RADAR SURABAYA – Format baru Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 negara ternyata belum mampu mengubah peta kekuatan sepak bola dunia.
Memasuki babak perempat final, enam dari delapan tim yang tersisa berasal dari Eropa, satu dari Amerika Selatan, dan satu-satunya wakil Afrika adalah Maroko.
Komposisi tersebut kembali menegaskan dominasi Eropa dan Amerika Selatan di panggung sepak bola dunia.
Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, seluruh gelar juara hanya dimenangkan negara dari dua benua tersebut.
Dari 22 edisi sebelumnya, Eropa mengoleksi 12 gelar juara, sedangkan Amerika Selatan meraih 10 trofi.
Belum ada satu pun negara dari Afrika, Asia, Amerika Utara, maupun Oseania yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia.
Dengan komposisi perempat final saat ini, peluang lahirnya juara baru dari luar Eropa dan Amerika Selatan kembali bergantung pada Maroko.
Jika Singa Atlas gagal melangkah hingga juara, tradisi hampir satu abad itu akan kembali berlanjut.
Haaland Tak Menyangka Norwegia Cetak Sejarah
Salah satu kejutan terbesar Piala Dunia 2026 datang dari Norwegia. Tim Skandinavia itu sukses menyingkirkan Brasil berkat dua gol Erling Haaland dan untuk pertama kalinya dalam sejarah melaju ke perempat final Piala Dunia.
"Saya pikir beberapa hal itu tidak mungkin terjadi. Ternyata saya salah," ujar Haaland seusai pertandingan.
Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian terbaik Norwegia sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Tiga Tuan Rumah Kompak Tersingkir
Di sisi lain, hasil mengecewakan justru dialami tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Ketiganya sempat tampil impresif sejak fase grup hingga babak 32 besar dengan catatan gabungan sembilan kemenangan, dua hasil imbang, tanpa kekalahan. Mereka juga unggul selisih 20 gol atas lawan-lawannya.
Namun, langkah mereka terhenti serentak di babak 16 besar.
Meksiko kalah 2-3 dari Inggris, Amerika Serikat dibantai Belgia 1-4, sedangkan Kanada menyerah 0-3 kepada Maroko.
Kapten Amerika Serikat Christian Pulisic mengakui timnya masih memiliki pekerjaan rumah besar.
Baca Juga: Gol ke-3.000 Pecahkan Sejarah! Deretan Rekor Piala Dunia 1930–2026 yang Belum Pernah Terjadi
"Kami harus melewati level berikutnya. Tujuan kami adalah mampu bersaing dan mengalahkan tim-tim terbaik dunia. Kami belum sampai ke sana," ujar Pulisic.
Legenda Prancis Thierry Henry juga menyayangkan seluruh tuan rumah gagal mencapai perempat final.
"Level persaingan di fase gugur berbeda. Sangat disayangkan satu, dua, bahkan tiga tuan rumah langsung tersingkir. Itu bukan hal yang ingin dilihat dalam Piala Dunia," kata Henry.
CONCACAF Masih Sulit Tembus Delapan Besar
Kegagalan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memperpanjang puasa wakil CONCACAF di babak perempat final.
Terakhir kali kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia memiliki wakil di delapan besar adalah Kosta Rika pada Piala Dunia 2014.
Amerika Serikat terakhir mencapai perempat final pada 2002, sedangkan Kanada belum pernah melangkah lebih jauh dari babak 16 besar.
Meksiko sendiri tampil dalam sembilan edisi Piala Dunia secara beruntun, tetapi delapan kali kandas di babak 16 besar.
"Semua pemain sudah memberikan kemampuan terbaik. Namun, pada akhirnya itu belum cukup," ujar gelandang Meksiko Erik Lira.
Maroko Menjaga Asa Afrika
Kini seluruh harapan Afrika berada di pundak Maroko.
Padahal, benua Afrika sempat menunjukkan perkembangan signifikan. Dari 10 wakil yang tampil di Piala Dunia 2026, sembilan berhasil lolos ke babak 32 besar.
Sayangnya, sebagian besar tersingkir secara dramatis.
Pantai Gading, Afrika Selatan, dan Kongo kebobolan gol penentu setelah menit ke-86. Sementara perjalanan sensasional Tanjung Verde berakhir akibat gol bunuh diri pada menit ke-111 saat menghadapi Argentina.
Senegal dan Mesir bahkan sempat unggul 2-0 sebelum akhirnya kalah 2-3 dari Belgia dan Argentina.
Pelatih Mesir Hossam Hassan mengkritik keputusan wasit setelah timnya tersingkir.
"Mungkin mereka ingin juara bertahan tetap berada di turnamen. Mungkin mereka ingin Messi tetap bertahan," ujarnya.
Argentina Kembali Andalkan Mental Juara
Terlepas dari kontroversi tersebut, Argentina kembali menunjukkan mental juara. Tim asuhan Lionel Scaloni sukses bangkit dari ketertinggalan dua gol sebelum menyingkirkan Mesir.
Hasil itu membawa Lionel Messi dan kolega mencapai perempat final untuk kelima kalinya dalam enam edisi Piala Dunia terakhir.
"Tidak mudah bangkit setelah tertinggal 0-2 di pertandingan gugur Piala Dunia. Saat ini setiap pertandingan sangat ketat. Namun, syukurlah kami mampu melakukannya sekali lagi," kata Messi.
Dengan delapan tim terbaik yang kini tersisa, Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa dominasi Eropa dan Amerika Selatan masih sangat sulit dipatahkan.
Maroko menjadi satu-satunya tim yang berpeluang mengubah sejarah dan menghadirkan juara dunia pertama dari Afrika.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan