RADAR SURABAYA – Selama 14 tahun menangani tim nasional Prancis, Didier Deschamps kerap menjadi sasaran kritik.
Ia dinilai terlalu pragmatis, lebih mengutamakan kontrol permainan, dan enggan memberi kebebasan penuh kepada deretan pemain menyerang berbakat yang dimiliki Les Bleus.
Menariknya, kritik tersebut seolah terbukti sekaligus terbantahkan pada Piala Dunia 2026.
Dalam turnamen terakhirnya sebagai pelatih Prancis, Deschamps mulai melonggarkan pendekatan taktis yang selama ini menjadi ciri khasnya. Hasilnya, Les Bleus tampil lebih atraktif dan produktif sepanjang turnamen.
Namun, saat menghadapi ujian sesungguhnya melawan Spanyol di semifinal, permainan terbuka justru menjadi bumerang.
Baca Juga: Hat-trick Kemenangan! Spanyol Kembali Bungkam Prancis, Melaju ke Final Piala Dunia 2026
Prancis kalah karena terlalu mudah dieksploitasi lawan. Dalam pertandingan sebesar itu, mereka justru membutuhkan sosok Deschamps yang konservatif—gaya yang selama bertahun-tahun dikritik publik Prancis.
Prancis Bermain Lebih Indah, tetapi Gagal Melaju ke Final
Piala Dunia 2026 menghadirkan paradoks bagi Prancis. Semakin menarik permainan yang mereka tampilkan, semakin besar pula pertanyaan mengenai delapan tahun setelah keberhasilan menjuarai Piala Dunia 2018.
Publik akhirnya melihat potensi sesungguhnya dari generasi emas Prancis yang dipenuhi pemain kreatif.
Selama ini, potensi tersebut dianggap tidak pernah benar-benar berkembang karena pendekatan Deschamps yang sangat berhati-hati.
Permainan menyerang yang diperlihatkan di Amerika Serikat bahkan sempat mengingatkan pada generasi emas Prancis era awal hingga pertengahan 1980-an.
Meski demikian, menyandingkan tim ini dengan Hungaria 1954, Belanda 1974, atau Brasil 1982 tentu masih berlebihan.
Namun, sebelum menang tipis 1-0 atas Paraguay pada babak 16 besar, perbandingan tersebut sempat terasa masuk akal.
Warisan Didier Deschamps Bersama Les Bleus
Terlepas dari kritik terhadap gaya bermainnya, pencapaian Didier Deschamps tetap luar biasa.
Selama 14 tahun memimpin Les Bleus, ia mempersembahkan satu gelar Piala Dunia, sekali menjadi finalis, serta sekali mencapai semifinal.
Di ajang Piala Eropa, Deschamps juga membawa Prancis tampil di final dan semifinal.
Mencapai empat besar dalam empat dari lima turnamen besar merupakan catatan yang sulit ditandingi banyak pelatih.
Namun, Deschamps juga menikmati kemewahan memiliki generasi demi generasi pemain bertalenta kelas dunia.
Karena itu, tidak sedikit yang menilai satu gelar juara dunia masih belum sebanding dengan kualitas skuad yang dimilikinya.
Dari sisi hasil ia sukses, tetapi dari sisi permainan banyak yang merasa Prancis belum pernah mencapai potensi maksimalnya.
Mengapa Deschamps Mengubah Filosofinya?
Selama ini Deschamps dikenal sebagai pelatih pragmatis yang tidak terpaku pada satu filosofi tertentu. Ia selalu menyesuaikan strategi dengan karakter pemain yang tersedia.
Karena itu, perubahan pendekatan di Piala Dunia 2026 terasa sangat mencolok.
Pada Piala Eropa 2024, Prancis tampil defensif dan lebih mengandalkan efektivitas, sementara Spanyol memikat lewat permainan berbasis penguasaan bola dan kecepatan di sektor sayap.
Dua tahun kemudian situasinya berbalik. Prancis justru bermain lebih menyerang, sedangkan Spanyol tampil lebih disiplin secara struktur, tetap mampu mengendalikan pertandingan meski kehilangan beberapa pemain sayap akibat cedera.
Kemenangan atas Prancis membuat Spanyol sukses menyingkirkan Les Bleus di semifinal dalam tiga turnamen beruntun jika menghitung UEFA Nations League.
Lini Tengah Menjadi Titik Lemah Prancis
Sejak awal turnamen, Prancis memiliki dua kelemahan utama, yakni lini tengah dan posisi bek kiri.
Ironisnya, kedua sektor tersebut berhadapan langsung dengan kekuatan terbesar Spanyol.
Gol pembuka Spanyol berasal dari penalti setelah Lamine Yamal memaksa Lucas Digne melakukan pelanggaran.
Namun, secara keseluruhan, momen itu merupakan hasil dominasi Spanyol di lini tengah.
Banyak pihak mempertanyakan keputusan Deschamps yang tetap menggunakan formasi 4-2-3-1, padahal menghadapi lawan sekelas Spanyol ia bisa saja beralih ke 4-3-3 dengan menambah satu gelandang.
Aurélien Tchouaméni dan Adrien Rabiot beberapa kali kalah jumlah di sektor tengah.
Ketika Rabiot tampil kurang maksimal dan sudah mengoleksi kartu kuning, Deschamps justru menariknya keluar tanpa lebih dahulu memperkuat lini tengah.
Muncul pertanyaan, apakah hasil pertandingan akan berbeda jika sejak awal Deschamps memainkan Tchouaméni, Rabiot,
dan Manu Koné secara bersamaan? Atau hanya menurunkan dua dari Michael Olise, Ousmane Dembélé, dan Bradley Barcola untuk mendampingi Kylian Mbappé?
Melihat minimnya kontribusi lini serang Prancis akibat sulit mendapatkan suplai bola, kemungkinan hasilnya tidak akan lebih buruk.
Filosofi Deschamps Justru Terbukti
Dominasi Spanyol di lini tengah membuat kuartet penyerang Prancis kesulitan mengembangkan permainan.
Sebaliknya, banyaknya pemain kreatif yang diturunkan membuat Les Bleus rapuh ketika kehilangan bola dan menghadapi serangan balik.
Ironisnya, kekalahan terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih Prancis justru menjadi pembenaran terbesar atas filosofi yang selama ini ia pegang. Bakat saja tidak pernah cukup untuk dipercaya tanpa keseimbangan taktik.(Jonathan Wilson/The Guardian)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan