Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Takdir Tuhan? Lionel Messi, Lamine Yamal, Foto Itu, dan Final Piala Dunia

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:21 WIB
Lionel Messi menggendong seorang bayi berusia empat bulan di ruang ganti Camp Nou pada 2007. Bayi itu, tentu saja, adalah Lamine Yamal.(foto Joan Monfort)
Lionel Messi menggendong seorang bayi berusia empat bulan di ruang ganti Camp Nou pada 2007. Bayi itu, tentu saja, adalah Lamine Yamal.(foto Joan Monfort)

Oleh: Sid Lowe/The Guardian

RADAR SURABAYA – Final Piala Dunia 2026 tak sekadar mempertemukan Spanyol dan Argentina. 

Laga puncak diwarnai kisah luar biasa yang seolah telah ditulis oleh takdir hampir dua dekade lalu.

Lionel Messi, legenda hidup sepak bola dunia, akan berhadapan dengan Lamine Yamal, bintang muda yang pernah dimandikannya saat masih bayi dalam sebuah sesi foto amal Barcelona pada 2007. 

Foto ikonik yang kini viral itu menjadi simbol estafet generasi, sekaligus menambah dramatis duel dua pemain dari era berbeda di panggung terbesar sepak bola dunia.

"Mungkin Lionel Messi telah menggendong banyak bayi. Mungkin ini hanya kebetulan. Namun, bagi kami yang beriman, yang percaya ada sesuatu di luar kebetulan,

'kebetulan' adalah nama samaran Tuhan ketika Dia tidak ingin membubuhkan tanda tangan-Nya," kata pelatih Spanyol, Luis de la Fuente. 

"Dalam hidup, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Mungkin lingkarannya belum sepenuhnya tertutup, tetapi menurut saya ada sesuatu yang lain, sesuatu yang mistis dan spiritual."

Tataplah momen itu. Lihatlah foto yang menjadi simbol Piala Dunia kali ini. Mungkin Anda akan memahami mengapa banyak orang percaya bahwa ada takdir di baliknya. Sulit menjelaskan bagaimana semua ini bisa terjadi.

Fotografer Joan Monfort, yang mengabadikan gambar tersebut, mengaku dahulu tidak percaya pada takdir. Kini, ia berubah pikiran.

Dalam foto itu, Messi, yang kini dianggap sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa, sedang memandikan seorang bayi mungil yang tersenyum ceria. 

Bayi yang saat itu tidak dikenal siapa pun ternyata adalah Lamine Yamal. 

Bocah yang disebut De la Fuente sebagai pemain yang "disentuh tongkat ajaib Tuhan" itu seolah mendapat "pembaptisan" sepak bola dari Messi.

Pada Minggu nanti, keduanya akan saling berhadapan di final Piala Dunia.

Foto tersebut diambil sekitar Natal 2007. Surat kabar Sport tengah membuat kalender amal bersama UNICEF dan Barcelona. Sebuah studio sederhana didirikan di ruang ganti tim tamu Camp Nou.

 Setiap pemain Barcelona mendapat satu bulan dalam kalender dan berfoto bersama seorang anak.

Ronaldinho mendapat edisi Juli, sedangkan Messi tampil pada edisi Januari.

Saat itu Lamine Yamal baru berusia empat bulan. Ibunya, Sheila Ebana, mendaftarkannya dalam undian untuk ikut sesi foto.

Lionel Messi, Sheila Ebana, dan bayi Lamine Yamal. (AP Photo/Joan Monfort)
Lionel Messi, Sheila Ebana, dan bayi Lamine Yamal. (AP Photo/Joan Monfort)

 Malam sebelumnya, Monfort mendapat ide ketika memandikan putrinya sendiri. Ia membawa bak mandi plastik kecil dan bebek karet ke lokasi pemotretan.

Meski Messi masih berusia 19 tahun dan terkenal pemalu, dengan bantuan Sheila, Monfort berhasil mengambil gambar yang menurutnya sangat bagus.

Setelah itu, semua orang melupakan foto tersebut.

Monfort menyimpannya di dalam laci bersama ribuan foto lain tanpa pernah membayangkan makna besar yang akan dimilikinya di masa depan.

Foto itu baru kembali mencuat saat Euro 2024. Ayah Lamine Yamal, Mounir Yamal mengunggahnya ke media sosial dengan keterangan: "Awal dari dua legenda."

Publik pun terkejut.

Bagaimana mungkin bayi yang dipilih secara acak itu ternyata tumbuh menjadi Lamine Yamal?

Bagaimana pula Messi yang saat itu masih remaja kemudian berkembang menjadi legenda sepak bola? Dari miliaran manusia di dunia, mengapa mereka dipertemukan dalam satu foto?

Bahkan Monfort sempat bertanya-tanya, "Bagaimana jika itu sebenarnya bukan Lamine?"

Namun, UNICEF kemudian memastikan bahwa foto tersebut benar adanya.

Empat hari setelah foto itu viral, Lamine Yamal mencetak gol spektakuler ke gawang Prancis yang membawa Spanyol ke final Euro 2024 sekaligus mengumumkan kedatangannya sebagai bintang baru sepak bola dunia.

Monfort menyebutnya seperti sebuah kisah penciptaan.

Sementara itu, Mounir pernah bercanda bahwa mungkin justru Lamine-lah yang "memberi kehidupan" kepada Messi.

Kini, menjelang final Piala Dunia 2026, foto itu kembali menjadi perbincangan setelah Argentina mengalahkan Inggris di semifinal.

Monfort kembali dibanjiri panggilan telepon.

Foto tersebut kini menjadi potret pertama dua ikon terbesar Piala Dunia 2026.

Beberapa waktu lalu, Lamine Yamal kembali melihat foto itu.

"Semoga, jika Tuhan menghendaki, saya bisa menghadapi Messi di final," ujarnya.

Keinginan itu kini menjadi kenyataan.

Padahal, Spanyol dan Argentina sempat dijadwalkan bertemu di ajang Finalissima pada Maret lalu.

Namun, pertemuan mereka justru terjadi di panggung yang jauh lebih besar: final Piala Dunia.

Sambil tersenyum melihat foto tersebut, Lamine berkata, "Saya tumbuh sedikit lebih besar... begitu juga Leo."

Pertemuan mereka berikutnya terjadi di pusat latihan Barcelona ketika Lamine masih berusia sekitar 11 atau 12 tahun pada 2017.

Saat itu Messi sudah menjadi ikon dunia.

Lamine Yamal, yang saat itu sudah menjadi perhatian Barcelona, berfoto bersama Lionel Messi pada 2017. (The Guardian)
Lamine Yamal, yang saat itu sudah menjadi perhatian Barcelona, berfoto bersama Lionel Messi pada 2017. (The Guardian)

Namun, Lamine bukan lagi anak biasa. Setelah bakatnya ditemukan ketika bermain untuk CF La Torreta di Mataró, ia direkrut ke akademi La Masia.

Lamine masih ingat pertama kali merasakan ketenaran saat berusia 13 tahun.

Messi memahami perjalanan itu.

Keduanya memang memiliki banyak kesamaan.

Messi datang dari Argentina ke Catalunya pada usia 12 tahun. Lamine lahir di Catalunya dari ayah asal Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa.

Setiap kali mencetak gol, Lamine menunjukkan angka 08304, kode pos Rocafonda, lingkungan tempat ia dibesarkan.

Kawasan itu dikenal sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan komunitas imigran Maroko yang besar.

Lamine sebenarnya bisa membela Maroko, tetapi tanpa ragu memilih Spanyol.

Sebaliknya, Messi pernah memiliki peluang membela Spanyol, tetapi memilih tetap setia kepada Argentina.

"Lionel Messi adalah yang terbaik," kata Lamine.

Namun, ketika berbicara tentang Messi, Lamine cenderung berhati-hati.

Ia sangat menghormatinya, tetapi sosok idolanya sejak kecil justru adalah Neymar.

Menurut Lamine, Neymar memiliki gaya bermain yang lebih dekat dengan dirinya: penuh kegembiraan, kreativitas, tipu daya, dan keberanian.

Saat berusia tujuh tahun, ia pertama kali menyaksikan Neymar bermain di Camp Nou.

Sejak itu, ia banyak mempelajari video permainan Neymar dan bahkan mengunjunginya di Brasil pada musim panas lalu.

Meski begitu, dunia terus membandingkannya dengan Messi.

Lamine mengaku tidak merasa terbebani.

"Saya ingin menjadi apa pun yang diharapkan orang kepada saya. Masalahnya, orang ingin saya mencetak 100 gol pada usia 16 tahun. Saya juga ingin melakukannya," katanya.

Hingga kini ia sudah mencetak lebih dari 50 gol.

Lamine merupakan debutan termuda sekaligus pencetak gol termuda Barcelona, memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Messi.

"Saya hanya ingin menjalani jalan saya sendiri. Saya tidak berniat bermain seperti Messi. Kami saling menghormati dan sama-sama tahu bahwa saya tidak ingin menjadi Messi," ujarnya kepada CBS.

Meski demikian, kemiripan tetap terlihat.

Beberapa gol khas Lamine sangat mengingatkan publik pada gol-gol yang dahulu menjadi ciri khas Messi.

Legenda Argentina, Jorge Valdano, bahkan berkata, "Saya dulu tidak suka membandingkan Messi dengan Maradona, tetapi Messi membuat itu sulit dihindari.

Sekarang saya juga tidak suka membandingkan Lamine dengan Messi, tetapi Lamine membuatnya sulit dihindari."

Xavi Hernández pun pernah mengaku tidak ingin melakukan perbandingan, tetapi tak bisa mengelakkannya.

Menurut De la Fuente, hanya sedikit pemain yang benar-benar jenius.

"Ada pemain yang disentuh tongkat ajaib Tuhan. Di antara mereka adalah Messi dan Lamine."

Menariknya, Lamine mencetak gol pertamanya di Piala Dunia pada usia 18 tahun dengan mengenakan nomor punggung 19.

Dua puluh tahun sebelumnya, Messi melakukan hal yang sama.

Dalam wawancara dengan El País, Lamine mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan bermain lebih ke tengah lapangan, mengikuti evolusi permainan Messi.

"Kalau tiga pemain menjaga saya di sayap, saya akan pindah ke tengah. Di sana mereka tidak bisa menjaga saya bertiga," ujarnya.

Messi akan berusia 40 tahun pada Juni 2027.

Lamine pernah mengatakan bahwa dirinya tidak ingin bermain sampai usia tersebut.

Namun, siapa yang tahu bagaimana masa depan akan berubah?

Yang jelas, perkembangan Lamine begitu luar biasa cepat.

Ia telah memainkan 151 pertandingan bersama Barcelona dan memenangi tiga gelar liga.

Pada usia yang sama, Messi baru tampil dalam 34 pertandingan dan mencetak sembilan gol.

Lamine juga telah membawa Spanyol menjuarai Euro sehari setelah ulang tahunnya yang ke-17.

Sebaliknya, Messi baru meraih trofi internasional pertamanya bersama Argentina saat berusia 34 tahun.

Namun, sejak saat itu Messi terus menambah koleksi gelarnya.

Piala Dunia 2022 sempat diperkirakan menjadi penampilan terakhirnya.

Akan tetapi, ia kembali tampil di Piala Dunia 2026.

Kini Messi memburu gelar dunia keduanya sekaligus trofi internasional keempat secara beruntun.

Di hadapannya berdiri Lamine Yamal, bintang muda yang digadang-gadang menjadi penerusnya.

"Generasi baru memiliki banyak pemain hebat dengan masa depan panjang. Kalau saya harus memilih satu, tentu Lamine. Tanpa ragu, dialah yang terbaik," kata Messi.

Lamine pun membalas penghormatan itu.

"Kalau kami bertemu di lapangan, akan ada rasa saling menghormati karena bagi saya Messi adalah pemain terbaik sepanjang sejarah."

Untuk pertama kalinya—dan mungkin juga yang terakhir—mereka akan saling berhadapan di lapangan.

Di final Piala Dunia. Spanyol melawan Argentina. Juara Eropa melawan juara Amerika Selatan.

Messi melawan Lamine Yamal.

Legenda berusia 39 tahun yang memainkan Piala Dunia keenam sekaligus kemungkinan terakhirnya, menghadapi bintang berusia 19 tahun yang baru memulai perjalanan.

Sebuah estafet generasi.

Sebuah kisah yang seolah ditulis oleh takdir. Dan semuanya bermula dari seorang bayi kecil di dalam bak mandi.(rak)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : The Guardian
spanyol vs Argentina foto ikonik lamine yamal Piala Dunia 2026 lionel messi