RADAR SURABAYA – Ambisi panjang Jepang untuk merebut Piala Dunia yang semula ditargetkan terwujud pada 2092, kini diuji lebih awal oleh raksasa sepak bola dunia, Brasil, dalam lanjutan babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Laga sengit ini akan berlangsung di Houston Stadium, Senin (29/6) pukul 24.00 WIB, dan menjadi penentu apakah mimpi Samurai Biru akan terus hidup atau kandas di hadapan kekuatan Samba.
Ambisi 100 Tahun Jepang dan Skuad Samurai Biru yang Terganggu Cedera
Pada 1992, Jepang mengguncang dunia sepak bola dengan mengumumkan target menjuarai Piala Dunia pada 2092. Target itu kemudian dimajukan menjadi 2050 setelah negeri Sakura meluncurkan program "Visi 100 Tahun". Namun, generasi emas Piala Dunia 2026 ini menolak menunggu hingga pertengahan abad mendatang.
"Kami sungguh ingin menjuarai Piala Dunia ini (Piala Dunia 2026)," tegas gelandang andalan Jepang, Daichi Kamada, usai timnya menaklukkan Tunisia 4-0 di fase grup. Kamada, yang menjadi mesin umpan utama Jepang sejauh ini, bukan satu-satunya penggawa yang haus gelar. Pelatih Hajime Moriyasu pun menyatakan ambisi serupa.
Sayangnya, langkah Samurai Biru yang lolos sebagai runner-up Grup F dengan raihan satu kemenangan dan dua imbang, harus menghadapi ujian terberat. Trio pilar Jepang, Wataru Endo, Kaoru Mitoma, dan Takumi Minamino, dipastikan absen akibat cedera, mengikis kekuatan lini tengah dan serangan mereka.
Ancaman Nyata Brasil: Dari Filosofi Ancelotti hingga Bahaya Vinicius Junior
Di sisi lain, Brasil datang dengan nafsu membara. Tim Samba sudah 24 tahun tidak merasakan gelar juara dunia, dan rasa haus itu membuat mereka sampai "melanggar tabu" dengan merekrut pelatih asing, Carlo Ancelotti.
Ancelotti, yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin dan bergaransi juara, sukses mengubah wajah Brasil. Meski belum pernah menangani timnas (kecuali sebagai asisten Italia di Piala Dunia 1994), pengalaman emasnya di klub-klub top Eropa—AC Milan, Chelsea, PSG, dan Real Madrid—membawa standar juara ke skuad Samba.
Filosofi Ancelotti yang fleksibel dan memberi ruang kreativitas pemain berpadu apik dengan Jogo Bonito. Hasilnya? Brasil menjadi tim dengan salah satu lini serang paling produktif di Piala Dunia 2026, menciptakan 40 peluang dengan 18 tepat sasaran. Angka ini jauh di atas Jepang yang hanya membuat 27 peluang dan 9 on target.
Vinicius Junior: Mimpi Buruk Lini Belakang Jepang
Salah satu senjata paling mematikan Brasil adalah Vinicius Junior. Pemain sayap kiri ini telah mencetak empat gol di Piala Dunia 2026 dan menjadi pemain Brasil paling kreatif dalam menciptakan peluang, paling sering menerima umpan, dan paling agresif dalam menekan lawan.
Bersama Matheus Cunha, Neymar, dan Raphinha, Vinicius akan menjadi "predator" bagi formasi 3-4-3 andalan Jepang. Trio bek tengah pimpinan Hiroki Ito akan menghadapi ujian paling berat: menghentikan kecepatan dan kelincahan Vinicius yang telah diasah Ancelotti sejak di Real Madrid.
Duel Taktik: 3-4-3 Jepang vs 4 Bek Konsisten Brasil
Meski dikenal ofensif, Ancelotti tidak melupakan pertahanan. Ia memiliki dua stopper kelas dunia: Gabriel Magalhães (pilar Arsenal yang kembali juara Liga Inggris) dan Marquinhos (fondasi sukses PSG di Liga Champions). Gabriel bahkan menjadi pemain Brasil dengan umpan terbanyak (260 umpan) dan paling efektif dalam membangun serangan dari belakang.
Bersama Danilo dan Douglas Santos di sisi sayap, serta kiper Alisson Becker di bawah mistar, benteng Brasil terlihat kokoh. Sementara itu, Jepang setia pada skema 3-4-3.
Ayase Ueda menjadi ujung tombak utama, sementara duet Keito Nakamura dan Daichi Kamada akan memimpin lini tengah beradu dengan Casemiro, gelandang kaya pengalaman yang menjadi motor permainan Samba.
Satu hal yang menarik: Brasil di fase grup kerap berganti formasi serang (dari satu hingga tiga penyerang), namun lini belakang mereka tetap patuh pada formasi empat bek. Inilah celah sekaligus tantangan bagi Moriyasu untuk membaca gerak-gerik Samba.
Prediksi dan Daya Tarik Laga: Ambisi vs Tradisi
Duel ini bukan sekadar adu strategi, melainkan pertemuan dua filosofi menyerang. Brasil membawa tradisi Jogo Bonito yang dikawal oleh maestro taktik Ancelotti, sementara Jepang membawa semangat pantang menyerah dan ambisi 100 tahun yang dipercepat.
Kemenangan di laga ini akan membawa pemenang selangkah lebih dekat ke perempat final, di mana Argentina (juara dunia bertahan) sudah menanti. Ini adalah laga dengan spektrum penuh: adu ambisi, duel sengit antarlini, dan pertaruhan sejarah. (rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan