RADAR SURABAYA – Lionel Messi kembali menorehkan sejarah. Pada usia 38 tahun, kapten tim nasional Argentina itu resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang
masa di Piala Dunia setelah mencetak dua gol dalam kemenangan 2-0 atas Austria pada laga fase grup Piala Dunia 2026.
Meski sempat gagal mengeksekusi penalti, Messi akhirnya mampu melampaui rekor yang sebelumnya dipegang striker Jerman, Miroslav Klose.
Dua gol yang dicetaknya membuat sang megabintang kini berdiri sendiri di puncak daftar pencetak gol sepanjang sejarah turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Momen bersejarah itu nyaris hadir lebih cepat. Pada awal pertandingan, Messi mendapatkan kesempatan emas melalui tendangan penalti.
Dengan tenang ia melangkah menuju titik putih, tetapi tembakannya justru melenceng dari sasaran.
Kegagalan tersebut terasa berbeda dibandingkan penalti-penalti yang pernah ia lewatkan sepanjang kariernya.
Di luar lapangan, Messi tengah menghadapi situasi pribadi yang tidak mudah terkait kondisi kesehatan ayahnya, Jorge Messi.
Baca Juga: Lionel Messi Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia, Argentina Pastikan Tiket ke Babak Gugur
Pekan lalu, keluarga Messi mengeluarkan pernyataan bahwa Jorge Messi sedang mengalami masalah kesehatan.
Kabar itu memicu berbagai spekulasi di Argentina, bahkan seorang presenter televisi mengundurkan diri setelah secara keliru melaporkan bahwa ayah Messi telah meninggal dunia.
Jorge Messi bukan hanya seorang ayah bagi Lionel Messi. Ia merupakan pelatih pertama, orang kepercayaan, sekaligus agen yang mendampingi perjalanan karier sang bintang selama lebih dari dua dekade.
Sempat Frustrasi, Messi Akhirnya Pecahkan Rekor
Setelah gagal dari titik penalti, Messi kembali mendekati rekor tersebut sekitar 15 menit kemudian.
Ia melakukan aksi individu brilian di dalam kotak penalti, tetapi upaya akhirnya berhasil disapu tepat di garis gawang.
Beberapa saat kemudian, Messi kembali kehilangan bola. Dalam 30 menit pertama, ia terlihat lebih banyak berjalan dan sesekali terlibat dalam permainan.
Austria tampil cukup agresif sehingga muncul pertanyaan apakah hari itu bukan milik Messi.
Namun seperti yang sering terjadi sepanjang kariernya, Messi selalu menemukan caranya sendiri.
Pada menit ke-38, ia menerima bola di ruang favoritnya di luar kotak penalti. Memanfaatkan gerakan tipu Thiago Almada, Messi melepaskan tembakan akurat yang tak mampu dihentikan kiper Austria.
Baca Juga: Kylian Mbappe di Ambang Sejarah! 100 Caps dan Rekor Dunia Siap Tumbang di Laga Prancis vs Irak
Gol itu langsung disambut ledakan emosi. Messi berlari menuju sudut lapangan sambil berteriak keras.
Jika selebrasi hattrick yang ia ciptakan beberapa hari sebelumnya penuh kegembiraan, kali ini ekspresinya terlihat lebih emosional dan penuh luapan perasaan.
Gol kedua lahir pada penghujung pertandingan. Memasuki menit terakhir masa tambahan waktu, Messi mengirim umpan matang kepada Julián Álvarez di kotak penalti.
Upaya Álvarez gagal berbuah gol, tetapi bola rebound kembali mengarah kepada Messi.
Meski sempat diblok para pemain bertahan Austria, Messi terus berjuang. Dalam posisi hampir terjatuh, ia akhirnya berhasil menyarangkan bola dari jarak dekat dan memastikan kemenangan Argentina.
Dilindungi Rekan Setim Layaknya Harta Nasional
Banyak pihak membicarakan perlakuan istimewa yang dianggap diterima Messi dari wasit maupun lawan.
Namun yang jarang dibahas adalah perlindungan yang diberikan rekan-rekannya sendiri.
Bagi Argentina, Messi bukan sekadar pemain bintang. Ia diperlakukan layaknya harta nasional yang harus dijaga.
Kiper Emiliano Martínez bahkan pernah mengatakan bahwa dirinya siap "mati di bawah mistar" demi sang kapten.
Bek Nicolás Otamendi mengabadikan wajah Messi dalam sebuah tato setelah Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sementara itu, gelandang Rodrigo De Paul memilih bergabung dengan Inter Miami agar dapat kembali bermain bersama Messi pada fase akhir karier sang legenda.
Pemain-pemain muda Argentina pun menunjukkan kekaguman yang besar terhadap kapten mereka.
Banyak di antara mereka yang mengaku ingin mempersembahkan gelar juara dunia sebagai hadiah perpisahan terbaik bagi Messi.
Dukungan Penuh dari Lionel Scaloni
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, juga memberikan dukungan penuh kepada Messi. Dalam konferensi pers menjelang pertandingan, Scaloni terlihat kesal ketika seorang jurnalis menanyakan kabar terkait rumor meninggalnya Jorge Messi.
"Apakah konferensi pers benar-benar harus dimulai dengan pertanyaan seperti itu?" kata Scaloni.
"Kami baik-baik saja dan siap menghadapi pertandingan besok," tambahnya sebelum meminta pertanyaan berikutnya.
Baca Juga: Argentina vs Austria: Maradona Menangis di Dallas, Messi Ingin Membuat Argentina Tersenyum
Cinta Suporter Argentina untuk Messi
Dukungan terhadap Messi juga terlihat jelas di Dallas. Nama sang kapten sudah diteriakkan para suporter Argentina sejak beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.
Wajah Messi menghiasi ratusan bendera yang dibawa penggemar dari berbagai provinsi di Argentina. Setiap kali gambarnya muncul di layar stadion, sorak-sorai langsung menggema.
Suporter Argentina memang dikenal sebagai salah satu yang paling fanatik dan bersemangat di dunia. Namun pada pertandingan kali ini, dukungan mereka terasa berbeda.
Bukan hanya merayakan seorang idola, mereka juga berusaha menguatkan Messi di tengah situasi pribadi yang sedang dihadapinya.
Dan pada akhirnya, di tengah sorakan puluhan ribu pendukung, Lionel Messi kembali membuktikan dirinya sebagai sosok istimewa.
Rekor baru tercipta, sejarah kembali ditulis, dan sang legenda kini berdiri sendirian di puncak daftar pencetak gol sepanjang masa Piala Dunia.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan