Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jepang dan Maroko Siap Guncang Dominasi Brasil dan Belanda, Era Baru Piala Dunia 2026 di Depan Mata?

Rahmat Adhy Kurniawan • Minggu, 28 Juni 2026 | 05:19 WIB
Gol Daizen Maeda ke gawang Swedia pada fase grup menjadi salah satu contoh filosofi permainan Jepang yang semakin matang. (BBC)
Gol Daizen Maeda ke gawang Swedia pada fase grup menjadi salah satu contoh filosofi permainan Jepang yang semakin matang. (BBC)

RADAR SURABAYA- Piala Dunia 2026 menghadirkan harapan baru bagi negara-negara di luar Eropa dan Amerika Selatan.

Jepang dan Maroko kini menjadi dua tim yang diyakini memiliki peluang terbesar untuk mengakhiri dominasi kekuatan tradisional sepak bola dunia saat memasuki babak 32 besar.

Pada Selasa (30/6) sini hari WIB, Jepang dijadwalkan menghadapi Brasil, sedangkan Maroko akan berduel melawan Belanda.

 Dua pertandingan ini dipandang sebagai ujian sesungguhnya bagi kebangkitan sepak bola Asia dan Afrika.

Dominasi Juara Dunia Belum Terpatahkan

Meski format Piala Dunia terus berubah, mulai dari penambahan jumlah peserta hingga penyelenggaraan di berbagai benua, daftar juaranya nyaris tidak bergeser.

Sejak Argentina menjadi juara pada 1978, hanya dua negara baru yang berhasil meraih trofi, yakni Prancis (1998 dan 2018) dan Spanyol (2010).

 Keduanya sukses berkat sistem pembinaan pemain muda yang modern dan berkelanjutan, yang kemudian menjadi acuan banyak negara.

Dominasi negara-negara Eropa Barat dan Amerika Selatan pun masih bertahan hingga kini.

Jepang dan Maroko Jadi Simbol Kebangkitan

Harapan muncul setelah Kamerun mencapai perempat final Piala Dunia 1990, kemudian Nigeria dan Kamerun meraih medali emas Olimpiade pada 1996 dan 2000.

Kini, Jepang dan Maroko dinilai sebagai wakil paling siap untuk melangkah lebih jauh.

Maroko telah membuktikan kualitasnya dengan menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada edisi 2022 di Qatar.

Sementara Jepang terus menunjukkan perkembangan signifikan berkat fondasi kompetisi domestik J.League dan sistem pembinaan pemain yang konsisten.

Achraf Hakimi.
Achraf Hakimi. (The Guardian) 

Maroko Petik Hasil Investasi Jangka Panjang dan Pemain Diaspora

Keberhasilan Maroko tidak hanya ditopang pemain diaspora yang berkembang di akademi-akademi Eropa.

Dari 26 pemain dalam skuad saat ini, sebanyak 19 lahir di luar Maroko, termasuk tiga pemain yang lahir di Belanda.

Federasi sepak bola Maroko juga membangun Akademi Mohammed VI di dekat Rabat sebagai pusat pengembangan talenta. 

Program tersebut kini telah diperluas ke beberapa kota lain dan mulai menghasilkan pemain-pemain berkualitas untuk tim nasional.

Investasi tersebut diyakini akan membuat Maroko semakin kompetitif dalam beberapa tahun ke depan.

Jepang Tampil dengan Identitas Permainan Kuat

Berbeda dengan Maroko, Jepang tidak menghadapi kendala finansial. Berdirinya J.League pada 1992 menjadi fondasi penting dalam perkembangan sepak bola Negeri Sakura.

Sebagian besar pemain terbaik Jepang memang melanjutkan karier di Eropa. Dari skuad saat ini, hanya tiga pemain yang masih berkompetisi di liga domestik.

Di bawah asuhan Hajime Moriyasu selama delapan tahun terakhir, Jepang membangun identitas permainan yang khas.

 Mereka mengandalkan tekanan kolektif, penguasaan bola yang rapi, dan permainan teknis yang disiplin.

Gol Daizen Maeda ke gawang Swedia pada fase grup menjadi salah satu contoh filosofi permainan Jepang yang semakin matang.

Brasil dan Belanda Tetap Favorit

Maroko diprediksi harus menemukan cara menghentikan ketajaman Brian Brobbey sekaligus memutus suplai bola kepadanya.

Duel antara Achraf Hakimi dan Cody Gakpo diyakini menjadi salah satu pertarungan paling menentukan dalam laga tersebut.

Sementara itu, Jepang berusaha mematahkan kutukan karena belum pernah memenangkan pertandingan fase gugur Piala Dunia.

 Faktor mental menjadi tantangan tersendiri, meski kemenangan dramatis 3-2 atas Brasil dalam laga persahabatan di Tokyo pada Oktober lalu bisa menjadi suntikan kepercayaan diri.

Brasil asuhan Carlo Ancelotti masih dihuni banyak pemain kelas dunia meski dinilai memiliki sejumlah kelemahan.

Vinícius Júnior tetap menjadi ancaman utama, sedangkan Jepang berharap Takefusa Kubo yang pulih dari cedera lutut dapat menambah kreativitas di lini serang.

Kesempatan Mengubah Sejarah

Dua pertandingan tersebut bisa saja kembali dimenangkan oleh Brasil dan Belanda sehingga harapan munculnya juara baru dari luar Eropa dan Amerika Selatan kembali tertunda.

Namun, fakta bahwa Jepang dan Maroko kini dipandang sebagai penantang serius menunjukkan perubahan besar dalam peta sepak bola dunia. 

Jika era baru benar-benar akan lahir, perubahan itu tampaknya tidak terjadi karena kebijakan politik FIFA, melainkan melalui

keberhasilan negara-negara berkembang membangun sistem pembinaan yang mampu bersaing dengan kekuatan tradisional Eropa.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#kekuatan tradisional #maroko #Piala Dunia 2026 #jepang