Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Uang Melimpah Tak Cukup! Arab Saudi dan Qatar Gagal Total di Piala Dunia 2026, Apa Penyebabnya?

Rahmat Adhy Kurniawan • Senin, 29 Juni 2026 | 05:49 WIB
Pemain Arab Saudi kecewa usai bermain lawan Cape Verde. (The Guardian)
Pemain Arab Saudi kecewa usai bermain lawan Cape Verde. (The Guardian)

RADAR SURABAYA – Arab Saudi dan Qatar kembali harus menelan kekecewaan di Piala Dunia 2026.

Meski telah menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun sepak bola, kedua negara gagal melangkah ke babak gugur.

Kegagalan tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan finansial tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi di lapangan.

Arab Saudi, Qatar, Iran, dan Irak sama-sama tersingkir lebih awal, sementara negara-negara Afrika justru tampil impresif dengan sembilan dari sepuluh wakil berhasil menembus babak 32 besar.

Arab Saudi mengakhiri fase grup sebagai juru kunci setelah bermain imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde (Cape Verde).

Hasil itu membuat Green Falcons kembali gagal lolos dari fase grup untuk keenam kalinya secara beruntun sejak 1994.

Baca Juga: Kanada Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026! Gol Dramatis Stephen Eustaquio Hancurkan Mimpi Afrika Selatan

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir Arab Saudi menjadi sorotan dunia setelah mendatangkan pemain-pemain elite seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Neymar ke Liga Pro Saudi.

Namun, investasi besar di level klub belum mampu mengangkat performa tim nasional, bahkan ketika negara tersebut bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.

"Kami tidak mendapatkan hasil yang kami inginkan. Ketika menghadapi tim yang levelnya hampir sama dengan kami, performa kami tidak bagus.

 Hal itu tentu menjadi perhatian," ujar pelatih Arab Saudi, Georgios Donis dikutip The Guardian. 

Qatar Juga Kembali Tersingkir

Qatar sedikit mencatat sejarah dengan meraih poin pertamanya di Piala Dunia setelah bermain imbang melawan Swiss melalui gol penyama kedudukan pada menit-menit akhir.

Meski demikian, pencapaian tersebut belum cukup membawa mereka ke fase gugur.

Qatar kembali tersingkir di babak grup, mengulang kegagalan saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Pelatih Julen Lopetegui menilai timnya sudah menunjukkan perkembangan.

Baca Juga: Inggris vs RD Kongo: Jordan Pickford Tegaskan Inggris Tak Mau Adu Penalti di Piala Dunia 2026

"Saya pikir kami telah membuktikan bahwa kami mampu bersaing dalam pertandingan seperti ini," kata mantan pelatih Spanyol dan Real Madrid tersebut.

Berbeda dengan Arab Saudi, Qatar tidak mengandalkan perekrutan pemain bintang dunia untuk liga domestiknya.

 Negara berpenduduk sekitar tiga juta jiwa itu lebih fokus membangun pemain lokal melalui akademi sepak bola.

Strategi tersebut sempat membuahkan hasil dengan keberhasilan Qatar menjuarai Piala Asia dua kali berturut-turut. Namun, prestasi itu belum mampu diterjemahkan di ajang Piala Dunia.

Arab Saudi Fokus Menuju Piala Dunia 2034

Kini Arab Saudi mulai mengalihkan perhatian pada pengembangan pemain muda menjelang Piala Dunia 2034.

Perekrutan pemain asing papan atas mulai berkurang. Sejumlah nama besar, termasuk Neymar, telah meninggalkan Liga Pro Saudi.

Pemerintah Arab Saudi juga memperkuat pembinaan usia dini dengan merekrut mantan Direktur Olahraga Federasi Sepak Bola Amerika Serikat, Matt Crocker, untuk memimpin pengembangan talenta muda.

Investasi di sektor pembinaan disebut meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Donis menilai kehadiran pemain-pemain kelas dunia memang membuat kompetisi domestik semakin kompetitif.

 Namun, menurutnya, tim nasional membutuhkan pengalaman dan mentalitas yang berbeda.

"Semakin kompetitif liga kami, semakin baik perkembangan pemain. Namun, bermain untuk tim nasional membutuhkan pengalaman dan mentalitas yang kuat," ujarnya.

Iran dan Irak Belum Mampu Berbicara Banyak

Iran, yang telah tampil di Piala Dunia sejak 1978, kembali gagal melampaui fase grup. Persiapan mereka terganggu akibat situasi

geopolitik dan perang dengan Amerika Serikat, meski hanya terpaut tipis dari tiket ke babak gugur setelah meraih tiga hasil imbang.

Irak juga belum mampu mencetak sejarah. Dalam dua penampilan di Piala Dunia yang terpaut 40 tahun, mereka belum pernah lolos dari fase grup.

Format baru Piala Dunia dengan 48 peserta memang memberi kesempatan lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk tampil.

Namun, hingga Piala Dunia 2026 berakhir bagi mereka, negara-negara Teluk masih harus bekerja keras agar investasi besar yang telah digelontorkan benar-benar menghasilkan prestasi di panggung sepak bola dunia.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#arab saudi #Piala Dunia 2026 #Pembinaan #Qatar