RADAR SURABAYA – Laga Prancis melawan Inggris dalam perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan penutup bagi Les Bleus.
Duel yang digelar Minggu dini hari WIB itu menjadi momen perpisahan Didier Deschamps setelah memimpin Timnas Prancis selama 14 tahun.
Pelatih berusia 57 tahun tersebut menutup salah satu era paling sukses dalam sejarah sepak bola Prancis.
Meski gagal membawa Les Bleus melaju ke final usai dikalahkan Spanyol 0-2 pada semifinal, Deschamps tetap meninggalkan warisan prestasi yang sulit ditandingi.
Prancis sebenarnya tampil meyakinkan sepanjang Piala Dunia 2026. Namun, kekalahan dari Spanyol menghentikan ambisi mereka untuk tampil di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Kini, Deschamps hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengakhiri kariernya bersama Timnas Prancis dengan mempersembahkan medali perunggu.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Penjualan Tiket ke Luar Negeri Malah Naik
"Saya beruntung bisa mengalami begitu banyak momen luar biasa sekaligus masa-masa sulit.
Namun, hidup terus berjalan. Saya orang yang optimistis dan yakin masa depan akan tetap baik. Menjadi pelatih Timnas Prancis adalah hal terbaik yang pernah saya alami," ujar Deschamps.
Pelatih yang Mengembalikan Kejayaan Prancis
Didier Deschamps merupakan sosok penting di balik kebangkitan Timnas Prancis dalam satu dekade terakhir.
Setelah dipercaya menangani Les Bleus pada 2012, ia berhasil mengubah tim yang sempat terpuruk pasca-Piala Dunia 2010 menjadi kekuatan utama sepak bola dunia.
Puncak keberhasilannya terjadi saat membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia.
Prestasi itu melengkapi pencapaiannya sebagai kapten ketika Les Bleus merebut gelar juara dunia pertama pada 1998.
Selain menjadi juara dunia, Deschamps juga mengantar Prancis mencapai final Euro 2016 dan final Piala Dunia 2022.
Dalam tujuh turnamen besar yang dipimpinnya, ia sukses membawa Les Bleus menembus sedikitnya babak semifinal sebanyak lima kali.
Saat ditanya mengenai rahasia konsistensinya, Deschamps menjawab dengan sederhana.
Baca Juga: Target 250 Emas Porprov Jatim 2027, KONI Surabaya Wajibkan Atlet Jalani Tes Narkoba
"Mungkin karena saya memiliki banyak pemain hebat. Namun, sepertinya saya juga tidak terlalu buruk dalam menjalankan pekerjaan ini," katanya.
Mengubah Gaya Bermain Les Bleus
Menjelang Piala Dunia 2026, Deschamps mulai mengubah karakter permainan Prancis.
Ia meninggalkan pendekatan yang lebih defensif dan memberi kebebasan kepada para pemain depan seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise untuk bermain lebih agresif.
Perubahan tersebut membuat lini serang Prancis tampil tajam sepanjang turnamen.
Namun, strategi menyerang itu dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat Les Bleus kesulitan membendung permainan Spanyol di semifinal.
Turnamen ini juga menjadi periode yang berat bagi Deschamps secara pribadi. Di tengah kompetisi, ia kehilangan sang ibu dan sempat meninggalkan skuad untuk menghadiri pemakaman keluarganya.
Zinedine Zidane Jadi Kandidat Terkuat
Usai laga melawan Inggris, perhatian publik Prancis dipastikan beralih kepada Zinedine Zidane.
Legenda sepak bola Prancis itu disebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Deschamps.
Zidane telah lama dikaitkan dengan kursi pelatih Les Bleus sejak mengakhiri masa baktinya bersama Real Madrid pada 2021.
Mantan peraih Ballon d'Or tersebut juga tidak pernah menutupi keinginannya untuk melatih tim nasional negaranya.
Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo, sebelumnya menegaskan bahwa Timnas Prancis membutuhkan sosok pelatih yang memiliki pengalaman, karisma, dan mampu menyatukan seluruh elemen sepak bola nasional.
Apabila resmi ditunjuk, Zidane akan mewarisi skuad bertabur bintang dengan ekspektasi besar untuk melanjutkan kesuksesan yang telah dibangun Deschamps selama 14 tahun terakhir.(rak)
Editor : Rahmat Adhy KurniawanSumber : Al Jazeera