Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Argentina Nyaris Kalah Berkali-kali, tapi Selalu Bangkit hingga Lolos ke Final Piala Dunia 2026

Rahmat Adhy Kurniawan • Kamis, 16 Juli 2026 | 08:10 WIB
Selama ada Lionel Messi, Argentina tetap sangat berbahaya. (Opta)
Selama ada Lionel Messi, Argentina tetap sangat berbahaya. (Opta)

RADAR SURABAYA- Argentina kembali membuktikan mengapa mereka berstatus juara bertahan Piala Dunia.

Sepanjang Piala Dunia 2026, La Albiceleste berkali-kali berada di ambang kekalahan, tetapi selalu menemukan cara untuk bangkit hingga akhirnya melaju ke partai final.

Tim besutan Lionel Scaloni memperlihatkan mental juara yang luar biasa. 

Dari fase gugur hingga semifinal, Argentina beberapa kali lolos dari situasi yang nyaris mustahil sebelum memastikan kemenangan.

Pada babak 32 besar, Argentina dipaksa bermain hingga perpanjangan waktu oleh debutan Piala Dunia, Cape Verde.

Sempat disamakan menjadi 1-1 dan 2-2, La Albiceleste akhirnya menang 3-2.

Ujian yang lebih berat terjadi di babak 16 besar. Argentina tertinggal 0-2 dari Mesir ketika pertandingan hanya menyisakan sedikit lebih dari 10 menit.

Baca Juga: Thomas Tuchel Diserang Kritik usai Inggris Tersingkir Dramatis, Begini Pembelaannya

Namun, mereka secara dramatis membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2.

Itu menjadi kali pertama dalam sejarah Piala Dunia sebuah tim mampu menang setelah tertinggal dua gol atau lebih pada fase selarut itu tanpa harus melalui perpanjangan waktu.

Berdasarkan data probabilitas kemenangan Opta, peluang Argentina untuk menang saat Cristian Romero memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2 hanya 0,6 persen.

Pada perempat final melawan Swiss, Argentina memang tidak sempat tertinggal. Namun, setelah Swiss menyamakan skor menjadi 1-1, mereka kembali berada dalam tekanan.

Situasi berubah ketika Breel Embolo menerima kartu kuning kedua akibat melakukan simulasi.

Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Argentina untuk memastikan kemenangan pada babak perpanjangan waktu.

Babak Pertama Berjalan Sangat Lambat

Di semifinal, Argentina bertemu rival lamanya, Inggris, yang juga beberapa kali menunjukkan kemampuan bangkit sepanjang turnamen.

Laga berlangsung sangat hati-hati. Bahkan, ini menjadi pertandingan Piala Dunia putra pertama sejak data dicatat pada 1966 yang tidak menghasilkan satu pun tembakan selama 30 menit pertama.

Hingga turun minum, total expected goals (xG) kedua tim hanya 0,08, angka terendah pada babak pertama pertandingan fase gugur Piala Dunia sejak pencatatan dimulai pada 1966.

Baca Juga: Mimpi 'Football's Coming Home' Kandas Lagi, Argentina Bungkam Inggris Lewat Gol Menit Akhir

Inggris Unggul, Argentina Bangkit

Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55 di Atlanta. Hingga saat itu, Argentina baru melepaskan lima tembakan dan terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan.

Namun, setelah kebobolan, permainan Argentina berubah drastis. Mereka menciptakan 10 tembakan tambahan dan terus menekan pertahanan Inggris.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel memilih pendekatan yang lebih defensif dengan memasukkan Ezri Konsa, Dan Burn, dan Nico O'Reilly menggantikan Anthony Gordon, Declan Rice, serta Reece James.

Keputusan tersebut membuat Argentina leluasa menguasai bola di sekitar kotak penalti Inggris.

 Tim asuhan Lionel Scaloni semakin percaya diri karena memiliki pengalaman membalikkan keadaan.

Scaloni kemudian memasukkan Nico González, Rodrigo De Paul, dan Lautaro Martínez. Ketiga pemain memberikan dampak besar, terutama Lautaro Martínez.

Messi Kembali Menjadi Pembeda

Enzo Fernández menyamakan kedudukan melalui tembakan spektakuler dari luar kotak penalti.

Kemudian, pada masa injury time, Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan lewat sundulan yang disambut perayaan meriah para pemain dan pendukung Argentina.

Sejak gol Anthony Gordon pada menit ke-55 hingga gol Lautaro Martínez pada menit ke-92, Argentina menguasai 88 persen penguasaan bola.

Baca Juga: Bursa Transfer: Liverpool Gaspol Kejar Bradley Barcola, Chelsea Dikaitkan dengan Mohamed Salah

Argentina juga mencatat rekor baru sebagai tim yang mampu menang pada waktu normal setelah masih tertinggal hingga menit ke-85 dalam laga semifinal Piala Dunia.

Lionel Messi Terus Menorehkan Rekor

Lionel Messi kembali menjadi arsitek kemenangan dengan menyumbang dua assist.

Sebelumnya, ia juga menjadi penggerak utama saat Argentina membalikkan keadaan melawan Mesir.

Meski tidak terlalu menonjol pada satu jam pertama pertandingan, Messi kembali menunjukkan kualitasnya ketika laga memasuki fase krusial.

Kini, pemain berusia 39 tahun itu telah mengoleksi 12 assist di Piala Dunia, unggul sedikitnya empat assist atas pemain lain mana pun dalam sejarah turnamen.

Messi juga kini selalu mencetak gol atau memberikan assist dalam 13 pertandingan beruntun bersama klub maupun tim nasional.

Catatan tersebut menjadi rekor terbaik kedua sepanjang karier seniornya setelah rentetan 14 pertandingan yang berakhir pada Maret 2011.

Spanyol Menanti

Kegagalan Inggris dipastikan akan menjadi bahan evaluasi besar. Namun, mereka harus mengakui ketangguhan tim Argentina yang berkali-kali menemukan cara untuk bertahan dan menang.

Pada final, Argentina akan menghadapi Spanyol yang sebelumnya menyingkirkan Prancis.

Spanyol juga menyamai rekor Italia dengan 37 pertandingan tak terkalahkan (28 menang, 9 imbang), menjadi rekor terpanjang bersama bagi negara Eropa.

Final Piala Dunia 2026 pun dipastikan menghadirkan duel dua tim dengan mental juara.

Namun, selama Lionel Messi masih memimpin Argentina di lapangan, mereka akan selalu menjadi tim yang tidak boleh diremehkan.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
la albiceleste lionel scolani argentina Piala Dunia 2026 lionel messi