RADAR SURABAYA - Aktor senior Bruce Willis membawa kabar yang mengejutkan sekaligus mengharukan. Keluarga besar aktor legendaris Hollywood, Bruce Willis, resmi mengumumkan langkah besar. Otak sang bintang Die Hard akan didonasikan untuk penelitian ilmiah setelah ia meninggal dunia.
Pengumuman emosional ini disampaikan langsung oleh sang istri, Emma Heming Willis, dan segera menjadi sorotan dunia.
Langkah ini diharapkan membuka jalan bagi riset medis dan meningkatkan kesadaran publik tentang penyakit neurodegeneratif.
Baca Juga: Wagub Jatim Emil Tegaskan Keberlanjutan Daya Saing Industri Bertumpu pada Praktisi Teknik Industri
Bruce Willis dan Perjuangan Melawan Demensia
Langkah tersebut bukan sekadar simbolis. Bruce Willis, yang pensiun dari dunia akting pada 2022 setelah didiagnosis afasia, kemudian mendapat diagnosis baru, demensia frontotemporal (FTD).
Penyakit neurodegeneratif ini perlahan memengaruhi kemampuan komunikasi, perilaku, hingga kepribadian seseorang.
Dalam buku terbarunya, The Unexpected Journey, dikutip dari Marca, Jumat (28/11), Emma mengungkapkan keluarga sudah sepakat mendonorkan otak Bruce guna membantu para ilmuwan memahami FTD lebih dalam.
Donasi organ ini dipercaya dapat membuka wawasan penting tentang perubahan biologis di otak, termasuk penumpukan protein abnormal, mutasi genetik, hingga kerusakan strukturnya.
Peneliti menilai, pemahaman seperti itu sangat krusial karena banyak bagian FTD tidak bisa terdeteksi lewat metode medis non-invasif.
Keluarga, termasuk Demi Moore dan kelima putri Bruce Willis, berharap kepergian Bruce nantinya dapat memberikan perubahan nyata untuk dunia medis.
Warisan Bruce Willis untuk Dunia Medis
Tujuan keluarga Willis adalah menjadikan rasa sakit yang mereka rasakan sebagai warisan bernilai bagi ilmu pengetahuan dan para pasien yang mungkin akan menghadapi FTD di masa depan.
Selain itu, keputusan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik tentang demensia frontotemporal, sebuah penyakit yang sering kurang dikenal masyarakat, meski dampaknya sama menghancurkannya dengan Alzheimer. (hot/nur)
Editor : Nurista Purnamasari