Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kisah di Balik Terciptanya Trofi Piala Dunia, Mahakarya yang Menjadi Ikon Sepak Bola

Rahmat Adhy Kurniawan • Kamis, 16 Juli 2026 | 16:14 WIB
Giorgio Gazzaniga, putra mendiang pematung Silvio Gazzaniga, memberikan penjelasan kepada Associated Press sambil memperlihatkan gambar rancangan asli trofi Piala Dunia di sebuah gudang di Pioltello, 11 Juli lalu. (AP Photo/Luca Bruno)
Giorgio Gazzaniga, putra mendiang pematung Silvio Gazzaniga, memberikan penjelasan kepada Associated Press sambil memperlihatkan gambar rancangan asli trofi Piala Dunia di sebuah gudang di Pioltello, 11 Juli lalu. (AP Photo/Luca Bruno)

RADAR SURABAYA – Trofi Piala Dunia FIFA bukan sekadar lambang supremasi sepak bola dunia.

Di balik bentuknya yang ikonik, tersimpan kisah seorang pematung asal Italia yang ingin mengabadikan perjuangan, kemenangan, dan luapan emosi dalam satu karya seni yang kini dikenal di seluruh dunia.

Trofi yang akan diperebutkan Spanyol dan Argentina pada final Piala Dunia 2026 itu merupakan hasil karya Silvio Gazzaniga, pematung asal Milan.

 Desain tersebut lahir setelah FIFA menggelar sayembara internasional untuk mencari trofi baru menyusul Brasil memperoleh hak kepemilikan permanen atas Trofi Jules Rimet usai menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya pada 1970.

Di studio kecilnya di kawasan Brera, Milan, Gazzaniga menuangkan puluhan sketsa sebelum menemukan konsep yang dianggap paling sempurna.

Ia memilih menghadirkan dua sosok manusia yang menjulang ke atas sambil menopang bola dunia, sebuah simbol yang hingga kini melekat erat dengan Piala Dunia.

Putra Gazzaniga, Giorgio, mengungkapkan bahwa sang ayah ingin menghadirkan makna yang lebih dalam daripada sekadar sebuah trofi.

"Ia ingin menggambarkan dunia sekaligus dua spiral yang menyerupai DNA, bergerak ke atas sebagai simbol perjuangan menuju kemenangan," ujar Giorgio dikutip dari AP. 

Simbol Perjuangan hingga Kemenangan

Menurut Giorgio, setiap detail pada trofi memiliki filosofi tersendiri. Permukaan tubuh figur manusia dibuat kasar untuk menggambarkan kerasnya perjuangan seorang atlet dalam meraih kemenangan.

Sementara itu, kedua lengan yang terangkat menyerupai sayap melambangkan momen kemenangan yang dirayakan bukan hanya oleh pemain, tetapi juga jutaan suporter di seluruh dunia.

Dari lebih 50 desain yang masuk ke FIFA, hanya karya Gazzaniga yang disertai model tiga dimensi lengkap.

Hal itulah yang membuat dewan juri dapat melihat langsung bentuk serta makna artistik yang terkandung di dalamnya hingga akhirnya memilih desain tersebut sebagai pemenang.

Baca Juga: Harry Kane Akui Inggris Kalah karena Terlalu Bertahan

Menggantikan Trofi Jules Rimet

Trofi karya Gazzaniga menggantikan Trofi Jules Rimet, yang digunakan sejak Piala Dunia pertama pada 1930.

Trofi lama itu dua kali mengalami pencurian. Insiden pertama terjadi pada 1966 di Inggris sebelum akhirnya ditemukan oleh seekor anjing bernama Pickles.

Namun, setelah menjadi milik permanen Brasil, trofi tersebut kembali dicuri pada 1983 dan hingga kini tidak pernah ditemukan. Banyak pihak meyakini trofi itu telah dilebur.

Terbuat dari Emas 18 Karat

Trofi Piala Dunia saat ini memiliki tinggi 36 sentimeter dan dibuat dari emas 18 karat. Bagian dasarnya dihiasi dua cincin batu malasit hijau yang melambangkan lapangan sepak bola.

Trofi Piala Dunia dilapisi emas 18 karat.
Trofi Piala Dunia dilapisi emas 18 karat.

Meski diangkat oleh kapten tim juara seusai final, trofi asli tidak menjadi milik negara pemenang.

Setelah turnamen berakhir, trofi dikembalikan ke markas FIFA di Swiss. Juara dunia hanya membawa pulang replika berlapis emas.

FIFA juga tidak lagi memberikan hak kepemilikan trofi asli kepada negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali.

Dari Sebuah Karya Seni Menjadi Ikon Dunia

Trofi rancangan Silvio Gazzaniga pertama kali digunakan pada Piala Dunia 1974. Giorgio masih mengingat jelas ketika Jerman Barat mengangkat trofi tersebut setelah mengalahkan Belanda di final.

"Saat seluruh stadion bergemuruh ketika trofi itu diangkat, di situlah sebuah benda berubah menjadi ikon," kenangnya.

Kini, lebih dari lima dekade kemudian, trofi karya Gazzaniga tetap menjadi simbol tertinggi kejayaan sepak bola dunia.

FIFA bahkan memastikan desain legendaris itu akan terus digunakan setidaknya hingga Piala Dunia 2038.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : AP News
trofi piala dunia Silvio Gazzaniga Piala Dunia 2026