RADAR SURABAYA - Penampilan Green Day akhirnya menjadi salah satu sorotan utama dalam ajang Super Bowl LX yang digelar di Levi’s Stadium, California, Minggu (8/2).
Band punk legendaris asal Amerika Serikat itu membuka acara dengan membawakan sejumlah lagu ikonik, termasuk Good Riddance (Time of Your Life) dan Holiday.
Namun, ada hal berbeda dari penampilan kali ini. Green Day memilih untuk tidak menyanyikan bait-bait politis yang selama ini menjadi ciri khas mereka.
Pada lagu Holiday, bagian jembatan yang berisi sindiran tajam terhadap Presiden Amerika Serikat saat lagu itu dirilis pada 2004 sengaja dilewati.
Hal serupa juga terjadi ketika mereka membawakan American Idiot, lagu yang dikenal sebagai kritik keras terhadap situasi politik era George W. Bush.
Seorang pengamat musik internasional, Mark Reynolds, menilai langkah Green Day sebagai bentuk kompromi.
“Super Bowl adalah panggung global dengan audiens yang sangat luas. Menghilangkan lirik politis bisa jadi strategi agar pesan mereka tetap diterima tanpa menimbulkan kontroversi berlebihan,” ujarnya.
Sebelumnya, Green Day dikenal kerap menyisipkan kritik politik dalam konser mereka. Bahkan, Billie Joe Armstrong beberapa kali melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Donald Trump di atas panggung. Video aksi tersebut sempat viral di media sosial dan menuai beragam reaksi.
Dengan penampilan di Super Bowl LX, Green Day seakan menunjukkan sisi berbeda. Mereka tetap tampil energik dan memukau, tetapi memilih menahan diri dari kritik politik yang biasanya menjadi identitas mereka.
Langkah ini menandai momen penting, di mana musik mereka tetap menjadi hiburan global tanpa harus memicu kontroversi politik di panggung sebesar Super Bowl. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari