan melanjutkan sekolah lagi. 

“Enggak ada dalam bayangan dia bahwa dia harus ada di podium tadi, bahwa dia sekarang ada di akademi dan selesai dengan baik. Karena waktu ketemu aku, pacaran dengan aku, dia sudah selesai S1 dan bilang enggak akan ngurusin pendidikan lagi,” ungkap Anang.

Bagi Anang, pencapaian meraih gelar doktor adalah hal yang benar-benar di luar dugaan sang istri. 

Baca Juga: Memprihatinkan, Kali Tebu Surabaya Panen Popok 

Ia berharap ilmu dan hasil penelitian yang telah disusun Ashanty nantinya dapat diterapkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya pelaku industri musik yang membutuhkan panduan untuk tetap bersaing di era modern.

“Ternyata bisa sampai S3 itu hal yang di luar ekspektasi dia. Buat aku, selamat ya. Mudah-mudahan nanti keilmuan dia bisa diaplikasikan kepada masyarakat, terutama di industri musik Indonesia yang memang membutuhkan masukan agar seni musik kita bisa terus berkompetisi di masa kini,” ujarnya.

Anang juga menilai latar belakang Ashanty yang beragam sebagai penyanyi, tokoh berpengaruh, hingga pembuat konten di YouTube membuat hasil penelitiannya menjadi sangat relevan dan tepat sasaran dengan kondisi industri saat ini.

Baca Juga: Wamendagri Minta Kepala Daerah Aktif Turun ke Lapangan Kendalikan Inflasi, Jatim Dinilai Jadi Penopang Pangan Nasional

“Ashanty berada di posisi yang cukup menarik di industri. Dia bernyanyi, punya kegiatan lain, menjadi influencer, juga YouTuber. Langkahnya sangat strategis hingga bisa menyelesaikan perjalanan akademis yang bagus ini, sekaligus menyebarkan pengalaman bagaimana ia bertahan di industri hiburan hingga usia saat ini,” pungkasnya. (rmt)

Editor : Nurista Purnamasari
#gelar doktor #surabaya #disertasi #ashanty #Unair