RADAR SURABAYA – FIFA kembali diterpa kontroversi menjelang partai final Piala Dunia 2026.
Sekretaris Jenderal Dewan Eropa, Alain Berset, melayangkan kritik tajam dengan menuding badan sepak bola dunia itu telah
membuka celah kecurangan melalui praktik taruhan olahraga serta membiarkan intervensi politik mencederai integritas turnamen.
Kritik tersebut disampaikan Berset melalui surat terbuka yang dipublikasikan bertepatan dengan final Piala Dunia 2026.
Dalam surat itu, ia mendesak FIFA segera menyusun kerangka kerja baru mengenai integritas olahraga sebelum penyelenggaraan Piala Dunia 2030 yang sebagian besar akan berlangsung di Eropa.
Menurut Berset, berbagai kontroversi sepanjang Piala Dunia 2026 menunjukkan perlunya reformasi serius dalam tata kelola FIFA.
Baca Juga: FIFA Cetak Sejarah! Shakira, Madonna, BTS hingga Justin Bieber Guncang Final Piala Dunia 2026
"Piala Dunia FIFA 2026 memunculkan begitu banyak pertanyaan. Sanksi dibatalkan dalam hitungan hari tanpa alasan yang jelas, kewenangan wasit dipertanyakan,
pemain menjadi sasaran ujaran rasis, bahkan dari pejabat publik, sementara taruhan kini mencakup setiap operan, kartu, hingga tendangan sudut. Perayaan akan berakhir, tetapi pertanyaan itu akan tetap ada," tulis Berset dikutip The Guardian.
Soroti Kasus Folarin Balogun
Salah satu poin utama yang disorot adalah keputusan FIFA membatalkan hukuman skors terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Keputusan itu menuai polemik setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino sebelum hukuman tersebut dicabut.
Berset menilai keputusan semacam itu dapat merusak kepercayaan publik terhadap hasil pertandingan.
"Ketika aturan dapat dibengkokkan karena tekanan, maka setiap hasil pertandingan akan selalu diragukan."
Sementara itu, Infantino menegaskan pencabutan hukuman Balogun diputuskan secara independen oleh Komite Disiplin FIFA berdasarkan regulasi dan fakta dalam kasus tersebut.
Baca Juga: Satu Rumah dan Tiga Lapak Pedagang di Dukuh Kupang Surabaya Ludes Terbakar
Kritik Kerja Sama FIFA dengan Perusahaan Taruhan
Berset juga menyoroti kemitraan FIFA dengan ADI Predictstreet yang sejak April 2026 menjadi mitra resmi pasar prediksi Piala Dunia.
Menurutnya, perkembangan pasar taruhan kini tidak lagi hanya berfokus pada hasil akhir pertandingan, tetapi juga berbagai momen kecil di lapangan, seperti jumlah operan, kartu kuning, hingga tendangan sudut. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi manipulasi pertandingan.
Ia menyebut model taruhan seperti itu menjadi "pintu terbuka bagi praktik kecurangan" dan memperbesar ancaman terhadap integritas sepak bola.
Desak Reformasi Sebelum Piala Dunia 2030
Berset mengajak FIFA memulai dialog bersama setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 guna memperkuat sistem pengawasan dan integritas kompetisi internasional.
Ia mengingatkan keberhasilan Dewan Eropa dalam menyusun berbagai konvensi internasional terkait keselamatan suporter, pemberantasan doping, serta pencegahan pengaturan skor yang dapat menjadi acuan bagi FIFA.
Parlemen Eropa Ikut Memberi Tekanan
Kritik Dewan Eropa muncul setelah 72 anggota Parlemen Eropa meminta 27 asosiasi sepak bola negara Uni Eropa mendorong penyelidikan terhadap keterlibatan Gianni Infantino dalam kasus Balogun.
Mereka menduga terdapat pelanggaran terhadap prinsip netralitas politik serta kemungkinan pelanggaran kode etik FIFA.
Meski demikian, hingga kini UEFA belum mengindikasikan akan mengambil langkah resmi terkait persoalan tersebut.
Di tengah gelombang kritik, dukungan terhadap Infantino tetap menguat.
Lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA dilaporkan telah menyatakan dukungan agar pria asal Swiss tersebut kembali terpilih
sebagai Presiden FIFA untuk masa jabatan keempat pada pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : The Guardian