Jenazah Dorce dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bantar Jati, Jakarta Timur, di hari yang sama. Sebelum dimakamkan, jenazah pemilik nama asli Dedi Yuliardi Ashadi disalatkan di Masjid Al Hayyu, yang tak jauh dari TPU Bantar Jati.
Lantaran terpapar Covid-19, jenazah Dorce tidak diturunkan dan tetap dalam mobil jenazah. "Jadi jenazah tetap dalam mobil. Kan kita mensalati jenazah Covid-19 itu kan saya sudah sering, tapi jenazahnya tetap di dalam mobil jadi biar dia senanglah disalati di sini beliau," kata Imam Masjid Al Hayyu, Anan Muhajir.
Sebelum salat jenazah dimulai, pihak Masjid Al Hayyu mengumumkan bahwa Dorce disalatkan secara laki-laki. "Sebelum dimakamkan, kita salatkan jenazah Dedi Yuliadi Ashadi bin Ahmad semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya," ucapnya.
Kemarin, Dorce dimakamkan sebagai seorang laki-laki, sesuai awal kelahirannya di dunia. Hal itu merupakan keputusan anaknya, Fatimah. Ia mengaku memberikan putusan itu karena Dorce menyerahkan ke dirinya.
"Jadi, Mamah sudah menyerahkan kepada kita anak-anak jikalau terjadi seperti ini Mamah nyerahin ke kita memutuskan untuk sesuai dengan lahirnya mamah," ujarnya.
Dorce lahir di Solok, Sumatera Barat, sebagai seorang laki-laki dengan nama Dedi Yuliardi Ashadi, dari pasangan Achmad dan Dalifah. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Kedua orang tuanya meninggal ketika Dorce masih anak-anak hingga ia dirawat oleh neneknya yaitu Siti Darama.
Pada usia dua tahun ia pindah bersama neneknya ke Jakarta. Ketika usia lima tahun, Dorce dimasukkan ke taman kanak-kanak yang lokasinya tak jauh dari rumah bibinya di Kramat Sentiong. Setahun kemudian ia disekolahkan di SD Salmin.
Saat masih SD, Dorce kerap menyanyi bersama kelompok Bambang Brothers. Saat SMP ia semakin tidak tertarik pada pelajaran sekolah dan lebih memusatkan perhatian pada bidang menyanyi. Selain itu ia juga mulai menyadari kecenderungannya untuk tertarik menjadi wanita.
Hal ini juga ia manfaatkan untuk membuat penampilannya di panggung semakin menarik, yaitu melawak dengan berpura-pura menjadi wanita. Ketika itulah ia mendapatkan nama panggilan dari Myrna pemimpin kelompok tari waria Fantastic Dolls, yaitu Dorce Ashadi.
Karena semakin merasa terperangkap dalam tubuh seorang laki-laki, Dorce kemudian memutuskan untuk melakukan operasi ganti kelamin menjadi seorang wanita. Hal ini dilakukannya di Surabaya pada tahun 1983 oleh ahli bedah plastik dari RSUD dr. Soetomo, Prof. Dr. dr. Djohansjah Marzoeki Sp.BP.
Prosedur untuk menjalani operasi kelamin saat itu tidak mudah, karena memerlukan ahli dari berbagai disiplin ilmu seperti ahli bedah, ahli andrologi, ahli jiwa, ahli urologi, dan sebagainya. Setelah empat bulan menunggu, Dorce secara medis dinyatakan layak menjalani operasi pergantian kelamin.
Setelah muncul di TVRI Surabaya, ia mulai muncul juga di TVRI pusat Jakarta dan diundang untuk tampil di berbagai kota di Indonesia. Sejak itulah nama Dorce semakin berkibar di industri hiburan Tanah Air. (uta/wik/opi) Editor : Lambertus Hurek