RADAR SURABAYA – Setelah 101 pertandingan Piala Dunia 2026 digelar yang dituntaskan Spanyol dengan menyingkirkan Prancis, panggung kini mengerucut pada tiga laga terakhir.
Salah satunya adalah semifinal antara Argentina melawan Inggris di Stadion Atlanta, Kamis (16/7) pukul 02.00 WIB, yang dipandang sebagai salah satu duel terbesar dalam sejarah sepak bola internasional.
Laga ini bukan sekadar perebutan tiket ke final, melainkan juga menjadi babak penting dalam perjalanan karier Lionel Messi.
Kapten Argentina itu berpeluang membawa negaranya ke final Piala Dunia untuk ketiga kalinya,
atau justru mengakhiri petualangannya dengan kekalahan yang akan menguji besarnya cinta publik Argentina kepada sang legenda.
Jika dibandingkan dengan rivalitas klasik lain seperti Argentina versus Brasil, Jerman versus Belanda, atau Spanyol versus Prancis, duel Inggris kontra Argentina memiliki bobot emosional yang sangat besar.
Baca Juga: Hat-trick Kemenangan! Spanyol Kembali Bungkam Prancis, Melaju ke Final Piala Dunia 2026
Sejarah panjang, rivalitas politik, hingga kenangan di lapangan hijau menjadikan pertandingan ini sarat makna.
Salah satu latar belakang terbesar adalah sengketa Kepulauan Falkland (Malvinas). Bagi Argentina, perang Falkland pada 1982 masih menjadi luka sejarah yang membentuk identitas nasional mereka, termasuk dalam dunia sepak bola.
Sebaliknya, bagi banyak masyarakat Inggris, rivalitas ini lebih sering dipandang sebagai persaingan olahraga semata.
Di lapangan, kedua tim dinilai memiliki karakter yang hampir serupa. Inggris dan Argentina sama-sama mengandalkan pemain-pemain bintang, semangat juang tinggi, serta kemampuan bangkit dalam situasi sulit.
Pertandingan diperkirakan berlangsung penuh tensi, duel fisik, hingga potensi kontroversi yang melibatkan Video Assistant Referee (VAR).
Argentina juga dikenal memiliki sejumlah pemain yang tidak ragu terlibat dalam duel keras maupun adu psikologis.
Sementara itu, kiper Emiliano Martínez selalu menjadi ancaman tersendiri apabila laga harus ditentukan melalui adu penalti.
Lionel Messi Jadi Pusat Perhatian
Semifinal ini sekaligus menjadi babak penting dalam kisah karier Lionel Messi. Di usia 39 tahun, peraih delapan Ballon d'Or tersebut masih tampil luar biasa dan menjadi pusat perhatian sepanjang turnamen.
Baca Juga: ITS Produksi 10 Traktor Listrik Pesanan Mentan, Siap Diuji di Kalimantan untuk Lahan Gambut
Di Argentina, dukungan kepada Messi bahkan melampaui sekadar kecintaan kepada tim nasional.
Rekan-rekannya kerap memberikan penghormatan khusus di ruang ganti, sementara jutaan pendukung mengenakan jersey bernomor punggung 10 sebagai simbol penghormatan kepada sang kapten.
Banyak yang menilai Argentina seolah bermain bukan hanya demi negara, tetapi juga demi Messi.
Sosoknya telah menjadi simbol yang menyatukan bangsa sekaligus ikon sepak bola modern.
Muncul Teori Konspirasi
Popularitas Messi yang sangat besar turut memunculkan berbagai teori konspirasi.
Sebagian pihak menduga FIFA menginginkan Argentina terus melaju demi menjaga daya tarik turnamen, meski hingga kini tidak ada bukti yang mendukung anggapan tersebut.
Kecurigaan itu semakin berkembang setelah sebelumnya muncul pengakuan Presiden Amerika Serikat yang menyatakan pernah mencoba memengaruhi aturan turnamen.
Meski FIFA membantah adanya intervensi, pernyataan tersebut memicu keraguan sebagian publik terhadap transparansi penyelenggaraan Piala Dunia.
Rekor Messi Melawan Klub Inggris
Meski belum pernah menghadapi tim nasional Inggris, Messi memiliki pengalaman panjang melawan klub-klub Liga Inggris.
Sejak final Liga Champions 2009 (Barcelona vs Manchester United), Messi telah memainkan 26 pertandingan menghadapi klub Inggris dengan catatan 17 kemenangan, empat kekalahan, dan 27 gol.
Beberapa penampilan terbaiknya terjadi saat melawan Manchester City di Stadion Etihad dan Tottenham Hotspur di Stadion Wembley.
Namun, terdapat pula catatan yang bisa menjadi acuan bagi Inggris. Kekalahan Messi dari klub-klub Inggris umumnya terjadi saat menghadapi tim yang bermain dengan tempo tinggi,
melakukan tekanan agresif, serta tidak memberi ruang baginya untuk mengembangkan permainan.
Pendekatan seperti yang diperlihatkan Cape Verde saat menghadapi Argentina dinilai dapat menjadi referensi bagi Inggris untuk membatasi kreativitas Messi.
Inggris Punya Modal
Di kubu Inggris, Declan Rice diharapkan mampu menjadi motor permainan melalui kekuatan fisik dan mobilitasnya di lini tengah.
Harry Kane, yang telah mengoleksi enam gol di Piala Dunia 2026, juga diyakini berpeluang menjadi pembeda pada laga besar ini.
Sementara itu, Jude Bellingham kembali menjadi harapan utama. Gelandang muda tersebut dinilai memiliki karakter kuat, berani mengambil tanggung jawab,
dan tidak gentar menghadapi tekanan pertandingan sebesar semifinal Piala Dunia.
Pada akhirnya, duel Inggris kontra Argentina diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknik maupun strategi, melainkan juga oleh kekuatan mental, keberanian,
dan aura para pemain dalam menghadapi salah satu laga terbesar di panggung sepak bola dunia.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan