Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Prancis vs Spanyol: Sempat Dicemooh, Didier Deschamps Tinggal Selangkah Jadi Legenda Piala Dunia Usai Sulap Prancis Jadi Tim Menakutkan

Rahmat Adhy Kurniawan • Selasa, 14 Juli 2026 | 06:38 WIB
Didier Deschamps berhasil membawa Prancis yang tampil menyerang melaju ke semifinal Piala Dunia.(The Guardian/Kai Pfaffenbach/Reuters).
Didier Deschamps berhasil membawa Prancis yang tampil menyerang melaju ke semifinal Piala Dunia.(The Guardian/Kai Pfaffenbach/Reuters).

RADAR SURABAYA – Didier Deschamps membuktikan bahwa dirinya belum habis. Pelatih berusia 57 tahun itu berhasil mengubah wajah Timnas Prancis menjadi kekuatan paling menakutkan di Piala Dunia 2026.

Kini, Les Bleus hanya tinggal selangkah lagi menuju final dan membuka peluang mengukir sejarah sebagai negara juara dunia untuk kedua kalinya di bawah kepemimpinannya.

Laga semifinal melawan Spanyol di Dallas, Rabu (15/7) dini hari WIB, bukan sekadar perebutan tiket final.

Pertandingan tersebut menjadi ujian terbesar bagi proyek transformasi yang dibangun Deschamps sejak kegagalan menyakitkan di Euro 2024.

Saat itu, Prancis tersingkir dari Spanyol di semifinal. Permainan Les Bleus dinilai lamban, mudah ditebak, dan terlalu bergantung kepada Kylian Mbappe. 

Baca Juga: Prancis vs Spanyol: Sama-sama Tak Pernah Tertinggal di Piala Dunia 2026, Siapa Melaju ke Final?

Banyak pihak bahkan mendesak agar Deschamps mengakhiri masa baktinya setelah satu dekade menangani tim nasional dengan prestasi yang membanggakan. 

Pada 8 Juli 2012, Deschamps diangkat sebagai pelatih baru tim nasional Prancis.

Ia memimpin tim ke perempat final Piala Dunia FIFA 2014, final UEFA Euro 2016, kemenangan di Piala Dunia FIFA 2018, namun dianggap gagal ketika hanya sampai semifinal Euro 2024.

Setelah memenangkan Piala Dunia pada tahun 2018, Deschamps menjadi orang ketiga yang memenangkan Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih, bersama Mario Zagalo (Btaail) dan Franz Beckenbauer (Jerman). 

Setelah mereka berdua meninggal dunia dua hari terpisah pada Januari 2024, Deschamps menjadi satu-satunya orang yang masih hidup yang telah mencapai tonggak sejarah tersebut.

Didier Deschamps mengikuti jejak Beckenbauer sebagai orang kedua yang melakukannya sebagai kapten tim. 

Deschamps Ubah Filosofi Bermain Prancis

Sejak kekalahan dari Spanyol di Euro 2024, Deschamps melakukan perubahan besar. Pelatih yang selama ini dikenal

mengutamakan keseimbangan dan pragmatisme mulai mengadopsi permainan menyerang yang lebih agresif.

Ia mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 dengan empat pemain depan yang bergerak dinamis.

Kehadiran Michael Olise, Desire Doue, Ousmane Dembele, dan Kylian Mbappe membuat lini serang Prancis tampil eksplosif.

Transformasi tersebut mulai terlihat saat semifinal UEFA Nations League 2025 melawan Spanyol.

Baca Juga: Prediksi Prancis vs Spanyol: Chris Sutton Sebut Pemenang Laga Ini Akan Jadi Juara Piala Dunia 2026

Meski kalah 4-5, permainan Prancis menuai banyak pujian karena tampil jauh lebih atraktif dibanding sebelumnya.

Di Piala Dunia 2026, perubahan itu semakin matang. Prancis kini dikenal sebagai tim dengan serangan cepat, variasi permainan yang kaya, serta efektivitas tinggi di depan gawang.

Generasi Baru Prancis Bersinar

Keberhasilan Deschamps tidak hanya terletak pada perubahan taktik. Ia juga sukses membangun generasi baru setelah ditinggal sejumlah pemain senior seperti Hugo Lloris, Raphaal Varane, Olivier Giroud, dan Antoine Griezmann.

Michael Olise berkembang menjadi kreator serangan baru, sementara Desire Doue dan Bradley Barcola menghadirkan kecepatan serta kreativitas dari kedua sisi lapangan.

 Di lini depan, Ousmane Dembele tampil konsisten mendukung produktivitas Mbappe.

Perpaduan pemain muda dan senior membuat permainan Prancis lebih segar dibanding beberapa turnamen sebelumnya.

Hubungan Deschamps dan Mbappe Semakin Solid

Salah satu kunci sukses Prancis adalah hubungan erat antara Didier Deschamps dan kapten tim, Kylian Mbappe.

Mbappe tampil dengan motivasi tinggi untuk menebus kegagalan di final Piala Dunia 2022.

Seusai mencetak gol ke gawang Swedia pada babak 32 besar, ia langsung memeluk Deschamps sebagai bentuk penghormatan kepada sang pelatih.

Deschamps pun pernah mengatakan bahwa Mbappé datang ke turnamen ini dengan satu tujuan besar.

 "Saya sudah mengatakan sejak hari pertama, dia sedang menjalankan sebuah misi." Katanya dikutip The Guardian. 

Kebersamaan keduanya bahkan dibandingkan dengan hubungan Deschamps dan Aimé Jacquet saat membawa Prancis menjadi juara dunia pada 1998.

Semifinal Melawan Spanyol Jadi Penentu

Kini, tantangan terbesar sudah menanti. Spanyol datang sebagai salah satu tim terbaik di Piala Dunia 2026 dengan permainan kolektif yang impresif serta kreativitas Lamine Yamal.

Bagi Prancis, duel ini menjadi kesempatan membalas kekalahan di Euro 2024 sekaligus membuktikan bahwa transformasi yang dilakukan Deschamps benar-benar berhasil.

Apabila mampu mengantarkan Les Bleus menjadi juara dunia untuk kedua kalinya, Deschamps akan bergabung dalam daftar elite pelatih yang mampu memenangkan dua trofi Piala Dunia.

Keberhasilan tersebut akan menghapus berbagai kritik yang selama bertahun-tahun menyebut dirinya hanya beruntung memiliki banyak pemain berbakat.

Kini, Didier Deschamps tinggal membutuhkan dua kemenangan lagi untuk memastikan namanya dikenang sebagai salah satu pelatih terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.(rak) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
prancis vs Spanyol Prancis kylian mbappe Piala Dunia 2026 DIdier Deschamps