Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jerman vs Pantai Gading: Ini Kekuatan Baru Der Panzer Jerman: 8 Pemain Berdarah Afrika

Rahmat Adhy Kurniawan • Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:46 WIB
Beberapa pemain kunci Jerman — Jonathan Tah, Leroy Sané, dan Antonio Rüdiger — memiliki akar keturunan Afrika.(DW/Hirnschal/osnapix/IMAGO).
Beberapa pemain kunci Jerman — Jonathan Tah, Leroy Sané, dan Antonio Rüdiger — memiliki akar keturunan Afrika.(DW/Hirnschal/osnapix/IMAGO).

RADAR SURABAYA-Skuad Der Panzer Jerman di Piala Dunia 2026 menyimpan cerita menarik di luar lapangan. 

Delapan pemain yang memiliki akar keluarga dari berbagai negara Afrika menjadi bagian penting Die Mannschaft,

menunjukkan bagaimana keberagaman kini menjadi salah satu kekuatan utama Jerman dalam persaingan menuju gelar juara dunia.

Kehadiran para pemain berdarah Afrika tersebut menjadi salah satu cerita menarik di balik persiapan Jerman menghadapi turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Di tengah sorotan terhadap kembalinya kiper senior Manuel Neuer, keberagaman skuad asuhan Julian Nagelsmann juga mendapat perhatian luas.

Delapan dari 26 pemain yang memperkuat Jerman di Piala Dunia 2026 memiliki akar keluarga dari Afrika.

Baca Juga: Belanda vs Swedia Piala Dunia 2026: Mengenang Lahirnya Cruyff Turn yang Legendaris

Mereka adalah Jonathan Tah (ayah Pantai Gading), Antonio Rudiger (ibu Sierra Leone), Leroy Sane (ayah Senegal), Felix Nmecha dan Jamal Musiala (ayah Nigeria), Assan Ouedraogo (kedua orang tuanya berasal dari Burkina Faso), Malick Thiaw (ayah Senegal), serta Jamie Leweling (ayah Ghana).

Bahkan, dalam kurun satu tahun terakhir, terdapat 17 pemain berdarah Afrika yang pernah dipanggil memperkuat tim nasional Jerman.

Fenomena tersebut menunjukkan kuatnya hubungan sepak bola Jerman dengan komunitas diaspora Afrika.

Keberagaman Jadi Kekuatan Timnas Jerman

Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Annalena Baerbock, menilai keberagaman dalam skuad Jerman mencerminkan perubahan positif dalam dunia sepak bola dan masyarakat Jerman secara umum.

"Hari ini kami memiliki keberagaman yang luar biasa dalam tim. Ini melambangkan generasi baru pemain Jerman. Hal seperti ini tidak selalu terjadi pada masa lalu," ujar Baerbock kepada DW.com.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi bukti pentingnya kampanye antirasisme yang selama ini dijalankan berbagai pihak.

"Tim nasional juga merupakan cerminan masyarakat," tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan penulis sekaligus podcaster sepak bola Musa Okwonga.

Baca Juga: Jerman vs Pantai Gading: Duel Pemuncak Grup E, Der Panzer Dibayangi Ancaman Kejutan Afrika

 Ia menilai keberagaman skuad Jerman memiliki makna penting di tengah meningkatnya perdebatan mengenai isu imigrasi dan identitas nasional di negara tersebut.

Menurut Okwonga, keberhasilan para pemain dengan latar belakang berbeda menunjukkan bahwa Jerman mampu menjadi rumah bagi masyarakat dari berbagai budaya.

DFB Sebut Keberagaman Memberi Nilai Tambah

Direktur Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Andreas Rettig, mengatakan keputusan para pemain membela Jerman lebih didasarkan pada keyakinan pribadi dibanding pertimbangan peluang meraih prestasi olahraga.

"Kami senang melihat komitmen mereka untuk membela Jerman sejak awal," kata Rettig.

Ia menambahkan bahwa keberagaman terbukti memberikan dampak positif dalam berbagai sektor, termasuk sepak bola.

"Kami mengetahui dari dunia bisnis bahwa tim yang beragam, baik dari sisi usia, kebangsaan, maupun latar belakang, sering kali menghasilkan hasil yang lebih baik. Karena itu kami senang memiliki keberagaman dalam tim ini," ujarnya.

Pemain Berdarah Afrika Tetap Menjaga Akar Budaya

Sejumlah pemain Jerman juga tetap menjaga hubungan dengan negara asal keluarganya. Jonathan Tah, misalnya, mengunjungi Pantai Gading pada 2025 untuk pertama kalinya sejak usia remaja.

Sementara itu, Antonio Rudiger mendirikan yayasan sosial di Sierra Leone sebagai bentuk kepedulian terhadap negara asal ibunya.

Hubungan tersebut menunjukkan bahwa identitas ganda tidak menjadi hambatan bagi para pemain untuk tetap bangga membela Jerman sekaligus menghargai akar budaya keluarga mereka.

Nagelsmann Tegas Tolak Rasisme

Sebelum Euro 2024, pelatih Julian Nagelsmann sempat menanggapi hasil survei yang menunjukkan sebagian responden menginginkan lebih banyak pemain berkulit putih di tim nasional Jerman.

Nagelsmann menegaskan bahwa tim nasional harus menjadi contoh persatuan lintas budaya, agama, dan warna kulit.

"Siapa pun yang memiliki kualitas sepak bola terbaik berhak menjadi bagian dari tim nasional," tegasnya.

Meski perkembangan positif terus terlihat, kasus rasisme masih menjadi tantangan di sepak bola Jerman.

Pada 2023, dua pemain muda berdarah Afrika menjadi sasaran komentar rasis di media sosial setelah gagal mengeksekusi penalti.

Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Persatuan

Jerman memang bukan favorit utama untuk menjuarai Piala Dunia 2026. Namun, keberadaan skuad multietnis ini telah menghadirkan pesan kuat tentang inklusivitas dan persatuan.

Bagi banyak pihak, keberagaman yang ditampilkan Timnas Jerman menjadi bukti bahwa sepak bola mampu menyatukan berbagai latar belakang budaya dalam satu tujuan yang sama.

Apapun hasil yang diraih di Piala Dunia 2026, skuad Die Mannschaft telah menjadi simbol perubahan wajah sepak bola Jerman yang semakin terbuka, inklusif, dan mencerminkan realitas masyarakat modern.

Dan ini menjadi sangat menarik menjelang laga lawan Pantai Gading, terutama center back utama Der Panzer, Jonathan Tah, yang ayahnya berasal dari Pantai Gading.(rak) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#jerman vs pantai gading #jerman #Piala Dunia 2026 #afrika #Der Panzer