RADAR SURABAYA - Operasi plastik (oplas) belakangan menjadi tren di dunia kecantikan di Indonesia. Pergeseran kebutuhan hingga kesadaran masyarakat, khususnya kaum hawa untuk tampil cantik dan menghargai diri menjadikan operasi plastik masuk menjadi bagian gaya hidup perempuan.
Di Indonesia saat ini tren operasi plastik semakin terbuka, terutama di kalangan public figure. Sejumlah artis dan selebriti memilih menjalani prosedur ini bukan hanya untuk kecantikan, tetapi juga alasan kesehatan dan profesionalitas.
Korea Selatan menjadi salah satu negara tujuan terbanyak masyarakat indonesia, termasuk public figure melakukan operasi plastik.
Khususnya bagi public figure, tekanan industri hiburan membuat mereka harus tampil di depan publik sehingga menuntut wajah awet muda dan tubuh proporsional.
Namun, beberapa artis menjalani operasi bukan hanya untuk penampilan saja, tapi juga untuk memperbaiki fungsi tubuh tertentu.
Beberapa artis Indonesia yang melakukan operasi plastik seperti Asri Welas, Masayu Anastasia, dan Chintami Atmanegara.
Mereka secara terbuka membagikan cerita dan pengalaman kenapa memutuskan menjalabi operasi plastik.
Operasi plastik yang dilakukan Asri Welas sering dikaitkan dengan perceraiannya, namun secara terbuka Asri Welas menceritakan bahwa oplas yang dilakukannya bukan karena masalah rumah tangga, melainkan dunia yang digelutinya menuntutnya untuk tampil menarik.
“Dulu itu aku tidak pernah memikirkan diriku, nggak pernah kepikiran oplas-oplasan. Tapi saat harus beradu akting dengan Wulan Guritno dan Masayu, masa’ iya aku butek begini. Jadinya ada motivasi untuk merawat diri, dan ternyata bikin happy,” tuturnya dalam sebuah acara di Vasa Hotel Surabaya.
Asri Welas awalnya takut untuk melakukan operasi plastik, dia juga takut jarum suntik. tapi setelah mengumpulkan niat, dia akhirnya mantap untuk operasi plastik.
“Aku cuma mau ngencengin wajah aja, aku nggak mau mengubah wajah Asri Welas, makanya aku maunya yang natural, aku pilih operasi di Korea,” ujar ibu tiga anak yang menjalani prosedur face lifting dan tummy tuck tersebut.
Berbeda dengan Chintami Atmanegara yang usianya sudah di atas 60 tahun. Chintami menceritakan bahwa dirinya mulau insecure dengan kondisi wajahnya yang mengendor, dia lelah harus botox dan tanam benang berulang kali.
Sebelum memutuskan untuk operasi plastik, Chintami membutuhkan waktu tiga tahun untuk memantapkan niatnya melakukan face lifting.
“Aku takut operasi plastik, takut sakit, takut hasilnya tidak sesuai, malah tambah parah. Apalagi aku juga takut jarum suntik. Tapi setelah menjalaninya ternyata tidak sengeri yang aku bayangin, dan hasilnya bagus. Bikin bahagia,” tutur penyanyi senior tersebut.
Berbeda dengan Masayu Anastasia, dia memutuskan menjalani operasi plastik bukan untuk mengencangkan wajah, memperbaiki bentuk hidung atau implan.
Masayu melakukan operasi plastik karena tidak ingin terlihat terlalu kurus dan tirus. Karena saat berat badannya turun wajahnya menjadi terlihat sangat tirus.
Masayu memilih melakukan fat grafting, yakni transfer lemak/cangkok lemak untuk menambah volume atau memperbaiki kontur wajahnya.
“Pengen kalau di kamera itu masih kelihatan seger, gak tirus banget biar gak disuruh naikin berat badan kalau dapet peran,” ujarnya.
Belakangan memang tren operasi plastik kiat melejit, banyak artis dan publik figure melakukannya. Begitu juga dengan masyarakat, banyak yang memilih prosedur ini untuk tampil lebih muda dan cantik. Korea menjadi salah satu jujukan masyarakat untuk melakukan operasi plastik.
Sementara itu, dr Hwang Dong Yeon dari Nana Hospital Korea Selatan mengatakan bahwa minat orang indonesia untuk melakukan operasi plastik dalam beberapa tahun terakhir memang meningkat.
Berbeda dengan penduduk lokal Korea yang melakukan prosedur operasi plastik untuk mengubah tampilan menjadi berbeda, kebanyakan orang Indonesia justru lebih suka hasil yang natural.
“Orang Indonesia lebih suka mempertahankan wajah asli mereka, hanya dibuat lebih kencang dan diperbaiki,” terangnya.
Untuk prosedur yang banyak dilakukan pasiennya dari Indonesia, dr Hwang mengatakan bahwa kebanyakan melakukan face lifting atau anti aging, selain itu juga rhynoplasti dan memperbaiki kontur wajah.
Menurutnya Korea dipilih warga Indonesia untuk menjadi lokasi prosedur bedah plastik karena hasilnya bagus dan lebih terjangkau.
“Biasanya kami menyarankan apa yang mereka butuhkan bukan yang mereka inginkan, karena terkadang yang ingin mereka perbaiki masih bagus dan belum butuh prosedur tersebut,” tegas dr Hwang. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari